Tuesday, December 4, 2012

puisi korek api













‘’korek api 2’’
Malam ~ VS ~ Matahari…

Dy, desember 1/3 malam kedua ‘2012 ke-empat

Bukan lagi…
Di negeri yang begitu dekat dengan matahari
Sekarang…
Dari negeri dimana moyangku dilahirkan

Bukan lagi: tentang cinta

Akan tetapi: tentang cita

Bukan lagi…
Tentang minuman memabukkan/ ganja/ obat terlarang
Dan atau parang…tetapi…
Tentang jalan menuju syurga

Bukan lagi…
Tentang gengsi atau harga diri
Tetapi tentang apa yang bisa kulakukan:
Hari ini, untuk dapat menjadikan esok hari dalam genggaman

Karena aku hanyalah: malam…
Yang mencoba: menyulut matahari…

Karena aku hanyalah: luka…
Yang mencoba memisahkan diri: dari perihnya…

Tapi…
Konon katanya…
Lagi-lagi aku perlu korek api untuk menyulut matahari
:Dipuncaknya malam ?
 
‘’korek api 1’’
BUKAN HANYA ARAK
YANG MEMABUK-KAN Aku!


APA YANG KITA DAPAT HARI INI?
SELAIN KELELAHAN MENAHUN…
SEJAK MENGENAL MATAHARI
HINGGA: LANGIT- LANGIT MEMBIRU…

SSSTT… OPS !! …BIRU ?

SEBIRU MEMAR DI JANTUNG-Ku
KETIKA MEREKA TERTAWA
KETIKA Aku SEDANG HANYA DIAM
MERABA…MENGELUS… DADA-Ku SENDIRI
SAMBIL MENCOBA MENGHIBUR DIRI
DENGAN SEBOTOL ARAK TENTUNYA
YANG Ku-SEMBUNYIKAN DIBAWAH:
MEJA HIJAU (YANG KATANYA KEADILAN)
SEDANG ‘KEBIJAKSANAAN’ ITU, HANYALAH …
SEBUNGKUS ROKOK YANG SATU PER-SATU
Ku-SULUT…. SATU BATANG PER- HARI !?! BEGITU ?

AH…
Aku MULAI BIMBANG
ANTARA MANA YANG LEBIH MULIA…
DAMAINYA IBADAH?
BAGI PARA BEDEBAH
ATAUKAH… INDAHNYA TEMPAT HIBURAN MALAM?
BAGI PARA RUMI
‘TAK BISA MEMBEDAKAN LAGI ??’

SEDANG KEDUANYA Aku ????
HANYALAH BOHONG…!!!

KETIKA KEMUNAFIKAN DIANGGAP IBADAH
KETIKA KEBAIKAN DIANGGAP HIBURAN
JUJUR SAJA!!??

TAK PERLU BERKATA “..aKU BAIK..”
TAK PERLU BERKATA “..aKU BURUK..”

KARENA ADA YANG LEBIH BERHAK
UNTUK MENYIMPULKANNYA
MESKI… ENTAH SIAPA?
KAPAN ATAU SIAPA?

HHHMMM…..LUPAKAN !!
SELAMAT BERIBADAH
SELAMAT MENCARI HIBURAN

BIAR Aku SAJA YANG MABUK MENENGGAK…
RATUSAN JENIS ARAK
BEBERAPA TAHUN TERAKHIR INI
LALU ROKOK TINGGAL SEBATANG INI
(YANG Ku PERLU… Aku HARUS MENCOBA MENGINGAT…
DIMANA TADI Aku MENARUH… KOREK API ?)

Dy, DESEMBER 1/3 MALAM PERTAMA KE-EMPAT ‘2012




BUKAN YANG DULU…
*dua belas dua puluh dua belas*

Semakin tak ku mengerti?
Sosok baru dan beberapa sosok lama muncul kembali
Yang ku benci yang ku suka, sama persis
Meski bukan yang asli
Tapi itu kenyataan
Atau mungkin hanya gambaran
Dari beberapa sisa kenangan, yang dikembalikan…

Sedang disisi lain adalah masa depan!!!

Dalam pengabdian tanpa harga
Aku hilang bentuk
Akan maukah kita duduk satu meja?
Dengan para pembunuh

Dan...
Seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain… kita harus!!!
Berjalan terus

Demikianpun…
Betapa riang udara yang dihirup,
Menghadapi satu jalan panjang
Tanpa pilihan, tanpa pepohonan…

Aku tidak marah
Aku tidak benci…sekarang…
Aku tetap berdiri
Menanti sepi yang memanggil tiada henti

Kurajut terus mimpi, pada siang pada malam
Pada sunyi, menggelantung penuh harap
Demi sehelai baju baru, yang akan ku pakai kelak

… Apa kau memikirkan…
Apa yang kutawarkan?
Untuk kembali: menjadi pembunuh…
“Kau harus bisa seperti aku!!!”



~~~FUNGSI OTAK DENGKUL…~~~

APA YANG MEMBUATKU TETAP DI-SISI INI?
BERALIH DAHULU DARI PERCINTAAN KU BER-PUISI
KINI KU-MULAI BELAJAR MENULIS SAJAK TENTANG JATI DIRI

DIMANA AKU SADAR TANPA MENYADARI,
TAK DAPAT AKU MENGERTI?
BETAPA HANYA LELAH KUDAPATI…

KENAPA LEBIH BERUNTUNG JADINYA…
ANAK YANG TERLAHIR DENGAN NAMA SI-KETIDAK MAMPUAN
DARI TRAH STUPIDNESS
YANG SELALU DITIMANG SI-KEMALASAN
YANG DISUSUI OLEH SENANG- SENANG SAJA
LALU DIMANDIKAN DISETIAP BULAN MASIH SEPARUH

SEDANG AKU!
HARUS DIWAJIBKAN MENGAIRI MATAHARI
(TENTU SAJA ITU PERLU USAHA KERAS…
SEDANG HASILNYA PASTI DIBAWAH NOL…)

BEGITULAH…
TAPI AKU SAMA SEKALI TIDAK BERHARAP
DAPAT DILAHIRKAN DI-KELUARGA TRAH TERSEBUT
“NA UDU BILAH MINDA LIK”

BEGITULAH SEBAGAI CERITA CHAPTER TERAKHIR…
LALU BIARKAN SEMENTARA, KU TETAP DI SISI YANG BEGINI
SAMBIL MENGHITUNG CTIK.. CTOK.. THACK..TIK.. TAK.. TIK.. TOK..
DETIK JAM, SEBENTAR LAGI AYAM JANTAN BERKOKOK

___bulan ke-12 (1ST) ‘2012__03.30 A.M._Waktunya Mandi…__





Rumah Megah di Hatimu

Kemana aku hendak pulang, Kecuali pada kenangan di atas pohon waktu yang reyot, Pada bait-bait renta di kamar penuh debu, Almari kusam itu masih terasa milikku, Meski lubang kuncinya macet, Pintu tak bisa terbuka, Cerminnya meman
tulkan bayang-bayang buram.
Meski selalu saja ada yang terasa sulit, Tumbuh seperti pohon jambu di kebun belakang, Daunnya habis dimakan ulat, Atau pohon mangga, Buahnya jatuh sebelum masak.
Tapi seorang tanpa rumah masih ingin tinggal, Meski tak tahu…? Masih adakah yang rindu, Masihkah ada yang menunggu… Hanya tahu… Hidup sesungguhnya sendiri… Terkecuali saat kau menepuk pundakku: Lalu berbisik… “...Disinilah rumahmu................ Tinggalah di hatiku…...............!!!”