Monday, December 3, 2012

puisi












Sungguh lama ketika aku harus menanti
Kekasih sejati…
Yangkan: menggubahku menjadi nyanyian cinta
Yangkan: menjadikanku, irama ketulusan
Maka, kutempa batinku: layaknya gamelan
…Mungkin? Sebagai nayagan ia akan datang

Begitu lamanya? Saat aku tengah menanti
Si-pujaan hati…
Yang paling bidadari
Dimana akan tumbuh, sebuah rasa yang paling hayati

Ingin kudengar gending itu!
Sedari fajar hingga berakhir sang malam
Ingin, … kudengar langgam itu!
Sambil menyulut matahari, hingga kedasar malam

2004


 



Ini kerinduanku…
Yang hadir dalam wujud…
Rangkaian kata, tersebab…disini pulalah aku
Telah membuat barisan rindu
‘Yang takkan terusik apapun’

Aku telah menjadi padang: bagi…
Perjalanan tanpa tepian
Dan semua kurangkum pada senja dibulan ini…
menjadi hari…‘tercatat dalam selembar cakrawala’

“Pun, kenyataan:
Ku ingin  disana”

Ini kerinduanku…yang kurasakan
Disemua waktu
(Sedari fajar hingga berakhir sang malam)
Ini kerinduanku..
Pada seorang gadis berparas cinderella.
Dan aku ingin menjadi sossok pangeraannya,
Yang kemudian menemukan sebelah sepatu kacanya…
Yang jatuh, ketika waktu nyaris merubah keretanya…
Menjadi labu.
Ini kerinduanku,
Dan semoga angin malam ini…
Tak terlalu banyak, Berbicara tentang dingin!

2005




Gerak nadi langit telah ku kenal
Pun, rindu yang mengalir di urat-urat perjalanan
Sering sunyi siang malam kuratapi
Tujuan dan arti perasaan di hati
Hingga terkoyak takbir rahasia pada akhirnya
Dan: dari ruang- ruang hampa dijiwa
Kuperah susunan rahasia kehidupan
Akulah jazad,
yang memeluk cinta
:Sebagai jiwa

2004













Doa Merawat Cinta

Ya Allah,
Anugerahi aku akan cintaMu…
Dan cinta orang yang cintanya bermanfaat bagiku disisiMu.

Ya Allah,
Segala yang Engkau karuniakan kepadaku…
Yang aku cintai, jadikanlah ia kekuatanku dalam…
Segala yang Engkau cintai.

Ya allah, segala yang Engkau jauhkan dariku yang aku cintai,
Jadikanlah ia kehilanganku untuk segala yang Engkau cintai.






Setelah peristiwa-peristiwa luput dari makna, dan dedaunan
Terus saja menguning tanpa sebait puisi. Tanpa teori, begitulah…
Kitapun menziarahi buku-buku, pada sebuah hari yang sama?

Pertemuan barangkali tak seputih kelopak melati
Tersebab selalu ada yang diam-diam pergi tanpa getar  hati
Kuharap: Kita mengangguk sepakat!
Membayangkan keping-keping kenyataan
Meski Cuma lamat, diantara tumpukan dan baris buku
Sementara kau masih saja sibuk mengkaji halaman pertama bab ke Satu

Tak ada yang baru, hanya pertemuan yang kadang memang:
Kita agendakan “bisikmu”, selebihnya, kenangan!

Tetapi adakah sepasi-sepasi kering air mata?
Tanpa pengalaman yang basah, ataukah kita  hanya sembunyi sejatinya?
Dibalik paragraph-paragraf yang kita gantung dalam dada: hingga…
Tak pernah kita kenal cerlang matahari pagi…
Hari
Ini

2006



 



Aneh, aku merasakan rindu padanya
Bertanya tentang dia, kepada siapa yang aku jumpa
Sedanngkan ia bersamaku
Mataku mencari-cari, padahal ia berada dipelupukku
Hatiku merindukannya,
Padahal diantara tulang-tulang rusukku dia berada…

2007






BUKAN YANG DULU…
*dua belas dua puluh dua belas*

Semakin tak ku mengerti?
Sosok baru dan beberapa sosok lama muncul kembali
Yang ku benci yang ku suka, sama persis
Meski bukan yang asli
Tapi itu kenyataan
Atau mungkin hanya gambaran
Dari beberapa sisa kenangan, yang dikembalikan…

Sedang disisi lain adalah masa depan!!!

Dalam pengabdian tanpa harga
Aku hilang bentuk
Akan maukah kita duduk satu meja?
Dengan para pembunuh

Dan...
Seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain… kita harus!!!
Berjalan terus

Demikianpun…
Betapa riang udara yang dihirup,
Menghadapi satu jalan panjang
Tanpa pilihan, tanpa pepohonan…

Aku tidak marah
Aku tidak benci…sekarang…
Aku tetap berdiri
Menanti sepi yang memanggil tiada henti

Kurajut terus mimpi, pada siang pada malam
Pada sunyi, menggelantung penuh harap
Demi sehelai baju baru, yang akan ku pakai kelak

… Apa kau memikirkan…
Apa yang kutawarkan?
Untuk kembali: menjadi pembunuh…
“Kau harus bisa seperti aku!!!”



~~~FUNGSI OTAK DENGKUL…~~~

APA YANG MEMBUATKU TETAP DI-SISI INI?
BERALIH DAHULU DARI PERCINTAAN KU BER-PUISI
KINI KU-MULAI BELAJAR MENULIS SAJAK TENTANG JATI DIRI

DIMANA AKU SADAR TANPA MENYADARI,
TAK DAPAT AKU MENGERTI?
BETAPA HANYA LELAH KUDAPATI…

KENAPA LEBIH BERUNTUNG JADINYA…
ANAK YANG TERLAHIR DENGAN NAMA SI-KETIDAK MAMPUAN
DARI TRAH STUPIDNESS
YANG SELALU DITIMANG SI-KEMALASAN
YANG DISUSUI OLEH SENANG- SENANG SAJA
LALU DIMANDIKAN DISETIAP BULAN MASIH SEPARUH

SEDANG AKU!
HARUS DIWAJIBKAN MENGAIRI MATAHARI
(TENTU SAJA ITU PERLU USAHA KERAS…
SEDANG HASILNYA PASTI DIBAWAH NOL…)

BEGITULAH…
TAPI AKU SAMA SEKALI TIDAK BERHARAP
DAPAT DILAHIRKAN DI-KELUARGA TRAH TERSEBUT
“NA UDU BILAH MINDA LIK”

BEGITULAH SEBAGAI CERITA CHAPTER TERAKHIR…
LALU BIARKAN SEMENTARA, KU TETAP DI SISI YANG BEGINI
SAMBIL MENGHITUNG CTIK.. CTOK.. THACK..TIK.. TAK.. TIK.. TOK..
DETIK JAM, SEBENTAR LAGI AYAM JANTAN BERKOKOK

___bulan ke-12 (1ST) ‘2012__03.30 A.M._Waktunya Mandi…__



Rumah Megah di Hatimu

Kemana aku hendak pulang, Kecuali pada kenangan di atas pohon waktu yang reyot, Pada bait-bait renta di kamar penuh debu, Almari kusam itu masih terasa milikku, Meski lubang kuncinya macet, Pintu tak bisa terbuka, Cerminnya meman
tulkan bayang-bayang buram.
Meski selalu saja ada yang terasa sulit, Tumbuh seperti pohon jambu di kebun belakang, Daunnya habis dimakan ulat, Atau pohon mangga, Buahnya jatuh sebelum masak.
Tapi seorang tanpa rumah masih ingin tinggal, Meski tak tahu…? Masih adakah yang rindu, Masihkah ada yang menunggu… Hanya tahu… Hidup sesungguhnya sendiri… Terkecuali saat kau menepuk pundakku: Lalu berbisik… “...Disinilah rumahmu................ Tinggalah di hatiku…...............!!!”