Monday, December 10, 2012

filsafat





Ilmu Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran
14/11/2012 
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode  yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya.
Ilmu (Knowledge) merujuk kepada kefahaman manusia terhadap sesuatu perkara, dimana ilmu merupakan kefahaman yang sistematik dan diusahakan secara sedar. Pada umumnya, ilmu mempunyai potensi untuk dimanfaatkan demi kebaikan manusia.
Ilmu adalah sesuatu yang membedakan kita dengan makluk tuhan lainya seperti tumbuhan dan hewan. Denagan ilmu kita dapat melakukan, membuat, menciptakan sesuatu yang membawa perbedaan yang lebih baik bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dimengerti sebagai pengetahuan yang diatur secara sistematis dan langkah-langkah pencapaianya dipertanggungjawabkan secara teoretis.
Sehingga ilmu pengetahun sangat diperlukan bagi setiap manusia  untuk mencapai kemajuan dan perkembangan kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu penulis tertarik untuk membahas lebih mendalam tentang ilmu pengetahuan serta ukuran kebenaran dalam makalah ini.

DefinisiIlmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan diambil dari kata bahasa Inggris sciene, yang berasal dari bahasa latin scientia dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, meengetahui. Pertumbuhan selanjutnya pengertian ilmu mengalami perluasan arti sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.
Pengertian ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana atau definisi tentang alam semesta yang diterjemahkan kedalam bahasa yang bisa dimengerti oleh manusia sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat tentang sesuatu. dalam kata lain dapat kita ketahui definisi arti ilmu yaitu sesuatu yang didapat dari kegiatan membaca dan memahami benda-benda maupun peristiwa.
The Liang Gie (1987) (dalam Surajiyo, 2010) memberikan pengertian ilmu adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.

Ciri-ciri Ilmu Pengetahuan
Ciri persoalan pengetahuan ilmiah antara lain adalah persoalan dalam ilmu itu penting untuk segera dipecahkan dengan maksud untuk memperoleh jawaban. Dengan memiliki persoalan keilmuwan pada dasarnya masalah yang terkandung dalam ilmu adalah selalu harus merupakan suatu problema yang telah diketahui atau yang ingin diketahuinya, kemudian ada suatu penelaahan dan penelitian agar dapat diperoleh kejelasan dengan mengunakan metode yang relevan untuk mencapai kebenaran yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. (Abbas Hamami Mintaredja,1980)(dalam Surajiyo, 2010).
Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah menurut The Liang Gie (1987) (dalam Surajiyo, 2010) mempunyai lima ciri pokok antara lain:
  1. Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
  2. Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur;
  3. Objektif, ilmu  berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi;
  4. Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya kedala bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu;
  5. Verifikatif, dapat diperiksa kebenaranya  oleh siapapun juga.

Adapun Van Melsen (1985) (dalam Surajiyo, 2010) mengemukakan ada delapan ciri yang menandai ilmu, yaitu sebgai berikut:
  1. Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai suatu keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus  (susunan logis).
  2. Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tangung jawab ilmuwan.
  3. Universal ilmu pengetahuan.
  4. Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh object dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif.
  5. Ilmu pengetahuan harus dapat di verifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena  itu ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
  6. Progresivitas, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan baru dan menimbulkan problem baru lagi.
  7. Kritis, artinya tidak ada teori yang definitif, setiap teori terbuka bagi suatu peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru.
  8. Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.
Mohamad Hatta (dalam Surajiyo, 2010), mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukanya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
Demi objektivitas ilmu, ilmuwan harus bekerja dengan cara ilmiah. Sifat ilmiah dalam ilmu dapat diwujudkan, apabila dipenuhi syarat-syarat yang intinya adalah:
  1. Ilmu harus menpunyai objek, ini berarti bahwa kebenaran yang hendak diungkapkan dan dicapai adalah persesuaian antara pengetahuan dan objeknya.
  2. Ilmu harus mempunyai metode, ini berarti bahwa untuk mencapai kebenaran yang objektif, ilmu tidak dapat bekerja tanpa metode yang rapi.
  3. Ilmu harus sistematik, ini berarti bahwa dalam memberikan pengalaman, objeknya dipadukan secara harmonis sebagai suatu kesatuan yang teratur.
  4. Ilmu bersifat universal, yaitu kebenaran yang diungkapkan oleh ilmu tidak mengenai sesuatu yang bersifat khusus, melainkan kebenaran berlaku umum. (Hartono Kasmadi,dkk, 1990, hlm 8-9) (dalam Surajiyo, 2010).

Jenis Pengetahuan
Menurut Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta (dalam Surajiyo, 2010) ada empat jenis pengetahuan, yakni:
  1. Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan common sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu dimana orang itu menerima secara baik. Semua orang menyebutnya sesuatu itu biru karena memang itu biru, dan juga benda itu dingin karena memang dirasakan dingin, dan sebagainya.
  2. Pengetahuan ilmiah, yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secar objektif, tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makana terhadap dunia factual.
  3. Pengetahuan Filsafat,yaitu pengetahuan yang diperoleh dari suatu pemikiran. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit dan rigid, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis.
  4. Pengetahuan Agama, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari Tuhan lewat Rasul-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan ini mengandung hal-hal yang pokok yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan dan cara berhubungan dengan sesama manusia. Dan yang lebih penting dari pengetahuan ini disamping informasi tentang Tuhan, juga informasi tentang hari Akhir.

Keragaman Ilmu Pengetahuan
Kumpulan pernyataan ilmuwan mengenai suatu objek yang memuat pengetahuan ilmiah oleh The Liang Gie (dalam Surajiyo, 2010) mempunyai 4 bentuk:
  1. Deskripsi
Ini merupakan kumpulan pernyataan bercorak deskrptif dengan memberikan mengenai bentuk, susunan, peranan, dan hal-hal terperinci lainnya dari fenomena yang bersangkutan. Bentuk ini umumnya terdapat pada cabang-cabang ilmu khusus yang terutama bercorak deskriptif seperti misalnya ilmu antonomi atau ilmu geografi.
  1. Perspektif
Ini merupakan kumpulan corak pernyataan bercorak preskriptif dengan memberikan petunjuk atau ketentuan mengenai apa yang perlu berlangsung atau sebaiknya dilakukan dengan hubungannya dengan objek sederhana. Bentuk ini dapat dijumpai dalam cabang-cabang ilmu sosial misalnya, ilmu pendidikan yang memuat petunjuk cara mengajar yang baik dalam kelas.
  1. Eksposisi pola
Bentuk ini merangkum pernyataan yang memaparkan pola dalam sekumpulan sifat, ciri, kecenderungan, atau proses lainnya dari fenomena yang ditelaah. Misalnya dalam antropologi dapat dipaparkan dalam kebudayaan berbagai suku bangsa atau dalam sosiologi dibeberkan pola perubahan masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan.
  1. Rekontroksi historis
Bentuk ini merangkum pernyataan yang berusaha mengambarkan atau menceritakan dengan penjelasan atau alasan yang diperluakan pertumbuhan sesuatu hal pada masa lampau yang jauh baik secara ilmiah atau karena campurtangan manusia.

Definisi Kebenaran
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Purwadarminta ditemukan arti kebenaran, yakni:
  1. Keadaan (hal dan sebagainya) yang benar (cocok dengan hal atau keadaan yang sesungguhnya).
  2. Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada, betul-betul demikian halnya dan sebagainya).
  3. Kejujuran atau kelurusan hati.
  4. Selalu izin; perkenanan.
Sedangkan kebenaran pengetahuan dapat diartikan sebagai persesuaian antara pengetahuan dengan objeknya. Yang terpenting untuk diketahui adalah bahwa persesuaian yang dimaksud sebagai kebenaran adalah merupakan pengertian kebenaran yang immanen yakni kebenaran yang tetap tingal didalam jiwa dalam kata lain adalah keyakinan.
Menurut Endang Saifuddin Anshari dalam bukunya Ilmu, Filsafat dan Agama menulis bahwa agama dapat diibaratkan sebagi suatu gedung besar perpustakaan kebenaran. Di dalam pembicaraan mengenai “kepercayaan” dapat disimpulkan bahwa sumber kebenaran adalah Tuhan. Manusia tidak dapat hidup dengan benar hanya dengan kebenaran-kebnaran pengetahuan, ilmu dan filsafat, tanpa kebenaran agama.


Sifat Kebenaran
Berbagai kebenaran dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta (dalam Surajiyo, 2010) dibedakan menjadi tiga hal, yakni sebagai berikut:
Kebenaran yang pertama berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya ialah bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui suatu objek ditilik dari jenis pengetahuan yang dibangun. Maksudnya pengetahuan itu meliputi: pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan agama.
Kebenaran pengetahuan yang kedua berkaitan dengan sifat atau karakteristik dari bagaiman cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya itu. Apakah membangunnya dengan penginderaan atau akal pikirnya, atau rasio, intuisi, atau keyakinan.
Kebenaran pengetahuan yang ketiga adalah nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantunan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana relasi atau hubungan antar subjek dan objek.

Teori Kebenaran
Menurut Michael Williams terdapat 5 teori kebenaran, yaitu: Kebenaran Koherensi, Kebenaran Korespondensi, Kebenaran Performatif, Kebenaran Pragmatik, dan Kebenaran Proposisi.
1.    Kebenaran Koherensi
Sesuatu yang koheren dengan sesuatu yang lain berarti ada kesesuaian atau keharmonisan dengan sesuatu yang memiliki hirarki lebih tinggi, hal ini dapat berupa skema, sisitem, atau nilai.
2.    Kebenaran Korespondensi
Berfikir benar korespondensi adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan dengan sesuatu yang lain. Korespondensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan (positifisme), antara fakta dengan belief yang diyakini, yang sifatnya spesifik.
3.    Kebenaran Performatif
Ketika pemikiran manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang ada dibaliknya, baik yang praktis, yang teoritik, maupun yang filosofik. Orang yang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual yang disebut dengan kebenaran performatif tokoh penganut ini antara lain Strawson (1950) dan Geach (1960) sesuatu sebagai benar biladapat diaktualkan dalam tindakan.
4.    Kebenaran Pragmatik
Perintis teori ini adalah Charles S. Pierce. Yang benar adalah yang konkret, yang individual, dan yang spesifik, demikian James Deweylebih lanjut menyatakan bahwa kebenaran merupakan korespondensi antara ide dengan fakta, dan arti korespondensi menurut Dewey adalah kegunaan praktis.
5.    Kebenaran Proposisi
Sesuatu kebenaran dapat diperoleh bila proposisi- proposisinya benar dalam logika Aristoteles, proposisi benar adalah bila sesuai dengan persyaratan formal suatu proposisi.  Proposisi adalah suatu pernyataan yang berisi banyak konsep kompleks.
Descartes merumuskan pedoman penyelidikan supaya orang jangan tersesat dalam usahanya mencapai kebenaran sebagai berikut:
Pertama, jangan menerima kebenaran itu begitu saja tanpa ada bukti yang kuat.
Kedua, rincilah setiap kesulitan sesempurna mungkin dan carilah jawaban secukupnya.
Ketiga, aturlah pikiran dan pengetahuan sedemikian rupa, dimulai dari yang paling rendah dan sederhana, kemudian meningkat dari sedikit, setapak demi setapak untuk mencapai pengetahauan yang lebih sukar dan lebih ruwet.
Keempat, buatlah pengumpulan fakta sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya dan seumum-umumnya hingga menyeluruh.


Kesimpulan
Dari pembahasan materi tentang ilmu pengetahuan dan ukuran kebenaran dapat disimpulkan bahwa ilmu, pengetahuan dan kebenaran mempunyai keterkaitan dan saling berhubungan dan tidak dapat dipisahakan. Ilmu dan pengetahuan yang di dapat hanya untuk mencari sebuah kebenaran, dan kebenaran yang mutlak itu hanya dari Tuhan yang harus diyakini. Meskipun demikian dalam kehidupan perlu mengakui eksistensi dan fungsi kebenaran-kebenaran yang lainnya, yang bersesuaian atau tidak betentangan dengan agama (kebenaran mutlak).


DAFTAR PUSTAKA

Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi     Aksara.
http://www.blogger.com/6-11-2012/19.38
http://emg-mjk.blogspot.com/6-11-2012/19.48


Disusun oleh:
  • Andri Dwi Handoko
  • Etik Susilowati
  • May Garna F P
  • Rusmiati
  • Wiratmojo

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Pacitan




Sarana Berfikir Ilmiah
08/11/201
Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang berpikir. Hal ini pernah diutarakan oleh seniman handal, Auguste Rodin lewat karya pahatan yang menjelaskan hakikat manusia yang sesungguhnya, patung seorang manusia yang sedang berpikir. Proses berpikir manusia inilah yang memunculkan berbagai ilmu pengetahuan. Dengan dobrakan-dobrakan pemikiran dan ide manusia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang didasari dengan pemikiran yang mendalam dan menyeluruh. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan diperlukan metode ilmiah yang langkah dan kegiatannya didasarkan pada prinsip-prinsip keilmuan.
Sarana ilmiah berperan sebagai alat bantu yang mengorganisasikan metode ilmiah menjadi sebuah pengetahuan yang lebih sempurna. Tentu saja berpikir berdasarkan keilmuan amat sangat berbeda dengan proses berpikir pada umumnya. Disnilah para filsafat menuangkan segala bentuk pemikirannya dengan menggunakan metode dan kegiatan yang bersifat ilmiah. Kegiatan dan metode yang tidak didasarkan pada pemikiran-pemikiran khayal namun logis dan empiris. Semua dibuktikan secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Filsuf-filsuf mendalami apa yang mereka kembangkan dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang didalamnya juag dibutuhkan sarana untuk membantu lancarnya kegiatan ilmaih tersebut. Maka disinilah peran sarana ilmiah amat sangat berarti.
BERPIKIR ILMIAH
Secara umum tiap perkembangan dalam ide dan konsep dapat disebut dengan berpikir (Bochenski, 1984:52). Dan yang akan dikupas secara mendalam pada pembahasan ini adalah berpikir yang didasarkan pada keilmuan. Tentu saja pemikiran yang didasarkan pada keilmuan akan sangat berbeda dengan pemikiran biasa, seperti memikirkan mau membeli apa nanti, atau berpikir untuk pergi kemana. Dalam buku Jujun S. Suriasumantri, Bochenski (1984:52) juga menerangkan bahwa pemikiran yang didasarkan keilmuan adalah pemikiran yang sungguh-sungguh, artinya suatu cara yang berdisiplin. Ide dan konsep itu diarahkan pada suatu tujuan tertentu. Disini ide dan konsep tidak dibiarkan untuk berkelana dalam angan-angan yang tak menentu. Dan kemudian akan berkembang kepada berpikir ilmiah, cara berpikir yang dilakukan oleh para filsuf.
Berpikir ilmiah adalah berpikir yang logis dan empiris. Logis berarti masuk akal, dan empiris berarti dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan (Hillway: 1956). Dalam hal ini ada juga yang berpendapat bahwa berpikir ilmiah adalah berpikir yang menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, mengembangkan secara ilmu pengetahuan yaitu berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan atau menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran (uripsantoso.wordpress.com). Maka dapat kita garis bawahi bahwa makna dari berpikir ilmiah adalah pemikiran yang didasarkan pada prinsip-prinsip keilmuan. Yang tentu saja ini berarti juga erat kaitannya dengan proses untuk mendapatkan ilmu itu sendiri. Dan untuk melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik diperlukan sarana ilmiah.
 Dalam hal ini ada juga yang berpendapat bahwa berpikir ilmiah adalah berpikir yang menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan, memutuskan, mengembangkan secara ilmu pengetahuan yaitu berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan atau menggunakan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya (Salam: 2000). Selain itu, Salam (2000:24) menambahkan bahwa sarana ilmiah merupakan alat yang membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu atau sarana ilmiah mempunyai  fungsi – fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Sarana ilmiah diperlukan untuk membantu kegiatan berpikir ilmiah. Tanpa sarana berpikir ilmiah maka kegiatan berpikir ilmiah tidak akan berjalan dengan baik. Dan pada hakikatnya sarana berpikir ilmiah terdiri dari empat bagian, yaitu bahasa, matematika, statistik dan logika. Dan kali ini kita akan membahasnya satu persatu secara mendalam.

Bahasa
Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berpikir seseorang dan tiada batas dunia baginya.
Bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, tanpa bahasa tiada komunikasi. Sebagai sarana komunikasi maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kemampuan kebahasaan akan terbentang luas cakrawala berpikir seseorang dan tiada batas dunia baginya.
Kemudian Bloch and Trager mengatakan bahwa a language is a system of arbitrary vocal symbols by means of which a social group cooperates (bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi). Joseph Broam mengatakan bahwa a language is a structured system of arbitrary vocal symbols by means of which members of social group interact (bahasa adalah suatu sistem yang berstrukturdari sibol-simbol bunyi arbiter yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain).
Batasan di atas memerlukan sedikit penjelasan agar tidak terjadi salah paham. Oleh karena itu, perlu diteliti setiap unsur yang terdapat di dalamnya:
  • Simbol-simbol
Simbol-simbol berarti things that stand for other things atau sesuatu yang menyatakan sesuatau yang lain. Sebagai contoh adalah awan hitam dan turunnya hujan, di amana awan hitam adalah awal turunnya hujan. Jika dikatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem simbol-simbol, hal tersebut mengandung makna bahwa uacapan si pembicara dihubungkan secara simbolis dengan objek-objek ataupun kejadian dalam dunia praktis.
  • Simbol-simbol vokal
Simbol-simbol yang membangun ujaran manusia adalah simbol-simbol vokal, yaitu bunyi-bunyi yang urutan-urutan bunyinya dihasilkan dari kerjasama berbagai organ atau alat tubuh dengan sistem pernapasan. Tapi tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh organ-organ vokal manusia merupakan simbol-simbol bahasa ataupun lambang-lambang kebahasaan. Bersin, dengkur, batuk dan lain sebagainya, biasanya tidak mengandung niai simbolis. Hanya apabila bunyi tersebut mempunyai makna tertentu dalam suatu kelompok sosial tertentu.
  • Simbol-simbol vokal arbitrer
Istilah arbitrer di sini bermakna “mana suka” dan tidak perlu ada hubungan yang valid secara filosofis antara ucapan lisan dan arti yang dikandungnya. Misalnya, untuk menyatakan jenis binatang yang disebut Equus Caballus, orang Inggris menyebutnya horse, orang Perancis menyebutnya cheval, orang Indonesia kuda dan orang Arab hison. Semua ini sama tepatnya, sama arbitrernya. Semuanya adalah konvensi sosial yakni sejenis persetujuan yang tidak diucapkan atau kesepakatan secara diam-diam antara sesama anggota masyarakat yang memberi setiap kata makna tertentu.
  • Suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer
Misalnya saja, setiap bahasa beroperasi dengan sejumlah bunyi dasar yang terbatas (dan ciri-ciri fonetik lainnya seperti tekanan kata dan inotasi). Gabungan bunyi dan urutan bunyi membuktikan betapa pentingnya kriteria kecocokan dan permulaan yang teratur rapi.
  • Yang dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain.
Bagian ini menyatakan hubungan antara bahasa dan masyarakat. Fungsi bahasa memang sangat penting dalam dunia manusia. Dengan bahasa para anggota masyarakat dapat mengadakan interaksi sosial. Telaah mengenai pola-pola interaksi ini merupakan bagian dari ilmu sosiologi.
  1. Fungsi Bahasa
Aliran filsafat bahasa dan psikolinguistik melihat fungsi bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan emosi, sedangkan aliran sosiolinguistik berpendapat bahwa fungsi bahasa adalah untuk perubahan masyarakat (Bakhtiar: 2004).
Menurut Haliday sebagaimana yang dikutip oleh Thaimah bahwa fungsi bahasa adalah sebagai berikut:
1)      Fungsi instrumental: peggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal yang bersifat materi seperti makan, minum dan sebagainya.
2)      Fungsi regulatoris: penggunaan bahasa untuk memerintah dan perbaikan tingkah laku.
3)      Fungsi interaksional: penggunaan bahasa untuk saling mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang dan oraang lain.
4)      Fungsi personal: seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan dan pikiran.
5)      Fungsi heuristik: penggunaan bahasa untuk mencapai mengungkap tabir fenomena dan keinginan untuk mempelajarinya.
6)      Fungsi imajinatif: penggunaan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan tidak sesuai dengan realita (dunia nyata).
7)      Fungsi representasional: penggunaan bahasa unuk menggambarkan pemikiran dan wawasan serta menyampaikannya pada orang lain.
  1. Bahasa Sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
Dalam sarana ilmiah, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu pertama, sarana ilmiah itu merupakan ilmu dalam pengertian bahwa ia merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Kedua, tujuan mempelajari secara ilmiah adalah agar dapat melakukan penelaahan ilmiah secara baik. Sarana ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang pengetahuan untuk mengembangkan materi pengetahuan berdasarkan metode ilmiah.
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Ketika bahasa disifatkan dengan ilmiah, fungsinya untuk komunikasi disifatkan dengan ilmiah juga, yakni komunikasi ilmiah. Komunikasi ini merupakan proses penyampaian informasi berupa pengetahuan.
Matematika
Matematika digunakan oleh seluruh kehidupan manusia. Baik matematika yang sangat sederhana maupun yang sangat rumit. Fungsi matematika sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan karena ilmu-ilmu pengetahuan semuanya mempergunakan matematika.
Matematika digunakan sebagai salah satu sarana kegiatan ilmiah, yaitu meliputi sarana berpikir ilmiah, matematika sebagai bahasa, dan sebagai berpikir deduktif.
  1. Matematika sebagai Bahasa
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisial” artinya setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu matematika merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati.
Matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat majemuk dan emosional dari bahasa verbal. Matematika mempunyai sifat yang jelas, spesifik, dan informative dengan tidak menimbulkan konotasi yang tidak bersifat emosional. Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa numeric yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Sedangkan bahasa verbal hanya mampu mengatakan pernyataan yang bersifat kualitatif.
  1. Matematika sebagai sarana berpikir deduktif
Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas pengalaman melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran).
Matematika lebih mementingkan bentuk logisnya. Pernyataan- pernyataan mempunyai sifat yang jelas. Pola berpikir deduktif banyak digunakan baik dalam bidang lain yang merupakan proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan. Dalam semua pemikiran deduktif maka kesimpulan yang ditarik merupakan konsekuensi  logis dari fakta-fakta yang mendasarinya. Kesimpulan yang ditarik tak usah diragukan lagi. Dalam peranan deduktif, bentuk penyimpulan yang banyak digunakan adalah system silogisme, dan silogisme Ini disebut juga sebagai perwujudan pemikiran deduktif yang sempurna.
Statistik
  1. Pengertian
Awalnya, kata statistik diartikan sebagai keterangan – keterangan yang dibutuhkan oleh negara dan berguna bagi negara (Anto Dajan, Pengantar Metode Statistik, Jilid I, Pustaka LP3ES Indonesia, 2000, hlm. 2).
Secara etimologi, kata “statistik” berasal dari kata status (bahasa Latin) yang mempunyai persamaan arti dengan kata state (bahasa Inggris) yang artinya negara.
Namun, dalam bahasa Inggris, ada dua kata yaitu statistics yang artinya ilmu statistik dan kata statistic yag dapat diartikan sebagi ukuran yang diperoleh atau berasal dari sample, yang berarti ukuran yang diperoleh atau berasal dari populasi.
Ditinjau dari segi terminologi, statistik setidaknya memiliki 4 pengertian. Yaitu,
Pertama, memiliki arti sebagai data statistik, adalah kumpulan bahan keterangan berupa angka atau keterangan.
Kedua, adalah kegiatan statistic
Ketiga, dimaksudkan juga sebagai metode statistic
Keempat, dapat diberi pengertian sebagai “ilmu statistik”.
  1. Sejarah Perkembangan Statistik
Konsep statiska sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu dan salah satunya adalah Thomas Simpson yang menyimpulkan terdapat sesuatu distribusi yang berlanjut (continuous distribution) dari suatu variabel dalam suatu frekuensi yang cukup banyak. Pierre Simon de Laplace (1749-1827) mengembangkan konsep Demoivre dan Simpson lebih lanjut dan menemukan distribusi normal sebuah konsep mungkin paling umum dan paling banyak dipergunakan dalam analisis statistika di samping teori peluang.
Teknik kuadrat terkecil (least squares) simpangan baku dan galat baku untuk rata-rata (the standard error of the mean) dikembangkan Karl Friedrich Gauss (1777-1855). Pearson melanjutkan konsep-konsep Galton dan mengembangkan konsep regesi, korelasi, distribusi, chi-kuadrat, dan analisis statiska untuk data kualitatif Pearson menulis buku The Grammar of Science sebuah karya klasik dalam filsafat ilmu. William Searly Gosset, yang terkenal dengan nama samaran “Student”, mengembangkan konsep tentang pengambilan contoh.
Di Indonesia, kegiatan dalam hal penelitian juga cukup meningkat, baik kegiatan akademik maupun maupun pengambilan keputusan telah memberikan momentum yang baik untuk pendidikan statistika. Dengan masyarakatnya berpikir secara ilmiah, maka sesuai dengan apa yang dikatakan oleh HLM. G. Welles bahwa setiap hari berpikir statistik akan merupakan keharusan bagi manusia seperti juga membaca dan menulis (Ibid).
  1. Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika dan Statiska
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain (Ibid., hlm. 167).
Jika ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Untuk itu, proses penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan induktif. Matematika berperan penting dalam berpikir deduktif dan statistika memiliki peranan yang penting dalam berpikir induktif (Ibid).
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Dan itu semua harus dilakukan dengan cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap valid kalau prosesnya menggunakan suatu cara tersebut, yang biasa dinamakan logika. Logika ini dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sahih”. Cara lainnya adalah dengan logika induktif yang memiliki hubungan erat dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan umum, atau dapat juga dengan logika deduktif yang menarik kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat individual (Ibid., hlm. 46 – 48).
Pembahasan selanjutnya adalah mengenai penalaran secara induktif dan deduktif. Penalaran induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan yang memiliki ruang lingkup yang khas dan terbatas untuk menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Sedangkan deduktif, merupakan cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, dengan memakai pola berpikir silogismus.
  1. Tujuan Pengumpulan Data Statistik
Hal ini dapat dibagi menjadi dua golongan, yang secara kasar dapat dirumuskan sebagai tujuan kegiatan praktis dan kegiatan keilmuan. Dalam bidang statistika, perbedaan dari kedua kegiatan ini dibentuk oleh kenyataan bahwa dalam kegiatan praktis hakikat alternatif yang sedang dipertimbangkantelah diketahui, dimana konsekuensi dalam memilih salah satu dari alternatif tersebut dapat dievaluasi berdasarkan serangkaian perkembangan yang akan terjadi. Di lain pihak, kegiatan statistika dalam bidang keilmuan diterapkan pada pengambilan suatu keputusan yang konsekuensinya sama sekali belum diketahui.
  1. Statistika dan Cara Berpikir Induktif
Ilmu merupakan pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah sesuai faktual. Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan yang lain. Pengujian mengharuskan kita untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual.
Kesimpulan yang ditarik dalam penalaran deduktif adalah benar jika premis yang digunakannya adalah benar  dan prosedur penarikan kesimpulannya sah. Sedangkan penalaran induktif, meski premisnya benar dan prosedur penarikan kesimpulannya adalah sah, maka kesimpulan itu belum tentu benar. Tetapi, memiliki peluang untuk benar. Dalam hal ini statistika memberikan jalan keluar untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah.
  1. Peranan Statistika dalam Tahap-Tahap metode Keilmuan
Statistika merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan. Dan mengenai langkah-langkah dalam kegiatan keilmuan, rinciannya adalah sebagai berikut:
1)      Observasi. Mengumpulkan dan mempelajari fakta yang berhubungan dengan masalah yang sedang diselidikinya. Dalam hal ini statistika memiliki peranan untuk mengemukakan secara rinci tentang analisis mana yang akan dipakai dalam observasi dan tafsiran apa yang akan dihasilkan dari observasi tersebut.
2)      Hipotesis. Untuk menjelaskan fakta yang diobservasi, dugaan yang sudah ada dirumuskan dalam sebuah hipotesis, atau teori yang menggambarkan sebuah pola, yang menurut anggapan ditemukan dalam data tersebut. Disini, statiska membantu kita dalam mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, dan menyajikan hasil observasi dalam bentuk yang dapat dipahamidan memudahkan kita dalam mengembangkan hipotesis.
3)      Ramalan. Dari hipotesis atau teori dikembangkanlah deduksi. Nilai dari suatu teori tergantung dari kemampuan ilmuwan untuk menghasilkan pengetahuan baru tersebut. Fakta baru ini disebut ramalan, yaitu menduga apa yang akan terjadi berdasarkan syarat-syarat tertentu.
4)      Pegujian kebenaran. Ilmuwan mengumpulkan fakta untuk menguji kebenaran ramalan yang dikembangkan dari teori. Jika teorinya didukung sebuah data, maka akan mengalami pengujian yang lebih berat, dengan jalan membuat ramalan yang lebih spesifik dan memiliki jangkauan lebih jauh, hingga akhirnya ramalan ini diuji kembali kebenarannya sampai ilmuwan tersebut menemukan penyimpangan yang memerlukan beberapa perubahan dalam teorinya. Sebaliknya, bila dikemukakan bertentangan dengan fakta, ilmuwan tersebut menyusun hipotesis baru yang sesuai dengan berbagai fakta yang dia kumpulkan. Lalu hipotesis baru tersebut kembali diuji kebenarannya lewat “langkah perjanjian” seterusnya.
Dalam tahap ini, sebuah hipotesis dianggap teruji kebenarannya jika ramalan yang dihasilkan berupa fakta. Statiska adalah relevan dalam keadaan tersebut karena masalah pokok yaitu menentukan apakah data yang diobservasi itu sesuai dengan ramalan atau tidak (Ibid).
  1. Penerapan Statistika
Statistika diterapkan secara luas dalam hampir semua pengambilan keputusan dalam bidang manajemen. Diterapkan dalam penelitian pasar, produksi, kebijaksanaan penanaman modal, kontrol kualitas, seleksi pegawai, kerangka percobaan industri, ramalan ekonomi, auditing, pemilihan resiko dalam pemberian kredit, dan masih banyak lagi.
Logika
Logika merupakan sarana untuk berfikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu berfikir logis adalah berfikir sesuai dengan aturan-aturan berfikir. Logika merupakan satu atau lebih kata yang memiliki arti tertentu, serta memberikan contah penerapan dalam kehidupan nyata. Berfikir membutuhkan jenis-jenis pemikiran yang sesuai, dan sebagai perlengkapan ontologisme, pikiran kita dapat bekerja secara spontan, alami, dan dapat menyelesaikan fungsinya dengan baik terlebih dalam hal yang biasa, sederhana dan jelas.
  1. Aturan Cara Berfikir yang Benar
Untuk berfikir baik, yaitu berfikir secara benar, logis dialektis, dan juga dutuhkan kondisi-kondisi tertentu.
1)      Mencintai Kebenaran
Sikap ini sangat fundamental untuk berfikir yang baik, karena sikap ini  senantiasa menggerakkan si pemikir untuk mencari serta menigkatkan mutu penalarannya.
2)      Ketahuilah apa yang sedang anda kerjakan
Kegiatan yang sedang  dikerjakan adalah kegiatan berfikir. Seluruh aktifitas intelek kita adalah suatu usaha terus menerus mengejar kebenaran yang diselingi dengan diperolehnya pengetahuan tentang kebenaran tetapi parsial sifatnya. Dengan demikian untuk mencapai kebenaran, kita harus bergerak melalui berbagai macam langkah dan kegiatan.
3)      Ketauilah yang sedang Anda katakana
Pikiran diungkapkan kedalam kata-kata. Kecermatan pikiran terungkap kedalam kecermatan kata-kata, karena kecermatan ungkapan pikiran ke dalam kata-kata merupakan sesuatu yang tidak boleh ditawar lagi.
4)      Buatlah pembedaan dan pembagian yang semestinya
Jika ada dua hal yang tidak mempunyai bentuk yang sama, hal itu jelas berbeda. Tetapi banyak kejadian dimana dua hal atau lebih mempunyai bentuk sama, namun tidak identik. Di sinilah perlunya dibuat suatu distingsi, suatu pembedaan.
5)      Cintailah definisi yang tepat
Penggunaan bahasa sebagai  ungkapan sesuatu kemungkinan tidak ditangkap sebagaimana yang dimaksudkan, jadi jangan ragu untuk membuat definisi. Definisi harus diburu hingga tertangkap. Definisi artinya pembatasan, yaitu membuat  jelas batas-batas sesuatu. Harus dihindari kalimat-kalimat yang dan uraian-uraian yang gelap,tidak terang strukturnya dan tidak jelas artinya. Cintailah cara berfikir yang terang, jelas, dan tajam membeda-bedakan, hingga terang yang dimaksud.
6)      Ketahuilah mengapa Anda menyimpulkan  begini atau begitu
Ketahuilah mengapa Anda berkata begini atau begitu. Anda harus bisa melihat asumsi-asumsi, implikasi-implikasi, dan konsekuensi-konsekuensi dari suatu penuturan, pernyataan, atau kesimpulan yang Anda buat.
7)      Hindarilah kesalahan-kesalahan dengan segala  usaha dan tenaga
Dalam belajar ilmiah Anda tidak hanya tahu tentang hukum-hukum, prinsip-prinsip, dan juga bentuk-bentuk pikiran tetapi tetapi perlu juga. Dalam praktik, menjadi cakap dan cekatan berfikir sesuai dengan hukum, prinsip, bntuk berpikir yang betul tanpa mengabaikan dialektika, yakni proses perubahan keadaan. Logika ilmiah melengkapi dan mengantar kita untuk menjadi cakap dan sanggup berpikir kritis, yakni berpikir secara  menentukan karena menguasai ketentuan-ketentuan  berpikir yang baik.
  1. Klasifikasi
Sebuah konsep klasifikasi, seperti panas atau dingin, hanyalah menempatkan objek tertentu dalam sebuah kelas. Suatu konsep  perbandingan, seperti lebih panas atau lebih dingin. Mengemukakan hubungan mengenai objek tersebut dalam norma yang mencakup pengertian lebih atau kurang, dibandingkan dengan objek lain. Jauh sebelum ilmu mengembangkan konsep temperature, yang dapat diukur, waktu itu kita sudah dapat mengatakan, objek ini lebih panas dibandingkan dengan objek itu. Konsep seperti ini mempunyai kegunaan yang sangat banyak.
  1. Aturan Definisi
Suatu usaha untuk memberi batasan terhadap sesuatu yang dikehendaki seseorang untuk memindahkannya kepada orang lain. Jadi definisi yang baik adalah menyeluruh dan membatasi. Salah satu contoh yang sering diungkapkan adalah manusia adalah binatang yang berakal. Binatang adalah genius sedangkan berakal adalah differensia, pembeda utama manusia dengan makhluk-makhluk lain. Jadi, definisi yang valid dalam logika perlu batasan yang jelas antara objek-objek yang didefinisikan.

PENUTUP
Berpikir adalah hakikat seorang manusia. Inilah yang membedakan manusia (homo sapiens) dengan makhluk hidup lainnya. Manusia memiliki kemampuan untuk menyampaikan, mengembangkan dan menemukan serta mengolah ilmu pengetahuan melalui suatu proses rumit yang dinamakan berpikir. Berpikir untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tentunya berbeda dengan berpikir biasa. Berpikir yang didasari prinsip-prinsip keilmuan adalah proses berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah adalah berpikir yang logis dan empiris. Logis berarti masuk akal, dan empiris berarti dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan (Hillway: 1956). Dalam proses berpikir ilmiah dibutuhkan alat bantu atau sarana agar kegiatan ilmiah dapat berjalan dengan baik. Pada dasarnya sarana berpikir ilmiah terdirr dari empat hal yaitu bahasa, matematika, statistic dan logika. Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Matematika sebagai sarana berpikir ilmiah mengacu pada fungsi matematika sebagai bahasa dan sarana berpikir deduktif. Sedangkan statistika mengacu pada sarana berpikir induktif. Dan aspek terakhir yaitu logika, merupakan sarana berpikir sistematis, valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Salam, Burhanuddin. 2000. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. Jakarta: Rineka Cipta
Suriasumantri, Jujun S. 1984. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia
uripsantoso.wordpress.com
Penyusun:
  • Apin Mareta
  • Dini Anggraeni S.
  • Fiqih Amrantasi
  • Nurul Rohana
  • Yeni Dwi Rahayu
Mata Kuliah: Filsafat Ilmu
Dosen: Afid Burhanuddin, M.Pd.
Program Studi: Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Pacitan


Dasar-dasar Ilmu (3)
06/11/2012 
Ilmu adalah hal mendasar di dalam kehidupan manusia. Dengan ilmu manusia akan mengetahui hakikat dirinya dan dunia sekitarnya. Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematis dengan menggunakan metode-metode tertentu. Melalui ilmu, manusia akan memperoleh dan menemukan hakikat hidupnya. Ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang dinamis, tersusun sebagai teori-teori yang saling mendukung dan bertumpu untuk mendekati kebenaran. Teori merupakan pengetahuan ilmiah mencakup penjelasan mengenai bidang tertentu dari suatu disiplin ilmu dan diakui kebenarannya.
Perkembangan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari peran filsafat sebagai landasan utama. Filsafat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan didapat dari hasil berfikir yang menggunakan rasio, pengamatan mendalam terhadapsuatu objek dan dibuktikan melalui eksperimen sehingga ilmu pengetahuan tersebut diakui kebenarannya. Filsafat merangkum pengetahuan yang beraneka ragam kemudian menyusunnya menjadi suatu ilmu yang membahas pandangan tentang hidup dan dunia secara menyeluruh. Ilmu mengoreksi filsafat dengan cara menghapus ide-ide yang bertentangan dengan pengetahuan ilmiah.

PENGERTIAN ILMU
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Depdikbud 1988), ilmu memiliki pengertian, yaitu:
Ilmu adalah suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dan sebagainya.

KARAKTERISTIK ILMU
Menurut Ernest van den Haag (Harsojo, 1977), ciri-ciri ilmu adalah:
  1. Bersifat rasional, karena hasil dari proses berpikir dengan menggunakan akal (rasio).
  2. Bersifat empiris, karena ilmu diperoleh dari dan sekitar pengalaman oleh panca indera.
  3. Bersifat umum, hasil ilmu dapat dipergunakan oleh manusia tanpa terkecuali.
  4. Bersifat akumulatif, hasil ilmu dapat dipergunakan untuk dijadikan objek penelitian selanjutnya.
Secara umum, ciri-ciri ilmu adalah:
  1. Ilmu bersifat analisis dengan salah satu pengetahuan sebagai objek formatnya.
  2. Deskriptif terhadap objek
  3. Dinamis
  4. Netral artinya tidak memihak pada etnik tertentu
  5. Menggunakan eksperimentasi terkontrol untuk menghasilkan teori.

JENIS JENIS ILMU
Aristoteles berpendapat bahwa berdasarkan tujuan, ilmu dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar yaitu :
  1. Ilmu-ilmu teoritis yang penyelidikannya bertujuan memperoleh pengetahuan tentang kenyataan.
  2. Ilmu-ilmu praktis atau produktif yang penyelidikannya bertujuan menjelaskan perbuatan yang berdasarkan pada pengetahuan.

DASAR DASAR ILMU
  1. 1.    Ontologi
Setelah mengutip beberapa pendapat ahli mengenai pengertian ontologi, Amsal Bakhtiar menyimpulkan sebagai berikut:
  1. Menurut bahasa, ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu On/Ontos=ada, dan Logos=Ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
  2. Menurut istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakekat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani (kongkret) maupun rohani (abstrak).
Dari kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa ontologi adalah  ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang ingin di ketahui manusia yang berkaitan dengan realita.cabang ini menguak tentang objek apa yang akan di telaahilmu. Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antaraobjek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera)yang membuahkan pengetahuan.
Dalam pemahaman ontologi, ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut.
  1. a.    Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakekat yang berasal dari keseluruhan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakekat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Istilah monisme oleh Thomas Davidson disebut dengan block universe. Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran:
1)      Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran yang sering juga disebut dengan naturalisme beranggapan bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi, yang lainnya (jiwa dan ruh) tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri. Jiwa dan ruh itu hanyalah merupakan akibat saja dari proses gerakan kebenaran dengan salah satu cara tertentu.
Dalam perkembangannya, sebagai aliran yang paling tua, paham ini timbul tenggelam seiring roda kehidupan manusia yang selalu diwarnai oleh filsafat dan agama. Alasan mengapa aliran ini dapat berkembang, sehingga memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakekat adalah:
a)          Pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan yang dapat diraba, biasanya dijadikan kebenaran terakhir.
b)         Penemuan-penemuan menunjukkan betapa bergantungnya jiwa pada badan. Oleh sebab itu, peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani.
c)          Dalam sejarahnya, manusia memang bergantung pada benda seperti padi.
2)      Idealisme
Idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakekat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh atau sejenisnya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Alasan aliran ini yang menyatakan bahwa hakekat benda adalah ruhani, spirit dan sebagainya adalah:
a)         Nilai ruh lebih tinggi dari badan, lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manusia. Ruh itu dianggap sebagai hakekat sebenarnya.
b)         Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya
c)          Materi adalah kumpulan energi yang menempati ruang. Benda tidak ada, yang ada energi itu saja.
  1. b.   Dualisme
Aliran ini memandang bahwa hakekat itu ada dua. Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakekat sebagai asal sumbernya yaitu hakekat materi dan hakekat ruh. Materi bukan berasal dari ruh, dan ruh bukan berasal dari benda. Keduanya sama-sama hakekat.

  1. c.    Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictionary of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas.

  1. d.   Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti tidak ada. Doktrin tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias yang memberikan tiga proposisi tentang realitas, yaitu:
1)        Tidak ada sesuatupun yang eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada.
2)        Bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui.
3)        Sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
  1. e.    Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakekat benda, baik itu hakekat materi maupun hakekat ruhani. Kata agnostosisme berasal dari bahasa Grik Agnostos  yang berarti unknown. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara kongkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancendent. Jadi agnostisisme adalah paham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakekat benda baik materi maupun ruhani.

  1. 2.    Epistimologi
Epistimologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakekat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atass pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah:
  1. Metode Induktif
Induksi adalah suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum.
  1. Metode Deduktif
Deduksi adalah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah  lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif adalah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Ada penyelidikan bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori itu bersifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut.
  1. Metode Positivisme
Metode yang dikeluarkan oleh August Comte ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengenyampingkan segala uraian atau persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, metode ini menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala.
  1. Metode Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi.
  1. Metode Dialektis
Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Kini, dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari, dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan, ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran, tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.

  1. 3.    Aksiologi
Aksiologi berasal dari perkataan axios yang berarti nilai, dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Menurut Suriasumatri, aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari ilmu pengetahuan yang diperoleh.

HUBUNGAN ILMU DENGAN FILSAFAT
Dasar manusia mencari dan menggali ilmu pengetahuan bersumber kepada tiga pertanyaan. Sementara filsafat ,memepelajari masalah ini sedalam-dalamnya dan hasil pengkajianya merupakan dasar bagi eksistensi ilmu. Untuk mengingatkan ketiga pertanyaan itu adalah:
1. Apa yang ingin kita ketahui?
2. Bagaimana cara kita memeperoleh pengetahuan?; dan
3. Apakah nilai (manfaat) pengetahuan tersebut bagi kita?
Pertanyaan pertama di atas merupakan dasar pembahasan dalam filsafat dan biasa disebut dengan ontologi, pertanyaan kedua juga merupakan dasar lain dari filsafat, disebut dengan epistemologi dan pertanyaan terakhir merupakan landasan lain dari filsafat yang disebut dengan axiologi. Ketiga hal di atas merupakan landasan bagi filsafat dalam membedah setiap jawaban dan seterusnya membawa kepada hakekat buah pemikiran tersebut. Hal ini juga berlaku untuk ilmu pengetahuan, kita mempelajari ilmu ditinjau dari titik tolak yang sama untuk mendapatkan gambaran yang sedalam-dalamnya.

KESIMPULAN
Ilmu dan filsafat tidak dapat dipisahkan karena filsafat merupakan dasar dari perkembangan suatu ilmu. Perkembangan ilmu didasari oleh tiga hal yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Ontologi mempelajari segala sesuatu yang ada baik yang bersifat konkrit maupun abstrak. Epistimologi merupakan cabang filsafat yang berhubungan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian, dan pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan aksiologi adalah cabang filsafat yang bertujuan untuk menemukan kebenaran ilmiah.

SARAN
1        Sebagai mahasiswa kita harus mempelajari suatu ilmu secara mendalam, menggunakan hati dan akal sehingga dapat memperoleh hakikat ilmu yang dipelajari.
2        Para pembaca sebaiknya mencari referensi lain tentang dasar-dasar ilmu supaya memperoleh pemahaman yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA


Oleh:
  • Dwi Pujianingtyas Prabaningrum
  • Lilik Indriarini
  • Riati
  • Tipuk Sri Harwati

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Pacitan



William James; Biografi dan Pemikiran
05/11/2012 
Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern, khususnya abad ke-17, adalah persoalan epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemologi adalah bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan dan apakah sarana yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat epistemologis ini, maka dalam filsafat abad ke-17 munculah dua aliran filsafat yang memberikan jawaban yang berbeda, bahkan saling bertentangan.
Aliran filsafat tersebut adalah Rasionalisme dan Empirisme, Empirisme itu sendiri pada abad ke-19 dan 20 berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda. di dalam kehidupan negeri yang relatif masih muda (Amerika Serikat), kita telah belajar dari orang-orang yang terkemuka di bidang ini. Untuk itu muncullah William James, James tidak hanya memiliki pemahaman eksistensi yang membuatnya sebagai teman kontemporer kita, tetapi ia juga memiliki beberapa pandangan penting yang dapat membantu ketika kita mencari arti kehidupan di dunia kebebasan secara lebih spesifik, dan James sangat terkesan dengan signifikansi positif dari kehidupan beragama manusia, dan ia membuat usulan yang mungkin membantu kita dalam menilai kesadaran kita tentang Tuhan, untuk itu marilah kita kupas tentang ide-ide James.

Biografi William James (1842-1910)
William James (1842-1910), adalah filsuf dan psikolog Amerika yang paling berpengaruh, dia dilahirkan di kota New York , akan tetapi menghabiskan masa kecilnya di Eropa. Pendidikan dasarnya tidak seperti anak kebanyakan dan cenderung berganti-ganti, dikarenakan seringnya berpindah dari satu kota ke yang lain dan juga keinginan ayahnya agar dia lebih berkembang. Dia melewatkan masa pendidikannya disekolah umum dan dari guru bimbingan pribadinya di Swiss, Prancis, Inggris dan Amerika. Sejak 1872 hingga 1907, ia menuntut ilmu di Harvard. Pada mulanya James mempelajari fisiologi, kemudian beralih ke psikologi, dan terakhir filsafat. Pragmatisme William James memiliki pengaruh yang cukup dominan dalam filsafat pragmatisme yang merupakan pemikiran khas Amerika. Karya William James antara lain Pragmatism, The Will to Believe, The Varietis of Religion Experience, The Meaning of Truth, dan beberapa karya lainnya.
Selama tahun-tahun itu, dia hanya bisa membayangkan bagaimana kehidupan di sekolah sebenarnya. Setelah mendalami seni selama beberapa tahun, dia menyadari bahwa seni bukanlah bidangnya, dan pada tahun 1861 dia masuk ke Lawrence Scientific School di Cambridge, yang memberikan karir di bidang sains dan koneksi dengan Universitas Harvard yang terus berlangsung seumur hidupnya.
Saat berusia 35 tahun, dia telah menjadi dosen di universitas ini. Dia menjadi instruktur fisiologi dan anatomi selama 7 tahun, guru besar filsafat selama 9 tahun, dan menjadi guru besar psikologi sampai 10 tahun terakhir dia mengajar, saat dia kembali lagi mengajar filsafat. James adalah penulis yang produktif dan berbakat dibidang filsafat, psikologi dan pendidikan, dan pengaruhnya pada kehidupan pendidikan di Amerika sangatlah mengesankan. Karya terbesar dan paling berpengaruhnya, The Principles Of Psychology (Dasar-dasar Psikologi), yang diterbitkan tahun 1980, nantinya akan menjadi materi pendidikan. Pemikirannya terhadap pendidikan dan pandangannya terhadap cara kerja pengajar dapat dilihat di karyanya yang terkenal Talks to Teacher. Selain sangat terkenal, buku-buku ini memberikan pengaruh yang besar terhadap pendidikan dan pengajarnya. Teori dan praktek pendidikan, adalah hutang terbesar Amerika kepada “ Bapak Pendidikan Psikologi Modern” ini.
William James adalah seorang yang individualis. Didalam bukunya Talks to Teacher tidak terdapat pernyataan mengenai pendidikan sebagai fungsi sisa. Baginya pendidikan lebih cenderung kepada “ organisasi yang ketertarikan mendalam terhadap tingkah laku dan ketertarikan akan kebiasaan dalam tingkah laku dan aksi yang menempatkan individual pada lingkungannya”. Teori perkembangan diartikannya sebagai susunan dasar dari pengalaman mental untuk bertahan hidup. Pemikirannya ini dipengaruhi oleh insting dan pengalamannya mempelajari psikologi hewan dan doktrin teori evolusi biologi. Ketertarikan James akan insting dan pemberian tempat untuk itu dalam pendidikan, menjadikan para pembaca bukunya percaya akan salah satu tujuan terpenting didalam pendidikan adalah memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk mengikuti instingnya. Yang nantinya akan menjadi peribahasa teori pendidikan. “ Bekerjasamalah dengan insting, jangan melawannya”. Pembaca yang lebih teliti dapat menemukan tulisan yang lebih menguatkan akan hal ini, tapi ketidakraguannya ditunjukkannya melalui pernyataan-pernyataannya bahwa persatuan para psikolog telah salah mengenali kekuatan insting didalam kehidupan manusia.
Teori James akan insting sangatlah bersifat individualis dan sangatlah kolot pada pelaksanaannya. mengesampingkan pernyataannya mengenai perubahan insting, yang berlawanan dengan diskusinya pada “Iron Law of Habit/Hukum Utama Kebiasaan” dan kepercayaannya akan tujuan dasar pendidikan sebagai pengembangan awal kebiasaan individual dan kelompok, dalam pembentukan masyarakat yang lebih sempurna. Singkatnya, James menegaskan, dasar dari semua pendidikan adalah mengumpulkan semua insting asli yang dikenal oleh anak-anak, dan tujuan pendidikan adalah organisasi pengenalan kebiasaan seagai bagian dari diri untuk menjadikan pribadi yang lebih baik. Sumbangan James yan paling berpenaruh terhadap metode pendidikan adalah hubungannya dengan susunan kebiasaan. James mengtakan: `
Hal yang paling utama, disemua tingkat pendidikan, adalah untuk membuat ketakutan kita menjadi sekutu bukan menjadi lawan. Untuk menemukan dan mengenali kebutuhan kita dan memenuhi kebutuhan dalam hidup. Untuk itu kita harus terbiasa, secepat mungkin, semampu kita, dan menjaga diri dari jalan yang memberi kerugian kepada kita, seperti kita menjaga diri dari penyakit. Semakin banyak dari hal itu didalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita lakukan dengan terbiasa, semakin banyak kemampuan pemikiran kita yang dapat digunakan untuk hal yang penting lainnya.”
Pragmatisme merupakan sebuah gerakan pemikiran yang khas Amerika. Nama pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti tindakan. Hal ini sesuai dengan pola pemikiran pragmatisme sendiri, yang menitikberatkan pada tindakan manusia. Pada dasarnya pragmatisme lebih menekankan kepada metode dan pendirian daripada suatu filsafat sistematis, yaitu suatu metode penyelidikan eksperimental yang diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan. Salah satu pelopor pragmatisme adalah Charles S. Peirce.

Pemikiran William James
Untuk menjelaskan pandangan-pandangan yang dikemukakan James, kita harus mulai dengan teorinya tentang kesadaran, yang sebagian besar dikembangkan secara lengkap di dalam The Principles of Psychology. James percaya bahwa psikologi dan filsafat erat-terkait melalui cara berikut: keduanya perlu menekankan deskripsi tentang pengalaman manusia dan juga tujuan menemukan penjelasan kausal.
Setelah menerbitkan The Principles of Psychology, James mempersembahkan dirinya lebih lanjut di dalam penjelajahan filosofis. Namun, ini tidak berarti bahwa ia memutuskan diri dari perhatian awalnya pada psikologi dan fisiologi. Dalam kenyataannya, karya filosofisnya dapat dipandang mengambil beberapa cabang sentral dari penekanan awalnya pada satu ide : bahwa kesadaran manusia adalah sebuah kekuatan aktif, selektif, bertujuan, yang dengannya manusia membentuk sebuah lingkungan yang religius dan lunak menjadi pola-pola yang bermakna. Dari fondasi ini, tulisan-tulisan lima belas tahun terakhir dari hidup James berpusat pada, arti penting pilihan dalam menentukan kepercayaan kita, penilaian tentang hidup religius manusia, hakikat makna dan kebenaran, dan perkembangan sebuah metafisika pluralistik (yakni sebuah pandangan yang menekankan otonomi dan independensi hal-hal individual di alam semesta, hubungan dan ketergantungannya satu sama lain).
Ia juga meletakkan prinsip ini ke dalam praktek dan menunjukkan lima karakteristik dasar kesadaran dan pikiran kita, yaitu :
1. Pikiran bersifat personal-pengalaman diatur, keduanya memiliki seseorang.
2. Pikiran dan pengalaman berada di dalam perubahan yang konstan. Tidak ada dua pengalaman yang pernah identik, “sebuah keadaan yang telah berlaku tidak akan pernah kembali dan identik dengan apa yang sebelumnya”. James tidak mengingkari bahwa mengalami obyek yang sama sekali, tapi pengalaman kita tentang sebuah obyek memiliki sifat yang berbeda pada kesempatan-kesempatan yang berbeda.
3. Ada keberlanjutan dan juga perubahan di dalam pikiran dan pengalaman
4. Pikiran bersifat kognitif, dan pikiran berkenaan dengan sesuatu selain dirinya sendiri
5. Kesadaran bersifat selektif, kesadaran berkonsentrasi pada beberapa hal dan mengingkari beberapa hal yang lain.

Pemikiran James tentang karya-karyanya
Sikap yang dianut James digambarkan di dalam esainya “The Will to Believe”. Di dalam esai ini, ia menegaskan bahwa ada waktu-waktu ketika kita dihadapkan pada situasi di mana kita harus membuat keputusan tanpa memiliki semua bukti yang mungkin kita kuasai. Kehidupan tidak selalu memberi kita kemewahan menunggu hingga kita mendapatkan data yang meyakinkan, yang mendukung jalan tindakan yang benar. Tujuan James adalah menggambarkan beberapa karakteristik dasar situasi semacam itu, dan mempertahankan pandangan bahwa arah tindakan rasional di lingkungan ini tidaklah berarti melarikan diri dari realitas dengan mengklaim perlunya keharusan menunggu bukti yang lebih obyektif sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan.
The Varieties of Religious Experiences memuat usaha besar James untuk menilai arti agama dalam kehidupan manusia. Seperti Nietzsche, James menilai agama dari segi kontribusinya pada keutamaan manusia, tetapi kesimpulan yang diambil James berbeda dari para filosof Jerman pada masanya. Perbedaan ini sebagian besar dikarenakan fakta bahwa ideal James lebih demokratis dibandingkan ideal Nietzsche. James tentu memuji nilai individu-individu yang istimewa, tetapi ia memberi penekanan yang lebih jelas dan lebih kuat pada arti penting dan integritas setiap kehidupan manusia, perlunya manusia bekerja bersama guna menghasilkan yang terbaik, dan kebutuhan untuk menetapkan sebuah lingkungan di mana kebebasan personal dan kesatuan sosial melengkapi satu sama lain.
Di dalam bukunya Pragmatism, James membicarakan konsep pragmatis tentang kebenaran dalam satu bab. Di dalam The Meaning of Truth ia menjelaskan bahwa sekurang-kurangnya ada delapan hal yang disalahpahami orang tentang ajarannya. Suatu kritik, misalnya, mengatakan bahwa pragmatisme hanya menerangkan bagaimana kebenaran datang; tidak menjelaskan apa kebenaran itu sesungguhnya.
Karangannya, Essay in Radical Empirism a Pluralistic Universe, dan karyanya, Some Problems of Philosophy, membicarakan pertumbuhan pandangannya tentang pragmatisme di dalam metafisika dan epistemologi. Pragmatisme, menurut pendapatnya, memberikan suatu jalan untuk membicarakan filsafat dengan melalui pemecahan lewat pengalaman indera. Akan tetapi, ini ternyata tidak mencukupi untuk James karena ia menyadari bahwa pragmatisme juga mampu menghubungkan satu dengan lainnya. Jawaban yang harus diberikan ialah mengenai pandangan yang pasti tentang alam semesta. Pandangan ini tentu saja suatu metafisika.
Pemikiran William James adalah empirisme yang radikal atau empirisis yang pragmatis. Kepribadiannya dan pandangannya tentang manusia memerlukan suatu filsafat yang dapat berlaku adil pada perasaan keagamaan, moral dan kepentingan manusia terdalam. Ia memerlukan suatu filsafat yang pantas, yang dapat menghadapi kenyataan secara terus terang. Ia mencurigai setiap sistem filsafat yang murni intelektual atau yang mengaku benar secara absolut. Filsafat yang tidak selesai serta tidak absolut, itulah filsafat yang diakuinya, tetapi filsafat itu harus menyertai kehidupan manusia dan masa depannya. Filsafat harus membantu manusia menyelesaikan masalah yang dihadapinya, memberikan kepada manusia harapan yang optimistis dalam kehidupan yang vital.
Bahwa pragmatisme James itu bersifat voluntaristis, penekanannya pada pentingnya faktor usaha dan kesukarelaan dalam keputusan dan memperjelas sesuatu.

Tentang etikanya
Bahwa kaum pragmatis berpendapat bahwa yang baik adalah yang dapat dilaksanakan dan dipraktekkan, mendatangkan yang positif dan kemajuan hidup. Karena itu, baik-buruknya perilaku dan cara hidup dinilai atas dasar praktisnya, akibat tampaknya, dampak positifnya, manfaatnya bagi orang yang bersangkutan.

Penutup
Bahwa dalam pemikiran William James ada beberapa pemikiran atau karya-karya yang disitu telah menguraikan berbagai pendapatnya satu persatu tentang karya-karya tersebut, di antaranya yaitu : 1) The Will to Believe, di situ James bertujuan hanya untuk menggambarkan beberapa karakteristik dan mempertahankan pandangan bahwa arah tindakan yang rasional. 2) The Varieties of Religious Experience, dia memuat tentang nilai arti agama dalam kehidupan manusia. 3) Pragmatism, dia menjelaskan tentang kebenaran datang, tetapi tidak menjelaskan apa kebenaran yang sesungguhnya. 4) Essay in Radical Empirism A Pluralistic Universe, tentang pragmatisme di dalam metafisika, dan epistemologi. 5) Dia membicarakan tentang manusia memerlukan suatu filsafat yang dapat berlaku adil pada agama, dan moral.

DAFTAR PUSTAKA
James, William. Pragmatisme: and Four Essays from The Meaning of Truth. New York: Meridian Book, 1959.
Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004.
Titus, Harold H., Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan. Persoalan-Persoalan Filsafat. Terj. Prof. Dr. H. M. Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang, 1984.
A. Mangun Harjono, Isme-isme dari A sampai Z, Penerbit Kanisius (Anggota IKAPI), Yogyakarta, 1997.
Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003.
Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, PT. Grafindo Persada, Jakarta, 2001.
Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002.
John K. Roth, Persoalan-persoalan Filsafat Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003.

*) Penyusun
Nama               : Muchamad Yasin
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.


Kritisisme Kant; Perpaduan antara Rasionalisme dan Empirisisme
05/11/2012
Immanuel Kant adalah filsuf modern yang paling berpengaruh. Pendirian aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang. Rasionalisme berpendirian bahwa rasio merupakan sumber pengenalan atau pengetahuan, sedangkan empirisme berpendirian sebaliknya bahwa pengalaman menjadi sumber tersebut. Tokoh utama Kritisisme adalah Immanuel kant yang melahirkan Kantianisme. Kant kerap dipandang sebagai tokoh paling menonjol dalam bidang filsafat setelah era yunani kuno. Perpaduannya antara rasionalisme dan empirisme yang ia sebut dengan kritisisme, ia mengatakan bahwa pengalaman kita berada dalam bentuk-bentuk yang ditentukan oleh perangkat indrawi kita, maka hanya dalam bentuk-bentuk itulah kita menggambarkan eksitensi segala hal. Kant dengan pemikirannya membangun pemikiran baru, yakni yang disebut denagan kritisisme yang dilawankan terhadap seluruh filsafat sebelumnnya yang ditolaknya sebagai dogmatisme. Artinya, filsafat sebelumnnya yang ditolaknya sebagai dogmatism. Artinya, filsafat sebelum dianggap kant domatis karena begitu saja kemampuan rasio manusia dipercaya, padahal batas rasio harus diteliti dulu .
Yang dimaksud dengan dogmatisme adalah filsafat yang mendasarkan pandangannya kepada pengertian Allah atau subtansi, tanpa menghiraukan rasio telah memiliki pengertian tentang hakekatnya sendiri, luas dan batas kemampuannya. Filsafat bersifat dogmatis menerima kebenaran-kebenaran asasi agama dan dasar ilmu pengetahuan begitu saja, tanpa mempertanggungjawabkan secara kritis. Dogmatisme menganggap pengenalan obyektif sebagai hal yang sudah sendirinya. Sikap demikian, menurut Kant adalah salah. Orang harus bertanya: “bagaimana pengenalan obyektif (itu) mungkin?”. Oleh karena itu penting sekali menjawab pertanyaan mengenai syarat-syarat kemungkinan adanya pengenalan dan batas batas pengenalan itu. Filsafat kant disebut dengan kritisisme. Itulah sebab ketiga karyanya yang besar disebut “kritik”, yaitu kritik der reinen vernunft, atau kritik atas rasio murni (1781), kritik der praktischen vernunft, atau kritik atas rasio praktis (1788) dan kritik der urteilskraft, atau kritik atas daya pertimbangan (1790).
Pendirian aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang. Rasionalisme berpendirian bahwa rasio merupakan sumber pengenalan atau pengetahuan, sedangkan empirisme berpendirian sebaliknya bahwa pengalaman menjadi sumber tersebut. Tokoh utama Kritisisme adalah Immanuel kant yang melahirkan Kantianisme.Immanuel Kant (1724-1804 M) berusaha mengadakan penyelesaian atas pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan Kritisisme (aliran yang kritis). Untuk itulah, ia menulis tiga bukunya berjudul : Kritik der Reinen Vernunft (kritik atas rasio murni), Kritik der Urteilskraft (kritik daya pertimbangan). Kritisisme adalah aliran yang lahir dari pemikiran Immanuel Kant yang terbentuk sebagai ketidakpuasan atas aliran rasionalisme dan empirisme.

Biografi
Immanuel Kant dilahirkan pada tahun 1724 di Königsberg dari pasangan Johann Georg Kant, seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina Kant.Ayahnya kemudian dikenal sebagai ahli perdagangan, namun di tahun 1730-1740, perdangangan di Königsberg mengalami kemerosotan.Hal ini memengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam kesulitan.Ibunya meninggal saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat dia berumur hampir 22 tahun. Pendidikan dasarnya ditempuh Kant di Saint George’s Hospital School, kemudian dilanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist.
Keluarga Kant memang penganut agama Pietist, yaitu agama di jerman yang mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religius dan studi kitab suci. Pada tahun 1740, Kant menempuh pendidikan di University of Königsberg dan mempelajari tentang filosofi, matematika, dan ilmu alam. Untuk meneruskan pendidikannya, dia bekerja sebagai guru privat selama tujuh tahun dan pada masa itu, Kant mempublikasikan beberapa naskah yang berkaitan dengan pertanyaan ilmiah. Pada tahun 1755-1770, Kant bekerja sebagai dosen sambil terus mempublikasikan beberapa naskah ilmiah dengan berbagai macam topik. Gelar profesor didapatkan Kant di Königsberg pada tahun 1770.

Pemikiran Immanuel Kant
Perkembangan pemikiran kant mengalami empat periode;
  1. Periode pertama ialah ketika ia masih dipengaruhi oleh Leibniz Wolf, yaitu samapi tahun 1760. Periode ini sering disebut periode rasionalistik
  2. Periode kedua berlangsung antara tahun 1760 – 1770, yang ditandai dengan semangat skeptisisme. Periode ini sering disebut periode empiristik
  3. Periode ketiga dimulai dari inaugural dissertation-nya pada tahun 1770. Periode ini bisa dikenal sebagai tahap kritik.
  4. Periode keempat berlangsung antara tahun 1790 sampai tahun 1804. Pada periode ini Kant megnalihkan perhatiannya pada masalah religi dan problem-problem sosial. Karya Kant yang terpenting pada periode keempat adalah Religion within the Limits of Pure Reason (1794) dan sebuah kumpulan esei berjudulEternal Peace (1795).
Immanuel Kant adalah filsuf yang hidup pada puncak perkembangan “Pencerahan”, yaitu suatu masa dimana corak pemikiran yang menekankan kedalaman unsur rasionalitas berkembang dengan pesatnya. Pada masa itu lahir berbagai temuan dan paradigma baru dibidang ilmu, dan terutama paradigma ilmu fisika alam. Heliosentris temuan Nicolaus Copernicus (1473 – 1543) di bidang ilmu astronomi yang membutuhkan paradigma geosentris, mengharuskan manusia mereinterpretasikan pandangan duniannya, tidak hanya pandangan dunia ilmu tetapi juga keagamaan.
Selanjutnya ciri kedua adalah apa yang dikenal dengan deisme, yaitu suatu paham yang kemudian melahirkan apa yang disebut Natural Religion (Agama alam) atau agama akal. Deisme adalah suatu ajaran yang mengakui adanya yang menciptakan alam semesta ini. Akan tetapi setelah dunia diciptakan, Tuhan menyerahkan dunia kepada nasibnya sendiri. Sebab ia telah memasukkan hukum-hukum dunia itu ke dalamnya. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya. Manusia dapat menunaikan tugasnya dalam berbakti kepada Tuhan dengan hidup sesuai dengan hukum-hukum akalnya.
Maksud paham ini adalah menaklukkan wahyu ilahi beserta degan kesaksian-kesaksiannya, yaitu buku-buku Alkitab, mukjizat, dan lain-lain kepada kritik akal serta menjabarkan agama dari pengetahuan yang alamiah, bebas dari pada segala ajaran Gereja. Singkatnya, yang dipandang sebagai satu-satunya sumber dan patokan kebenaran adalah akal. Kant berusaha mencari prinsip-prinsip yang ada dalam tingkah laku dan kecenderungan manusia. Inilah yang kemudian menjadi kekhasan pemikiran filsafat Kant, dan terutama metafisikanya yang  dianggap  benar-benar berbeda sama sekali dengan metafisikan pra kant.

Pengaruh Leibniz dan Hume
Leibniz-Wolf dan Hume merupakan wakil dari dua aliran pemikiran filosofis yang kuat melanda Eropa pada masa Pencerahan. Leibniz tampil sebagai tokoh penting dari aliran empirisisme. Di sini jelas, bahwa epistemologi ‘ala Leibniz bertentangan dengan epistemologi Hume. Leibniz berpendapat bahwa sumber pengetahuan manusia adalah rasionya saja, dan bukan pengalaman. Dari sumber sejati inilah bisa diturunkan kebenaran yang umum dan mutlak. Sedangkan Hume megnajarkan bahwa pengalamanlah sumber pengetahuan itu. Pengetahuan rasional mengenai sesuatu terjadi setelah itu dialami terlebih dahulu.

Epistemologi Kant, Membangun dari Bawah
Filsafat Kant berusaha mengatasi dua aliran tersebut dengan menunjukkan unsur-unsur mana dalam pikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur-unsur mana yang terdapat dalam akal. Kant menyebut perdebatan itu antinomy, seakan kedua belah pihak merasa benar sendiri, sehingga tidak sempat memberi peluang untuk munculnya alternatif ketiga yang barangkali lebih menyejukkan dan konstruktif. Mendapatkan inspirasi dari “Copernican Revolution”, Kant mengubah wajah filsafat secara radikal, dimana ia memberikan filsafatnya, Kant tidak mulai dengan penyeledikan atas benda-benda yang memungkinkan mengetahui benda-benda sebagai objek. Lahirnya pengetahuan karena manusia dengan akalnya aktif mengkonstruksi gejala-gejala yang dapat ia tangkap.
Kant mengatakan: Akal tidak boleh bertindak seperti seroang mahasiswa yang Cuma puas dengan mendengarkan keterangan-keterangan yang telah dipilihkan oleh dosennnya, tapi hendaknya ia bertindak seperti hakim yang bertugas menyelidiki perkara dan memaksa para saksi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri telah rumuskan dan persiapkan sebelumnya. Upaya Kant ini dikenal dengan kritisisme atau filsafat kritis, suatu nama yang diberikannya sendiri. Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis, dan terakhir adalah kritik atas daya pertimbangan.

Kritik atas Rasio Murni
Dalam kritik ini, atara lain kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan, yaitu:
a. Putusan analitis apriori; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (msialnya, setiap benda menempati ruang).
b. Putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bhs latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui.
c. Putusan sintesis apriori; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”.
Tiga tingkatan pengetahuan manusia, yaitu:
a. Tingkat Pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung)
Unsur apriori, pada taraf ini, disebut Kant dengan ruang dan waktu. Dengan unsur apriori ini membuat benda-benda objek pencerapan ini menjadi ‘meruang’ dan ‘mewaktu
 b. Tingkat Akal Budi (Verstand)
Bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi secara spontan. Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data indrawi, sehingga menghasilkan putusan-putusan. Pengetahuan akal budi baru dieroleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman inderawi tadi dengan bentuk-bentuk apriori yang dinamai Kant dengan ‘kategori’, yakni ide-ide bawaan yang mempunyai fungsi epistemologis dalam diri manusia.’.
c. Tingkat intelek / Rasio (Versnunft)
Idea ini sifatnya semacam ‘indikasi-indikasi kabur’, petunjuk-petunjuk buat pemikiran (seperti juga kata ‘barat’ dan ‘timur’ merupakan petunjuk-petunjuk; ‘timur’ an sich tidak pernah bisa diamati). Tugas intelek adalah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat dibawahnya, yakni akal budi(Verstand) dan tingkat pencerapan indrawi (Senneswahnehmung). Dengan kata lain, intelek dengan idea-idea argumentatif.
Kendati Kant menerima ketiga idea itu, ia berpendapat bahwa mereka tidak bisa diketahui lewat pengalaman. Karena pengalaman itu, menurut kant, hanya terjadi di dalam dunia fenomenal, padahal ketiga Idea itu berada di dunia noumenal (dari noumenan = “yang dipikirkan”, “yang tidak tampak”, bhs. Yunani), dunia gagasan, dunia batiniah. Idea mengenai jiwa, dunia dan Tuhan bukanlah pengertian-pengertian tentang kenyataan indrawi, bukan “benda pada dirinya sendiri” (das Ding an Sich). 

Kritik atas Rasio Praktis
Maxime (aturan pokok) adalah pedoman subyektif bagi perbuatan orang perseorangan (individu), sedangkanimperative (perintah) merupakan azas kesadaran obyektif yang mendorong kehendak untuk melakukan perbuatan. Imperatif berlaku umum dan niscaya, meskipun ia dapat berlaku dengan bersyarat (hypothetical)atau dapat juga tanpa syarat (categorical). Imperatif kategorik tidak mempunyai isi tertentu apapun, ia merupakan kelayakan formal (=solen). Menurut kant, perbuatan susila adalah perbuatan yang bersumber paa kewajiban dengan penuh keinsyafan. Keinsyafan terhadap kewajiban merupakan sikap hormat (achtung).Sikap inilah penggerak sesungguhnya perbuatan manusia. Kant, ada akhirnya ingin menunjukkan bahwa kenyataan adanya kesadaran susila mengandung adanya praanggapan dasar. Praanggapan dasar ini oleh Kant disebut “postulat rasio praktis”, yaitu kebebasan kehendak, immortalitas jiwa dan adanya Tuhan.
Pemikiran etika ini, menjadikan Kant dikenal sebagai pelopor lahirnya apa yang disebut dengan “argumen moral” tentang adanya Tuhan. Sebenarnya, Tuhan dimaksudkan sebagai postulat. Sama dengan pada rasio murni, dengan Tuhan, rasio praktis ‘bekerja’ melahirkan perbuatan susila.

Kritik atas Daya Pertimbangan
Kritik atas daya pertimbangan, dimaksudkan oleh Kant adalah mengerti persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat objektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.

Idealisme Transedental: Sebuah Konsekuensi
Tidak mudah memahami kant, terutama ketika sampai pada teorinya: realisme empirikal (Empirical realism)dan Idealisme transendental (transendental idealism), Istilah “transenden” berhadapan dengan istilah ‘empiris’, dimana keduanya sama-sama merupakan term epistemologis, namun sudah tentu mengandung maksud yang berbeda; yang pertama berartiindependent dari pengalaman (dalam arti transenden), sedang yang terakhir disebut berarti imanen dalam pengalaman. Begitu saja “realisme” yang berlawanan dengan “idealisme”, adalah dua istilah ontologis yang masing-masing bermakna: “lepas dari eksistensi subyek” (independet of my existance) dan “bergantung pada eksistensi subyek” (dependent of my existence).
Teori Kant ini mengingatkan kita kepada filsuf Berkeley dan Descartes. Berkeley tentu seorang empirisis, tetapi ia sekaligus muncul sebagai seroang idealis. Sementara Descartes bisa disebut seorang realis karena ia percaya bahwa eksistensi obyek itu, secara umum, independen dari kita, tetapi ia juga memahami bahwa kita hanya mengetahui esensinya melalui idea bawaaninnate ideas) secara “clear and distinct”, bukan melalui pengalaman. Inilah yang kemudian membuat Descartes sebagai seorang “realis transendental”. 

KESIMPULAN
Kritisisme Immanuel Kant sebenarnya telah memadukan dua pendekatan dalam pencarian keberadaan sesuatu yang juga tentang kebenaran substansial dari sesuatu itu. Kant seolah-olah mempertegas bahwa rasio tidak mutlak dapat menemukan kebenaran, karena rasio tidak membuktikan, demikian pula pengalaman, tidak dapat dijadikan melulu tolak ukur, karena tidak semua pengalaman benar-benar nyata, tapi “tidak-real”, yang demikian sukar untuk dinyatakan sebagai kebenaran.
Melalui pemahaman tersebut, rasionalisme dan empirialisme harusnya bergabung agar melahirkan suatu paradigm baru bahwa kebenaran empiris harus rasional sebagaimana kebenaran rasional harus empiris.

DAFTAR PUSTAKA
Muslih, Mohammad. Filsafat Ilmu. Jogjakarta: Belukar, 2004.
S.Praja.Juhaya,Aliran-aliran filsafat dan etika.Cet II;Jakarta:Prenada Media 2005.
Akhmadi,Asmoro,Filsafat Umum. Cet V; Jakarta: RajaGrafindo Persada.2003.



*) Penyusun
Nama               : Lilik Indriarini
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.


Filsafat Thomas Aquinas
05/11/2012
Sejarah perkembangan filsafat barat merupakan hal yang menarik untuk dikaji. Terdapat banyak teori atau aliran filsafat yang mewarnai dunia pengetahuan barat yang kini dikenal sebagai negara-negara maju. Kemajuan perkembangan pengetahuan  mesyarakat negara-negara tersebut tidak sepenuhnya lepas dari perkembangan filsafat yang melatarbelakanginya. Perkembangan filsafat-filsafat yang ada dan terjadi memberikan corak warna pada kehidupan masyarakat di dunia.
Seiring perkembangan zaman, paradigma berfikir massyarakat barat modern lebih banyak dipengaruhi oleh aliran logis, yaitu filsafat Positivisme Logis. Filsafat ini mengajarkan bahwa hanya daya panca indera manusialah yang mampu mengubah kehidupan masyarakat dunia menjadi lebih maju, dalam hal ini masyarakat menjadi maju pesat dalam bidang pengetahuan.
Sebelum filsafat Positivisme Logis menjiwai masyarakat barat, lahir pemikiran atau filsafat yang disampaikan oleh filsuf termasyhur bernama Santo Thomas Aquinas. Aliran filsafatnya bertentangan dengan filsafat barat yang menentang metafisika. Karena dilahirkan di Italia dan pernah menempuh studi di Universitas Paris, pemikiran Thomas Aquinas juga diperngaruhi oleh pemikiran muslim, meskipun beliau adalah seorang Khatolik yang taat.
Thomas Aquinas merupakan filsuf dan teolog yang teguh pendiriannya. Ketika para ilmuwan Barat menentang teori-teori filsafatnya dengan gencar, beliau tettap kokoh mempaertahankan prinsip-prinsip yang mengakui adanya kekuatan Allah yang tidak sama dengan para makhluk-Nya. Beliau memberikan pencerahan tentang etika, dan membedakan antara pengetahuan dan keimanan manusia.


Biografi Thomas Aquinas
St. Thomas Aquinas, salah satu tokoh filsafat barat pada abad pertengahan, dilahirkan di Lombardy, Rossa Sicca, daerah di kerajaan Napels, Italia pada tahun 1225 M (ada sumber yang menyebutkan pada tahun 1224 M). Dia berasal dari keluarga keturunan bangsawan, Kaisar Frederick I dan Henry VI. Thomas Aquinas terlahir dari pasangan Pangeran Landulf, keturunan Aquino dan Theodora, seorang Countest of Teano. Keluarganya  merupakan penganut agama Khatolik yang taat. Latar belakang ini ikut menentukan latar belakang pendidikan dan tujuan hidupnya.
Thomas Aquinas yang juga dikenal dengan nama Italia yaitu Thomaso d’Aquino, ketika berumur lima tahun (sekitar tahun 1257), Thomass Aquinas mulai belajar di Biara Benedictus di Monte Cassino hingga dia berusia lima belas tahun. Setelah selama sepuluh tahun belajar di Monte Casssino sebagai pendidikan dasar guna menjadi seorang biarawan, dia melanjutkan memperdalam ilmu bahasa di negara lain dengan beralih menjadi seorang Ordo Dominikan. Hal ini pada mulanya ditentang oleh keluarganya yang merupakan penganut Khatolik yang taat, namun tekat bulatnya pada akhirnya mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya sehingga dia mendapatkan restu dari keduanya dan ressmi menjadi salah seorang anggota Ordo Dominikan tepat pada tahun 1245.
Pada mulanya dia belajar di Napels, tepatnya di Universitas Frederick II Nepal selama enam tahun, kemudian melanjutkan pendidikannya di Paris dibawah bimbingan seorang Aristotelian termasyhur bernama Albertus Agung. Dari beliau, St. Thomas Aquinas mendapatkan teori-teori filsafat Aristoteles.
Ketekunannya dalam mempelajari ilmu selama menempuh pendidikan membawanya menjadi seorang Doktor dalam bidang teologi dari Universitas Paris. Dia kemudian mendapat kepercayaan untuk mengajar disana sampai dengan tahun 1259 M. Selanjutnya dia aktif menjadi biarawan di beberapa biara Dominican, Roma, Italia selama kurang lebih sepuluh tahun atau hingga sekitar tahun 1269 M.
Semasa hidupnya, Thomas Aquinas berjasa dalam memberi kuliah bidang filsafat dan teologi beberapa kota yang ada di Italia, yaitu kota Anangi, Orvetio, Roma, dan Vitebro. Selanjutnya, dia kembali ke Paris selama tiga tahun sebelum dia dipanggil ke Naples guna mengemban tugas yang sama dan peran tambahan sebagai pendiri sekolah Dominican disana pada tahun 1272 M.
St. Thomas Aquinas, seorang teolog yang terkenall pada era abad pertengahan, meninggal dunia ketika berusia sekitar lima puluh tahun, tepatnya pada tanggal 7 Maret 1274 M. Pemikirannya tidak lenyap seiring dengan kepergiannya dari dunia fana, tetapi tetap melegenda dan senantiasa massih digunakan sebagai rujukan bahkan pada masa kini, ketika penulis makalah ini menyusun karya tulis (makalah) ini.

Pemikiran Thomas Aquinas
Thomas Aquinas, seorang filsuf dan teolog barat termasyhur pada masa abad pertengahan. Pemikirannya merupakan tidak lepas dari pengaruh dua orang filosof besar, Agustinus dan Aristoteles dapat mengguncang Eropa. Pada masanya, pemikiran yang dicetuskan oleh Thomas Aquinas, yang membangun keharmonisan antara agama dan akal membawa pengaruh yang sangat kuat di jajaran masyarakat Eropa. Pemikiran-pemikiran Thomas Aquinas yaitu filsafat thomisme, Essentia dan Exentia, Argumen Kosmologi, filsafat tentang penciptaan, filsafat tentang makhluk murni, filsafat jiwa, dan Etika Teologis.
Berikut ini adalah rincian pemikiran St.Thomas Aquinas:
  1. 1.             Thomisme
Thomisme adalah aliran filsafat yang dicetuskan sebagai hasil pemikiran St.Thomas Aquinas, seorang imam Khatolik yang saleh. Kata ”thomisme” berasal dari Summa Theologica, salah satu dokumen paling berpengaruh dalam filsafat abad pertengahan dan terus dipelajari oleh generasi penerus, bahkan generasi sekarang. Dalam ensiklopedi Angelici Doctoris, Paus St Pius X mengingatkan bahwa ajaran-ajaran Gereja tidak bisa dipahami secara ilmiah tanpa dasar-dasar filosofis dasar utama tesis ‘Thomas.
St Thomas Aquinas percaya bahwa kebenaran adalah benar dimana pun ditemukan, seperti juga para filsuf Yunani , Romawi , Yahudi , dan Muslim. Secara khusus, ia adalah seorang realis. Dia mengakui bahwa dunia dapat diketahui seperti apa adanya. St Thomas Aquinas menganut faham terminologi dan metafisika Aristoteles. Filsafat Thomismenya ini menekankan pada pengertian materi dan bentuk, potensi dan aktus, serta bakat dan perealisasiannya. Filsafat ini mempunyai tujuan untuk menciptakan kedamaian Yunani dan Nasrani dalam hal filsafat sekuler.
Thomas mengikuti pemahaman Aristoteles, merujuk kepadanya sebagai “Filsuf”. St. Thomas Aquinas juga mengikuti beberapa prinsip neoplato, seperti ketika dia mengatakan bahwa “adalah mutlak benar bahwa ada sesuatu yang pertama yang pada dasarnya ada dan pada dasarnya baik , yang kita sebut Allah, … [dan bahwa segala sesuatu] bisa disebut baik dan ada, sejauh ia berpartisipasi di dalamnya dengan cara suatu asimilasi tertentu …”
  1. 2.             Essentia dan Exentia
Ajaran Thomas Aquinas yang dikenal dengan sebutan Essentia dan Exentia ini. Essentia mengajarkan hakikat Tuhan, sedangkan esentia mengajarkan keberadaan Tuhan. Menurut filsafat ini, Tuhan adalah sempurna keberadaannya dan tidak berkembang.Dalam ajaran ini, essensi dan esketia tentang Tuhan adalah ada dan satu.Filsafat ini membedakan Tuhan dengan makhluk ciptaan-Nya, dimana Tuhan ada satu, sedangkan makluknya tidak bersifat satu. Menurut Thomas, Allah (Tuhan) merupakan aktus paling umum yang disebut dengan actus purus(aktus murni), dimana Tuhan dinyatakan nyata adanya dan bersifat tunggal (Esa).

  1. 3.             Argumen Kosmologi
Ajaran atau filsafat Thomas Aquinas yang ketiga adalah argumen kosmologi dan biasa disebut teologi naturalis. Dalam kosmologi, Thomas Aquinas berpendapat bahwa manusia dapat mengenal Allah melalui akal yang mereka miliki, meskipun pengetahuan tentang Allah yang mereka peroleh dengan akal terrsebut tidak jelas dan menyelamatkan. Dengan akal yang mereka miliki, manusia sebagai makhluk Tuhan (Allah) dapat mengetahui bahwa Allah itu ada dengan sifat-sifat yang dimiliki-Nya.
St. Thomas Aquinas menyampaikan lima bukti adanya Tuhan sebagaimana rincian berikut:
  1. Adanya gerak di dunia mengharuskan kita menerima bahwa ada penggerak pertama yaitu Allah. Menurut Thomas apa yang bergerak tentu digerakkan oleh sesuatu yang lain. Gerak menggerakkan ini tidak dapat berjalan tanpa batas. Maka harus ada penggerak pertama. Penggerak pertama ini adalah Allah.
  2. Di dalam dunia yang diamati terdapat suatu tertib sebab-sebab yang membawa hasil atau yang berdaya guna. Tidak pernah ada sesuatu yang diamati yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, maka harus ada sebab berdaya guna yang pertama, inilah Allah.
  3. Di dalam alam semesta terdapat hal-hal yang mungkin ada dan tidak ada. Oleh karena semuanya itu tidak berada sendiri tetapi diadakan, dan oleh karena semuanya itu dapat rusak, maka ada kemungkinan semua itu ada, atau semuanya itu tidak ada. Jika segala sesuatu hanya mewujudkan kemunginan saja, tentu harus ada sesuatu yang adanya mewujudkan suatu keharusan. Padahal sesuatu yang adanya adalah suatu keharusan, adanya itu disebabkan oleh sesuatu yang lain, sebab-sebab itu tak mugkin ditarik hingga tiada batasnya. Oleh karena itu, harus ada sesuatu yang perlu mutlak, yang tak disebabkan oleh sesuatu yang lain, inilah Allah.
  4. Diantara segala yang ada terdapat ha-hal yag lebih atau kurang baik, lebih atau kurang benar dan lain sebagainya. Apa yang lebih baik adalah apa yang lebih mendekati apa yang terbaik. Jadi jikalau ada yang kurang baik, yang baik dan yang lebih baik, semuanya mengharuskan adanya yang terbaik. Dari semuanya dapat disimpulkan bahwa harus ada sesuatu yang menjadi sebab daris segala yang baik, segala yang benar, segala yang mulia. Yang menyebabkan semuanya itu adalah Allah.
  5. Kita menyaksikan, bahwa segala sesuatu yang tidak berakal seperti umpamanya tubuh alamiah, berbuat menuju pada akhirnya. Dari situ tampak jelas, bahwa tidak hanya kebetulan saja semuanya itu mencapai akhirnya, tapi memang dibuat begitu. Maka apa yang tidak berakal tidak mungkin bergerak menuju akhirnya, jikalau tidak diarahkan oleh suatu tokoh yang berakal, berpengetahuan. Inilah Allah.
Dari kelima bukti di ats, kita dapat mengetahui bahwa ada suatu tokoh yang menyebabkan adanya segala sesuatu, tokoh/actus yang berada karena diriNya sendiri, yaitu Tuhan (Allah), tetapi semua itu tidak dapat membuktikan hakikat Allah yang sebenarnya kepada manusia. Para insan tahu sebatas bahwa Allah ada tanpa mengetahui wujud riil-Nya. Namun, pada dasarnya para manusia memang memiliki beberapa pengetahuan filsafat tentang Allah.
Berpijak pada keyakinan dan kenyatan bahwa manusia mempunyai kelebihan yang membedakan mereka dengan makhluk lain, yaitu akal, St. Thomas Aquinas berpendapat bahwa terdapat tiga cara yang dapat ditempuh manusia untuk mengenal Tuhannya. Ketiga cara tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Segala makhluk sekadar mendapat bagian dari keadaan Allah. Hal ini mengakibatkan, bahwa segala yang secara positif baik pada para makhluk dapat dikenakan juga kepada Allah (via positiva).
  2. Via Negativa, merupakan kebalikan dari teori pertama. Disebabkan oleh adanya analogi keadaan yaitu segala yang ada pada makhluk tentu tidak ada pada Allah dengan cara yang sama
  3. Jadi ada yang baik pada makhluk tentu berada pada Allah dengan cara yang jauh melebihi keadaan pada para makhluk itu (via iminentiae).

  1. 4.             Penciptaan
Pemikiran filsafat Thomas Aquinas yang tidak kalah penting dari yang lain adalah filsafat tentang teori penciptaan.Filsafat ini tidak lepas dari ajaran tentang partisipasi, dasar yang dia terima dari Agustinus-Neoplatonisme. Namun demikian terdapat perbedaan yang mendasar antara pemikiran kedua tokoh tersebut. Ajaran Neoplatonisme menekankan emansipasi makhluk, sedangkan ajaran Thomas Aquinas menekankan pada kelebihan Allah, yaitu murni karya penciptaan Allah yang menyebabkan keberadaan dunia seisinya.
Penciptaan merupakan perbuatan Allah secara kontinu dan berkelanjutan. Adapun makluk-makhluk dan benda-benda ciptaan-Nya bersifat fana. Dari kekekalan, Allah menciptakan jagat raya dan waktu. Penciptaan yang terjadi secara kontinu untuk menciptakan para makhluk untuk dipelihara. Dengan demuikian tidak ada dualisme Allah dan para makhluk-Nya, seperti manusia dan alam semesta. Menurut ajaran ini, Allah menciptakan dati ”yang tiada” yang biasa disebut ex nihilo. Mengutip bahasa Al-Qur’an, Allah (Islam) bersifat Maha Menciptakan, melalui kun fayakun Nya, Dia (Allah) berkuasa penuh atas perwujudan makhluk yang Dia ciptakan.

  1. 5.             Makhluk murni
Dalam teori filsafat ini, para malaikat yang merupakan makhluk rohani yang murni juga tersusun dari essentia dan exentia. Malaikat-malaikat itu berwujud roh (essentia/hakikat) dan bereksitensi. Hakikat dan eksisitensi para malaikat membedakan mereka dengan makhluk-makhluk lain seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati. Karena para malaikat tidak mempunyai potensi untuk berkembang sebagaimana makhluk hidup ciptaan Allah yang lain, mereka tidak mempunyai susunan materi, bentuk, potensi dan aktus, para malaikat tidak memiliki jasad, hanya ruhlah yang menjadi essentia (hakikat) mereka.

  1. 6.             Jiwa
Pada bahasan teori filsafat tentang makhluk murni menekankan pada hakikat dan eksistensi para malaikat, sementara pada filsafat Jiwa, hal yang ditekankan adalah hakikat dan eksistensi manusia. Menurut teori ini, manusia adalah makhluk yang berdiri sendiri dan tersusun atas bentuk dan materi. Manusia memiliki jiwa atau ruh dengan tubuh/jasad sebagai bentuknya.
Menurut Thomas Aquinas, jiwa dan jasad tidak dapat dipisahkan, mereka saling berhubungan. Jiwa bukanlah hal yang berdiri sebagai individu melainkan merupakan daya gerak yang memberikan wujud kepada tubuh sebagai materi. Sehingga, manusia memiliki dua hal yang menyatu sebagai pembentuk diri, yaitu pembentuk jassmani dan rohani mereka. Jiwalah yang menjadi kekuatan ruhani manusia, yang menyatu dalam jasad manusia dan memiliki lima daya/kekuatan sebagai berikut:
  1. Daya jiwa vegetatif, yaitu hal yang berkaitan dengan penggantian zat dan pembiakan.
  2. Daya jiwa yang sensitif, yaitu yang berkaitan dengan keinginan. Jiwa mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi arah keinginan manusia.
  3. Daya jiwa yang menggerakkan. Jasad para makluk, termassuk manusia dapat tergerak untuk hal-hal tertentu karena pengaruh jiwa.
  4. Daya jiwa untuk berfikir. Dengan adanya jiwa, manusia terdorong untuk berfikir, menentukan tata cara melakukan dan mewujudkan perubahan.
  5. Daya jiwa untuk mengenal. Proses identifikasi yang dilakukan manusia terhadap hal yang ada dan terjadi di sekeliling mereka dipengaruhi oleh jiwa dan kekuatannya. Dengan jiwa pula manusia dapat mengenal Tuhan.

  1. 7.             Etika Teologis
Tidak terlepas dari hubungan dan kehidupan manusia, filsafat etila teologis yang disampaikan oleh Santo Thomas Aquinas ini mengajarkan tentang moral. Etika mencakup moral yang diberlakukan bagi manusia sebagai individu maupun kelompok/masyarakat, menurut ajaran ini merupakan cahaya yang diturunkan oleh Allah dari cahaya manusia atau diturunkan dari tabiat manusia sebagai makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat. Menurut Thomas Aquinas tindakan yang mengerakkan manusia kepada tujuan akhir berkaitan dengan kegiatan manusiawi bukan dengan kegiatan manusia. Perintah moral yang paling dasar adalah melakukan yang baik, menghindari yang jahat.
Berbeda dengan khalayak pada era kehidupannya, St. Thomas Aquinas menganut pola pikir dan metode induktif. Dia menyesuaikan etika dengan kenyataan hidup. Etikanya bersifat teologis, etika yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah sebagai Sang Pencipta. Namun demikian, etika teologis yang dia sampaikan tidak membuat ciri khas filosofis bahwa etika mempunyai kecenderungan untuk mengarahkan manusia menemukan garis hidup dan akalnya lenyap begitu saja. Realisaasinya adalah mewujudkan tujuan paling akhir dari kehidupan manusia yaitu secara perorangan manusia meyakini Allah dan secara sosial masyarakat, manusia harus diatur sesuai dengan tuntutan tabiat manusia untuk dapat saling membantu sesama manusia dalam mengendalikan nafsu yang tidak lepas dari diri dan jiwa mereka.
Menurut St. Thomas Aquinas, pada dasarnya semua nafsu adalah baik. Yang manjadikan wujud kejahatan pada nafsu-nafsu tersebut adalah ketika nafsu-nafsu tersebut melanggar wilayah masing-masing dantidak mendukung akal serta kehendak. Kejahatan selalua ada selama kebaikan masih ada. Nafsu dapat dikendalikan melalui akal yang merupakan pencerminan dari akal Illahi, akal yang mendasari kehidupan yang berpijak dan beriman kepada Allah sehingga akal tersebut dapat menghasilkan kebajikan.
Pandangan St.Thomas Aquinas mengenai peraturan menunjukkkan kelebihan etika filsafat yang dia sampaikan dibandingkan dengan etika teolog yang lain.


PENUTUP

Menurut sejarah perkembangan dunia dan pengetahuan, pada masa abad pertengahan merupakan masa dimana perkembangan pengetahuan di belahan dunia barat tidak berkembang secara baik. Pada masa itu, pengetahuan menglami masa suram. Dalam keadaan seperti ini, St. Thomass Aquinas terlahir sebagai pencerah. Beliau menyumbangkan buah pikirannya berupa filsafat teologi yang diyakini dan digunakan sebagai rujukan pengembangan pengetahuan filsafat hingga kini.
Filsafat-filsafatnya banyak didasari oleh prinsip-prinsip dan teori Aristotelisme (prinsip-prinsip yang dicetuskan oleh Aristoteles). Selain menganut prinsip Aristotelisme, St. Thomas Aquinas dalam mencetuskan filsafat-filsafatnya tidak terlepas dari pengaruh pengetahuan yang beliau dapatkan dari karya-karya Neoplatimisme maupun Augustinus dan pelajaran dari Albertus Magnus.


DAFTAR PUSTAKA

Collison, Diane.2001. Lima Puluh filosof Dunia yang Menggerakkan. Jakarta: Raja Grafindo        Persada.
Hadiwijono, Harun. 1989. Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kanisius
http://blog.persimpangan.com/ filafat-perenialisme.


*) Penyusun
Nama               : Dwi Pujianingtyas Prabaningrum
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.


Konsep Pemikiran Post Modernisme Michel Faucault
Postmodern merupakan istilah yang mungkin bagi sebagian mahasiswa merupakan istilah yang asing dan sulit untuk mendefinisikan makna dari istilah tersebut. Namun dalam dunia filsafat, Postmodern atau Postmodernisme sangat berpengaruh dalam perkembangan dunia filsafat dan keberadaan filsafat di kalangan filosof. Postmodernisme adalah istilah yg sangat kontroversial. Di bidang seni dan filsafat istilah ini dianggap sebagai sekedar mode intelektual yang dangkal dan kosong atau sekedar refleksi yang bersifat reaksioner atas perubahan sosial yang kini sedang berlangsung. Postmodernisme memang merupakan istilah yang sangat longgar pengertiannya atau bisa disebut juga sangat ambigu. Ia digunakan untuk memayungi segala aliran pemikiran yang satu sama lain seringkali tidak persis saling berkaitan. Meskipun sedemikian beragamnya aliran pemikiran yang termasuk dalam istilah Postmodernisme, namun kita masih bisa mengidentifikasi atau mengelompokkannya. Secara agak kasar kita bisa mengelompokkannya misalnya ke dalam kelompok Dekonstruktif dan yang lain cenderung Konstruktif atau Revisioner. Pada kelompok Dekonstruktif terdiri dari pemikiran-pemikiran tokoh filosof seperti Derrida, Lyotard, Foucault dan Rorty. Sedangkan yang cenderung Konstruktif atau Revisioner misal Heidegger, Gadamer, Mary Hesse, Frederic Ferre dan masih banyak lagi.
Oleh karena banyaknya pemikir-pemikir di era Postmodern di dunia, mari kita sedikit lebih memperjelas bagaimana Postmodernisme itu seperti apa, agar kita bisa lebih memahami filsafat secara luas. Michel Foucault seorang filosof Perancis yang sangat terkenal di dunia sejarah dan filsafat akan kita bahas di penulisan makalah kali ini. Michel Foucault adalah salah satu filosof penting abad ke-20 yang pemikirannya sampai hari ini masih relevan dipakai untuk memahami fakta sosial dan perkembangan budaya kontemporer, sekaligus juga masih menjadi bahan perdebatan. Sebagian pendapat memasukkan pemikiran Foucault dalam kelompok strukturalisme dan sebagian lagi memasukkannya dalam laju pemikiran post-strukturalisme sebagai perkembangan strukturalisme. Foucault sendiri menolak itu semua dengan mengatakan bahwa pemikirannya adalah khas dirinya dan tidak dapat dimasukkan dalam aliran pemikiran manapun. Namun demikian, makalah ini akan mencoba melihat jejak-jejak strukturalisme dalam pemikiran Foucault, khususnya yang berhubungan dengan konsep-konsepnya tentang épistémè, wacana, pengetahuan, dan kekuasaan.


BIOGRAFI TOKOH

Michel Foucault adalah seorang tokoh filosof dan sejarawan perancis di tahun 1926-1984 yang berasosiasi dengan pergerakan strukturalis dan post-strukturalis. Dia mempunyai pengaruh yang sangat besar, tidak hanya dalam filosofi tetapi juga di ruang lingkup kemanusiaan dan bidang ilmu sosial. Karya pertamanya berjudul Kegilaan dan Ketidakbernalaran, Sejarah pada Masa Klasik, dipresentasikan untuk menempuh gelar doktoralnya di tahun 1959 di bawah bimbingan George Canguilhem. Karya tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1961. Pada tahun 1970 ia diangkat sebagai dosen Sejarah Sistem Pemikiran di Perancis.
Foucault lahir di Poitiers, Perancis pada tanggal 15 oktober 1926. Pada masa studinya dia terlihat seperti mempunyai gangguan psikologis namun dia mempunyai kecerdasan yang brilian. Pada usia 25 tahun dia menerima Agregasi dan pada tahun 1952 memperoleh Diploma dalam psikologi. Pada tahun 1950 dia bekerja di Rumah Sakit Jiwa dan pada tahun 1955 mengajar di Universitas Uppsala (Swedia). Secara akademik dia menjadi semakin mandiri sepanjang tahun 1960an, ketika dia memegang kursi jabatan di Collège de France, sebelum terpilih pada tahun 1969 sebagai perguruan tinggi paling bergengsi di Perancis, kemudian dia mendapatkan gelar sebagai Profesor Sejarah Sistem Pemikiran sampai dia mati. Dari tahun 1970an, Foucault sangat aktif di bidang politik. Dia adalah penemu Groupe d’information sur les prisons dan sering memprotes homosexual dan kelompok tersisih lainnya. Dia sering kali mengajar diluar Perancis, khususnya di United States, dan pada tahun 1983 dia dipercaya untuk setiap tahun  mengajar di University of California di Berkeley. Tak berapa lama menjadi korban AIDS, Foucault meninggal di Paris pada tanggal 25 juni 1984. Selain itu untuk mempublikasikan hasil kerja semasa hidupnya, dosennya di Collège de France mengumumkannya sebagai anumerta yg berisikan penjelasan penting dan kelanjutan pemikirannya.
Sangat sulit jika berfikir tentang Foucault sebagai seorang filosof. Susunan akademiknya di psikologi dan sejarahnya sama banyak dengan di filosofi, bukunya sering kali berhubungan dengan sejarah medis dan pengetahuan sosial, semangatnya terhadap sastra dan politik. Foucault paling dikenal dengan penelitian tajamnya dalam bidang institusi sosial terutama psikiatri, kedokteran,ilmu kemanusiaan, dan sistem penjara dan karya-karyanya tentang sejarah. Pada tahun 1960an foucault sering diasosiasikan dengan gerakan strukturalis. Foucault kemudian menjauhkan dirinya dari gerakan pemikiran ini, meski sering dikarakteristikan sebagai seorang posmodernis Foucault selalu menolak label posstukturalis dan posmodernis.
Foucault menolak dirinya dimasukkan dalam jajaran pemikir strukturalis, tetapi beberapa karyanya lahir di tengah-tengah masa jaya strukturalisme dan di dalamnya dapat ditemukan kemiripan pemikiran dengan tokoh-tokoh strukturalisme lainnya. Harus diakui bahwa pemikiran Foucault berkembang dan mengalami perubahan, namun tetap saja strukturalisme masih membayanginya.


PEMIKIRAN TOKOH

  1. A.    Michel Foucault dan Postmodernisme
Tulisan karya Michel Foucault banyak berisikan tentang topik yang tidak hanya sesuai dengan tema dari sosiologi kontemporer, tetapi juga menyeluruh ke dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Topik ini menjangkau semua aspek dari volume seksualitas, kegilaan, penjara, rumah sakit, dan pengetahuan untuk kesusastraan, seni dan pemerintahan. Foucault adalah seorang kritikus rasionalitas modern, ide liberal dari kebebasan dan pendahulu gagasan diri sendiri dan subjektivitas. Tulisan Foucault memperkenalkan metode baru dari teori dan tertantang setidaknya beberapa teori sosiologi klasik yang beranggapan tentang dasar pengetahuan. Foucault adalah pemikir yang sulit dan menarik, dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang masih diperdebatkan. Pengedaliannya terhadap wacana, analisa kekuatan dan sejarah pada konstitusi subyek modern mungkin diperdebatkan tetapi mereka tidak bisa menyangkalnya. Foucault mendeskripsikan bagaimana gagasan modern dari liberasi dan alasan yang pada akhirnya akan masuk ke dalam jenis pengetahuan dan mengubah institusional yang akan meningkatkan pengamatan, kontrol dan peraturan. Postmodernisme telah menjadi perdebatan yang panas di dalam ilmu sosiologi. Postmodernisme merupakan sebuah pendekatan ke masyarakat kontemporer yang berbeda dari struktur sebelumnya. Para penganut Postmodernisme terkenal dengan keanekaragaman dan ketidaksinambungan, mereka lebih suka seperti itu daripada keseragaman dan linear. Penganut Postmodernisme menegaskan secara kontekstual dan menyanggah tuntutan kualitas pengetahuan, mereka mengusulkan bahwa pencarian dasar kebenaran dan pengetahuan dikaburkan kualitasnya. Postmodernisme seakan sebagai pembeda antara budaya yang tinggi dan budaya populer. Sebagian penulis memandangnya sebagai sebuah keterkaitan antara peralihan penciptaan kapitalis dan Postmodernisme, dengan meningkatnya konsumsi, promosi dan keuangan kapital.
Postmodern dikenal sebagai gerakan pemikir dan bukan suatu teori tentang perubahan sosial, namun analisanya sangat kritis terhadap proyek modernisme. Michel Foucault adalah salah satu tokoh penting dan berpengaruh dalam gerakan Postmodernisme. Dia yang telah menyumbangkan teori kritik terhadap teori pembangunan dan modernisasi dari sudut pandang yang jauh berbeda dengan teori kritik lainnya. Gerakan Postmodernisme sangat melekat dan sejalan dengan pemikiran Foucault, sebagai contohnya pada tahun 1980 dia menuangkan pemikirannya ke dalam tulisan karyanya seperti The Order of Things, The Archeology of Knowledge, Dicipline and Punish, Language, Counter Memory, Practise, The History of Sexuality dan Power Knowledge. Sebagai contoh lain pemikiran Foucault yang utama adalah penggunaan analisis diskursus untuk memahami kekuasaan yang tersembunyi di balik pengetahuan. Analisisnya terhadap kekuasaan dan pengetahuan memberikan pemahaman bahwa peran pengetahuan pembangunan telah mampu melanggengkan dominasi terhadap kaum marjinal. Pemikiran Foucault tentang kontrol penciptaan diskursus dan bekerjanya kekuasaan (power) pada pengetahuan sangat membantu para teoritisi dan praktisi perubahan sosial untuk melakukan pembongkaran terhadap teori dan praktek pembangunan.

  1. B.     Michel Foucault dan Strukturalisme
Strukturalisme adalah pendekatan yang melihat berbagai gejala budaya dan alamiah sebagai sebuah struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan dalam satu kesatuan (Piaget). Kaum strukturalis berpendapat bahwa praktik sosial yang nampak di masyarakat saat ini sebenarnya selalu didasari oleh stuktur dalam atau fundamental yang biasanya tidak terlihat beroperasi di bawah kesadaran manusia. Sehingga strukturalisme ditentukan oleh struktur tersebut dalam praktik sosialnya. Salah satu karya Foucault yang sangat dekat dengan strukturalisme adalah Les mots et les choses (1966) dan L’archeologie du savoir (1969). Karyanya tersebut Foucault diprediksi untuk mampu menjadikan srukturalisme sebagai filosofi baru bagi para filosof dan para intelektual Paris pada masa itu menggantikan eksistensialisme yang mulai surut. Karya Foucault tersebut dijadikan sebagai filosofi baru yang menyetujui pernyataan subjek tidak memaknai dunia melalui kebebasannya yang penuh dengan kecemasan seperti pemikiran kaum eksistensialis, tetapi subjek ditentukan oleh struktur dalam yang ada di balik kesadaran manusia. Kedua karya Foucault tersebut memperkenalkan istilah épistémè yang kemudian dapat dijelaskan sebagai sebuah struktur pengetahuan atau gagasan. Dalam Les mots et les choses (1966) Foucault melahirkan istilah épistémè yang secara sederhana dapat diartikan sebagai keseluruhan ruang bermakna, stratigrafi yang mendasari kehidupan intelektual, serta kumpulan prapengandaian pemikiran suatu jaman. Sebagai sebuah struktur, épistémè dapat dikenali dari salah satu sifat struktur yang disepakati oleh para pemikir strukturalis, yaitu totalitas. Dalam bukunya L’archeologie du savoir (1969) Foucault menjelaskan épistémè sebagai sebuah totalitas yang menyatukan, dalam arti mengendalikan cara kita memandang dan memahami realitas tanpa kita sadari. Menurut Foucault épistémè tidak bisa dilihat atau bahkan disadari ketika kita ada di dalamnya, hal itu disebabkan oleh pandangan bahwa kita telah berada dalam épistémè yang berbeda ketika kita sadar akan épistémè yang mempengaruhi kita. Épistémè tidak bisa dilacak, tetapi dapat ditemukan dengan cara mengungkap “yang tabu, yang gila, dan yang tidak benar” menurut pandangan suatu jaman. Pada saat kita menemukan “yang tabu”, maka kita telah mengetahui sebelumnya “yang pantas”. Saat kita tahu “yang gila”, maka kita sebelumnya telah tahun mana “yang normal”. Demikian juga dengan “yang tidak benar”, saat kita temukan, berarti kita ada di dalam “yang benar”. Klasifikasi-klasifikasi itulah yang sepenuhnya didasari oleh épistémè suatu jaman. Oleh karena itulah Foucault sangat serius mendalami masalah kegilaan, seksualitas, dan kejahatan, karena melalui ketiga hal itulah dia bisa mengidentifikasi épistémè suatu jaman.

  1. C.    Wacana dan Kekuasaan Menurut Foucault
Ketika Foucault menjelaskan épistémè dan mengungkap “yang tabu, yang gila, dan yang tidak benar” pada suatu zaman, dia memperkenalkan bagaimana kaitan antara wacana, pengetahuan dan kekuasaan secara jelas. Hal tersebut menggambarkan hubungan yang erat antara bahasa dan realitas. Bahasa di sini berarti adalah wacana yang merupakan pengetahuan yang terstruktur. Menurut Foucault, berbicara tentang wacana, berarti berbicara tentang aturan-aturan, praktik-praktik yang menghasilkan pernyataan-pernyataan yang bermakna pada satu rentang historis tertentu. Wacana menurut Foucault berkaitan erat dengan konsep kekuasaan. Konsep kekuasaan Foucault berbeda dengan konsep kekuasaan yang telah ada sebelumnya. Foucault mendefinisikan kembali kekuasaan dengan menunjukkan ciri-cirinya, bahwa kekuasaan itu tersebar, tidak dapat dilokalisasi, merupakan tatanan disiplin dan dihubungkan dengan jaringan, memberi struktur kegiatan-kegiatan, tidak represif tetapi produktif, serta melekat pada kehendak untuk mengetahui. Kekuasaan Foucault bukanlah milik tetapi strategi. Dalam hal ini Foucault tidak memisahkan antara pengetahuan dan kekuasaan. Tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan dan tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan.


PENUTUP

Michel Foucault memiliki pemikiran yang memang cenderung menjurus ke paham strukturalis dan postmodernisme. Namun Foucault tidak sepenuhnya menjadi penganut paham tersebut. Konsep pemikiran Foucault menunjukkan sebuah mekanisme kerja yang halus, terstruktur, dan menyeluruh. Sehingga hal tersebut sangat berpengaruh terhadap suatu praktik sosial suatu individu. Hal ini memang sejalan dengan konsep pemikiran strukturalisme yang memperlihatkan ide-ide post strukturalis Foucault yang mengarah pada postmodernisme.
Foucault adalah seorang filosof Perancis yang menonjol. Karya-karya Foucault banyak mempengaruhi secara kuat disiplin yang luas terutama pada lapangan kritik sastra, gender studies dan kriminologi. Gagasan-gagasan Foucault sendiri sangat luas menyangkut filsafat, sosiologi, sejarah, psikologi, cultural studies, kedokteran, gender, sastra dan lainnya.
Satu hal yang menonjol dari keseluruhan pemikiran Foucault adalah bahwa orang kesulitan melakukan kategorisasi atas pemikirannya ke dalam bidang-bidang tertentu. Dengan kata lain, sangat sulit mengenali sosok Foucault dalam disiplin ilmu dan pemikiran konvensional. Ia berfikir ke kedalaman dasar-dasar paradigma ilmu pengetahuan yang bersifat filosofis dan setelahnya hampir mustahil menempatkannya dalam block of knowledge yang ada. Tulisan Foucault sangat luas menyangkut berbagai disiplin sehingga sempat menggoyahkan sendi-sendi pengetahuan manusia (human science). Seperti itulah sosok dari Michel Foucault, seorang filosof sejati abad ke-20 yang karya-karya dan pemikirannya selalu rasional dan diakui oleh seluruh filosof di dunia.

DAFTAR PUSTAKA

I.Bambang Sugiharto, Postmodernisme, Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 2000
Suma Riella Rusdiarti, Struktur dan Sifatnyadalam Pemikiran Michel Foucault, Jakarta, Universitas Indonesia, 2008
http://ssantoso.blogspot.com/2007/08/pemikiran-michel-foucault-1926-1984.html
http://moeflich.wordpress.com/2007/11/24/konstruksi-pemikiran-michel-foucault-tentang-sejarah/
http://abstractive-sense.blogspot.com/2009/11/uraian-pemikiran-michel-foucault.html
http://plato.stanford.edu/entries/foucault/
Stephen R.C.Hicks, Explaining Postmodernism, Skepticism and Socialism from Rousseau to Foucault, New York, Scholargy Publishing, 2004
Edited by Steven Connor, The Cambridge Companion to Postmodernism, New York, Cambridge University Press, 2004


*) Penyusun
Nama               : Sodiq Putra Perdana
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.



Schelling; Biografi dan Pemikiran
Filsafat telah dipelajari sejak berabad-abad yang lalu. Sebagai buktinya telah banyak aliran atau paham-paham bermunculan dalam dunia filsafat, diantaranya aliran renaissance rasionalisme, idealisme, pragmatisme dan masih banyak lagi. Dari aliran-aliran yang muncul tidak selalu memiliki kesamaan konsep dasar, ada diantaranya yang justru saling bertentangan. Tetapi perbedaan atau pertentangan tersebut tidak dipersoalkan. Justru dengan banyaknya paham yang telah diperkenalkan oleh para filosof tersebut, kita dapat menemukan cara yang paling tepat untuk diaplikasikan dalam menghadapi persoalan dalam kehidupan. Misalnya, kita dapat menggunakan logika klasik dalam menyelesaikan masalah-masalah sederhana, menggunakan cara empirisme untuk menggali ilmu-ilmu yang ada di alam, dan idealisme untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kompleks.
Idealisme adalah sistem atau doktrin yang dasar penafsirannya adalah ideal. Berlawanan dengan materialism, yang menekankan pada ruang dan hal yang bersifat mekanistik, idealisme menekankan supra-ruang, non-sensibilitas, penilaian dan ideologis. Aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Idealisme juga merupakan salah satu aliran dalam sejarah filsafat barat modern yang berpandangan bahwa kenyataan akhir yang sungguh-sungguh nyata itu adalah pikiran (idea) dan bukanlah benda di luar pikiran kita (materi). Realitas itu sama luasnya dengan pikiran, maka yang real itu rasional dan yang rasional itu real. Benda-benda di luar pikiran, seperti alam, masyarakat, dan alat-alat. Tidak memiliki status ontologisnya, yaitu tidak sungguh-sungguh real. Tak ada benda-benda di luar pikiran.  Benda yang kita lihat seolah-olah di luar pikiran kita, seperti kursi dihadapan kita, sebenarnya adalah idea atau pikiran dalam bentuk lahiriah. Tegasnya, idealisme adalah aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami.
Dalam makalah ini penulis akan berfokus pada perkembangan paham idealisme pada era modern. Lebih spesifiknya, penulis akan membahas tentang idealisme salah satu tokoh besar di masanya, yaitu Friedrich Wilhelm Schelling (1775 – 1854).


Biografi Friedrich Schelling
Friedrich Wilhem Joseph von Schelling atau biasa disebut dengan Friedrich Schelling merupakan filsuf Jerman yang lahir pada tanggal 27 Januari 1775 di Leonbergh, Wurttemberg. Ayahnya seorang pendeta dan pengajar Orientalis yang taat. Pada tahun 1783-1784, Scheling menjalani pendidikan di Nurtingen dan di sinilah dia mengenal Friedrich Holderlin (penyair), seniornya, yang kemudian bersama-sama meninggalkan Nurtingen untuk belajar teologi di Tubingen meskipun usianya saat itu belum mencukupi. Dalam masa pedidikannya di Tubingen, dirinya dan Holderlin berkenalan dengan Hegel dan mulai mempelajari tentang pemikiran para filsuf Yunani kuno.  Pada usianya yang ke-17, Schelling telah menulis desertasi tentang Bab III dari Kitab Kejadian (bagian dari Kitab Taurat). Dan pada tahun 1973, setahun setelah menyelesaikan kuliahnya, Schelling berkontribusi dalam peringatan Heinrich Eberhard Gottlob Paulus. Pada tahun 1795, dia menyelesaikan tesis untuk gelar teologia dengan judul “De Marcione Paullinarum epistolarum emendatore” dan mempelajari paham dari dua filsuf terkemuka, Kant dan Fichte, di waktu yang sama. Kedua filsuf inilah yang pada akhirnya banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran Schelling.
Pada tahun 1794, Schelling menerbitkan sebuah eksposisi dari pemikiran Ficthe dengan judul die Moglichkeit einer Form der Philosophie uberhaupt (Kemungkinan Bentuk Filsafat pada Umumnya). Karyanya ini pun diakui oleh Fichte sendiri dan Schelling pun memiliki reputasi yang baik di kalangan filsuf karena hasil karyanya tersebut.
Tidak puas sampai di situ, pada tahun 1795 dia menerbitkan beberapa karya, yang salah satunya berjudul Vom Ich als Prinzip der Philosophie, oder uber das Unbedingte im menschlichen Wissen (Diri sebagai Prinsip Filsafat, atau Pada Pengetahuan Manusia yang Tertutup). Karya-karyanya ini pun masih tetap berada pada idealisme Fichte, dengan menunjukkan kecenderungan untuk menggunakan metode Fichte dalam applikasi yang lebih objektif dan menyatukan pandangan Spinoza ke dalamnya.
Pada umur 23 tahun, dia telah menjadi guru besar di Univeritas Jena sekaligus menjadi murid dan pembantu Fichte. Saat itu, dia banyak menjalin kontak dengan kalangan Romantisisme. Selanjutnya ia menikah dan berpindah mengajar ke kota Wurzburg. Di sinilah ia bergumul dengan pemikiran Jacob Boheme, seorang mistikus Yahudi di Jerman pada saat itu. Dan menyebabkan pecahnya persahabatan antara dirinya dengan Fichte.
Selanjutnya Schelling bermigrasi ke Muenchen pada tahun 1806. Pada saat itu, dia banyak menjalin kontak dengan Hegel dalam mengurus penyuntingan sebuah jurnal filsafat. Hegel merupakan saingan berat Schelling yang usianya 5 tahun lebih muda darinya. Namun setelah Hegel meninggal, Schelling menjadi kritikus ulung Hegelianisme di Berlin. Namun kontribusi besarnya dalam dunia filsafat tak membuat Schelling dikenang hingga akhir hayatnya. Pada tanggal 20 Agustus 1854, Schelling meninggal di Bad Ragaz dalam keadaan kesepian dan dilupakan.

Pemikiran Schelling
Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling juga merupakan filosof yang menganut aliran idealisme, selain Plato (477 -347 SM);  Spinoza (1632 -1677); Liebniz (1685 -1753); Berkeley (1685 -1753); Immanuel Kant (1724 -1881);  J. Fichte (1762 -1814); dan G. Hegel (1770 -1831). Pemikiran Schelling tampak pada teorinya tentang ‘yang mutlak’ mengenai alam. Pada dirinya yang mutlak adalah suatu kegiatan pengenalan yang terjadi terus – menerus yang bersifat kekal.
Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling telah mencapai kematangan sebagai filosof sejak ia masih belia. Dan hingga akhir hidupnya pemikiran – pemikirannya pun selalu berkembang. Meskipun begitu, kontinuitas tetap ada dalam tiap perkembangan pemikirannya. Ia adalah filosof Jerman yang telah meletakkan dasar-dasar pemikiran bagi perkembangan idealisme Hegel. Bersama Hegel dan Fichte, ia menjadi tokoh idealisme terbesar di Jerman pada masanya. Sehingga dapat dikatakan kalau pemikiran Schelling merupakan mata rantai antara Fichte dan Hegel.
Jika Fichte memandang alam semesta sebagai lapangan tugas manusia dan sebagai basis kebebasan moral, dalam pandangan Schelling, realitas adalah identik dengan gerakan pemikiran yang berevolusi secara dialektis.
Pada Schelling dan juga pada Hegel, realitas adalah proses rasional evolusi dunia menuju realisasi berupa suatu ekspresi kebenaran terakhir. Tujuan proses itu adalah suatu keadaan kesadaran diri yang sempurna. Schelling menyebut proses ini sebagai Identitas Absolut, sedangkan Hegel menyebutnya Ideal. Alam semesta ini, katanya tidak pernah bisa dibayangkan sebagai sistem rasional. Di sini ia memperlihatkan bahwa susunan rasional adalah kontruks hipotesis yang memerlukan pembuktian nyata, baik pada alam maupun pada sejarah.
Reese (1980: 511) menyatakan bahwa filsafat Schelling berkembang melalui lima tahap. Yakni:
  1. Idealisme subyektif
  2. Filsafat alam
  3. Idealisme transendental atau idealisme obyektif
  4. Filsafat identitas
  5. Filsafat positif.
Sesuai dengan periode pertama pemikiran Schelling, yaitu Idealisme subyektif, sang guru, Fichte menjelaskan bahwa pengetahuan harus bertolak dari pengalaman (erfahrung). Pengalaman di sini, adalah presentasi. Yang kemudian ia golongkan menjadi dua jenis, yaitu presentasi dengan rasa bebas dan presentasi dengan keniscayaan. Perbedaan antara dua presentasi tersebut dalam segi kemandiriannya adalah bahwa presentasi pertama tidak membutuhkan obyek, karenanya disebut bebas dan presentasi kedua tergantung pada obyek. Dalam pengalaman (erfahrung) terdapat dua unsur yang saling terkait, yaitu subyek (kita) dan obyek (hal di luar kita). Fichte mengunggulkan subyek atas obyek karena subyek menghasilkan pengalaman aktual. Dari titik ini, kita akan menilik periode kedua Schelling yang menentang teori pertamanya, yaitu filsafat alam. Dalam filsafat alam ia mengungkapkan ketidak-sepakatannya terhadap pengunggulan subyek atas obyek. Menurutnya, pembedaan semacam itu muncul dari refleksi yang bermula dari perasaan dan bukannya filsafat. Perbedaan antara subyek dan obyek adalah berawal dari refleksi. Refleksi menjadikan jarak antara sesuatu yang ada di luar kita (alam) dan konsep yang kita tangkap dari ide kita (roh). Refleksi membanguan pangkal pembedaan antara yang riil dan ideal. Jika pembeda ini dihapuskan, maka kita akan memperoleh kesatuan. Karena jarak antara subyek dan obyek hanya akan membuat kita tertipu, hal tersebut hanya berdasarkan perasaan belaka. Yang harus kita lakukan adalah pendasaran pada filsafat hingga kemudian kita memahami bahwa yang dipikirkan dan yang memikirkan sebenarnya adalah satu (ittihad al-aqil wa al-ma’qul). Manusia memiliki kemampuan berfikir tentang segala yang ada di alam. Dia, dengan Roh-nya akan bertanya sesuatu hal dan memaksa alam untuk menjawabnya (proses dialog). Proses dialog menjelaskan bahwa alam memiliki jawaban dari pertanyaan manusia, yang juga diimplikasikan sebagai roh. Jadi kesimpulannya alam dan roh adalah satu. Alam adalah roh yang tampak dan roh adalah alam yang tak tampak dan bahwa materi adalah kecerdasan yang tidur. Dari situ kemudian dapat dipahami bahwa alam tidak berjalan secara otomatis, melainkan sebuah proses yang dinamis dan terpadu mengarah pada suatu tujuan tertentu (teleologis).
Periode ketiga adalah filsafat transendental. Schelling menjelaskan tentang bagaimana Aku atau Sang Ideal merealisasikan dirinya sebagai kehendak Aku atau Ideal menyadari akan dirinya sebagai kehendak karena suatu keharusan (sollen). Oleh karena kehendak itu diarahkan pada obyek yang ada di luar maka hasil kehendak itulah yang menimbulkan kemunculan dunia luar. Jika ada sesuatu yang berubah di dunia luar tersebut, karena kesatuan, maka ada perubahan juga yang terjadi dalam sang Aku.
Hukum alam dan hukum moral adalah identik di dalam tertib kosmik. Selanjutnya, pernyataan inilah yang mendasari pemikiran Schelling dalam Negara, hukum dan sejarah. Baginya, sejarah merupakan pernyataan berkesinambungan dari Yang Absolut yang selalu memanifestasikan diri-Nya. Dalam pengembangan filsafat transendental ini, selanjunya ia merambah ke dalam ranah filsafat seni yang dianggap sebagai filsafat wahyu (art as revelation). Seni merupakan sebuah hasil pengungkapan dari upaya yang dilakukan berdasarkan identitas antara yang nyata dan yang ideal dalam sebuah wujud kongkrit yang bertempat dalam intuisi yang estetis. Perbedaan filsafat seni dan filsafat transendental terletak pada anggapan sang Absolut yang dikatakan “mengalami dunia” dalam transendental dan dikatakan “menciptakan dunia” dalam filsafat seni. Seni merupakan sintesa antara alam dan kesadaran; sbuah kesadaran dalam diri seniman yang menyatakan diri sebagai intelegensi yang mencipta dunia. Karena itu Schelling menolak sebagian kalangan yang menyatakan bahwa metodologi Ilmu pengetahuan dan Matematika merupakan satu – satunya cara yang dapat digunakan untuk mencapai pengetahuan yang sebenarnya. Dengan kata lain, sumber pengetahuan adalah seni, dan bukan penelitian ilmiah.
Periode keempat adalah filsafat identitas (Identity Philosophy), yakni suatu sintesis antara pemikiran Kant di satu sisi, dan pemikiran Spinoza di sisi lain. Kant, dan nantinya juga Fichte, menekankan pentingnya peran subyek di dalam proses pembentukan pengetahuan. Semua kenyataan di luar diri manusia menjadi sesuatu yang terstruktur, karena subyek. Schelling berpendapat bahwa manusia dan Alam (Nature), atau dunia obyektif, merupakan satu Subyek. Artinya, manusia dan alam mempunyai satu kehendak, sehingga keduanya memiliki kebebasan. Oleh karena memiliki kebebasan, maka manusia dan Alam bisa memilih, apakah akan berbuat baik atau berbuat jahat. Subyek ini, yang merupakan sintesis antara manusia dan Alam, merupakan seluruh realitas. Di sini Schelling menyebutkan tentang “identitas absolut”, yaitu ketika alam telah mengenali dirinya kembali melalui refleksi. Dan lengkaplah sudah sistem ilmu pengetahuan.
Kemudian Schelling beranjak pada eksplanasi mengenai Aku-Absolut. Aku-Absolut, baginya, adalah sesuatu yang netral; bukan materi ataupun spirit, bukan subyek dan atau obyek. Dalam tindakannya, Roh-Absolut mempunyai tiga tahap yang berjalan serentak, yaitu (1) Eksternalisasi. Obyektifikasi dari absolute ke alam material. (2) Internalisasi. Alam memiliki subyektifitasnya sendiri yang kemudian dipresentasikan dalam pikiran manusia. (3) Unifikasi. Penyatuan antara absolut obyektif dan absolut subyektif. Tiga tindakan ini bergerak serentak dan terlepas dari ikatan waktu. Itulah yang disebut sebagai tindakan pengetahuan.
Pada periode empat, Schelling mengaku bahwa pemikirannya dipengaruhi oleh mistikus Jacob Bohmean. Dan karena hal itu jugalah persahabatannya dengan Fichte berantakan. Pada periode ini, Schelling lebih mirip seorang nabi yang mewartakan‚ kabar gembira. Ia pun menyebut gaya berfilsafat seperti ini sebagai filsafat tentang mitologi dan wahyu. Namun, banyak orang berpendapat bahwa filsafat Schelling periode keempat ini lebih merupakan suatu aliran kebatinan atau pengetahuan rahasia tentang Tuhan, tujuan manusia, dan arah sejarah.
Periode kelima, Scheling mengarahkan pemikirannya pada filsafat agama/ positif. Pada tahun 1804, ia menulis buku dengan judul Philosophie und Religion. Dalam buku tersebut ia menjelaskan bahwa agar pada hal yang obyektif, Sang Absolut harus member kuasa pada yang nyata agar yang nyata itu dapat memanifestasikan dirinya dalam bentuk – bentuk yang lebih khusus atau agar yang nyata menjadi absolut dengan caranya sendiri. Karena itulah manusia memiliki kehendak bebas menjadi sifat dasarnya. Dia bisa naik menjadi absolute atau turun ke yang relative sesuai pilihannya.

Kesimpulan
Mengkaji filsafat merupakan satu ilmu yang mempelajari mengenai proses memahami aktifitas – aktifitas manusia sedangkan filsafat itu sendiri adalah proses berfikir. Banyak cabang pemikiran di dalam filsafat, salah satunya adalah Idealisme. Idealisme adalah suatu aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. Dalam perkembangannya, filsafat Idealisme memiliki beberapa tokoh besar yang berperan. Salah satunya adalah Friedrich Wilhelm Joseph von Schelling.
Idealisme Schelling berkembang melalui lima periode, yaitu Idealisme subyektif yang merupakan pemikiran dari gurunya, Fichte; Filsafat alam; Idealisme transendental atau idealisme obyektif; Filsafat identitas; dan Filsafat positif. Berangkat dari penolakan Schelling terhadap idealisme Fichte yang mengunggulkan subyek di atas obyek, ia membangun filsafat alam. Dalam filsafat alam ini ia menyatakan bahwa alam adalah roh yang menampakkan diri sedangkan roh adalah alam yang menyembunyikan diri. Lalu materi adalah intelegensia yang tertidur, yang nantinya akan dibangunkan oleh sang ide yang menuntut jawaban dari keresahannya.
Filsafat transendentalnya menjelaskan tentang kesadaran sang Aku. Kesadaran tersebut muncul dalam kehendak yang berdasarkan keharusan. Setelah itu, maka dari kehendak terciptalah dunia luar (eksternalisasi). Kemudian, karena alam dan ide adalah satu, maka ketika ada perubahan yang terjadi di luar, sebenarnya terjadi juga perubahan di dalam. Transendental dikaitkan juga dengan filsafat seni/ wahyu, yaitu suatu hasil pengungkapan dari upaya yang dilakukan berdasarkan identitas antara yang nyata dan yang ideal dalam sebuah wujud kongkrit yag bertempat dalam intuisi yang estetis.
Dalam filsafat identitas, Schelling menyatakan bahwa pembatasan antara subyek dan obyek muncul dari refleksi berdasarkan perasaan. Dan ketika hal itu yang menjadi dasar pemikiran kita, kita akan tertipu. Jika dari refleksi lahir distingsi, maka dari refleksi jugalah harus lahir unifikasi (penyatuan). Penyatuan subyek dan obyek bisa didapat dari refleksi yang berdasarkan pada filsafat.
Terakhir, Schelling berbicara mengenai filsafat dan agama. Ia menyatakan bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak sebagai potensi alaminya untuk memanifestasikan diri dalam hal – hal yang lebih khusus. Dalam pada itu, ia berusaha untuk memecahkan the problem of evil yang tak lain akan muncul dari jiwa yang lebih memilih relative ketimbang absolut.
Demikian adalah pemikiran – pemikiran yang dilahirkan oleh Schelling. Sintesa yang diupayakannya merupakan usaha yang patut dihargai dan ditelaah lebih lanjut oleh generasi – generasi penerusnya. Kendati di beberapa pemikiran Schelling telah – jauh sebelumnya dijelaskan oleh filosof muslim, namun upaya dan kontekstualisasinya dalam keadaan antropologis dan sosiologis yang berbeda sehingga implikasinya pun berbeda.

Daftar Pustaka
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 1980
Tafsir, Ahmad, FILSAFAT UMUM: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009
http://www.halimspirit.blogspot.com/2012/01/schelling-metafisika-dan-monisme-di.html
http://www.ahnafiabadi.blogspot.com/2010/06/normal-0-false-false-false.html


*) Penyusun
Nama               : Frizka Fajareza Putri
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.


Mengenal Aristoteles
05/11/2012 
Dapat dikatakan bahwa pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas di abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135 – 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126 – 1198). Maimoides, pemikir paling terkemuka Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan yudaisme. Di luar daftar ini masih sangat bangyak kaum cerdik pandai abad tengah yang terpengaruh demikian dalamnya oleh Aristoteles. Bahkan di jaman dulu dan jaman pertengahan, hasil karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis, Ibrani, Jerman dan Inggris.
Kekaguman orang kepada Aristoteles menjadi sangat tinggi di akhir abad tengah tatkala keadaan sudah mengarah pada penyembahan berhala. Dalam keadaan itu tulisan –tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam lampu penerang jalan yang terang untuk mencari jawaban problem yang lebih lanjut. Aristoteles tidak sepakat dengan sanjungan membabi buta dari generasi-generasi berikutnya terhadap tulisan-tulisannya.
Beberapa pemikiran Aristoteles yang tidak sesuai bila diterpakan pada masa sekarang adalah di mana dia mendukung perbudakan karena dianggap sejalan dengan hukum alam. Dan dia percaya kerendahan martabat wanita bila dibandingkan dengan laki-laki. Tapi banyak pula ide Aristoteles yang sesuai untuk masa sekarang di mana dia berpendapat bahwa kemiskinan adalah pokok dari revolusi dan kejahatan. Begitu pula pernyataannya yang menyebutkan bahwa barang siapa yang sudah merenungi dalam-dalam seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib suatu emperium tergantung pada pendidikan kaum mudanya.

BIOGRAFI TOKOH
Aristoteles dilahirkan di kota Stagira, kota di wilayah Chalcidice, Thracia, Macedonia tengah tahun 384 SM. Ayahnya yang benama Nicomacus adalah seorang tabib pribadi Raja Amyntas III dari Macedonia. Ayahnya meninggal ketika Aristoteles berusia 15 tahun. Karena itu, ia kemudian di asuh oleh pamannya yang bernama Proxenus. Pada usia 17 tahun, Aristoteles pergi ke Athena balajar di Akademi Plato dan menjadi murid Plato. Kemudian ia diangkat menjadi seorang guru selama 20 tahun di akademi tersebut. Di bawah asuhan Plato dia menanamkan minat dalam hal spekulasi filosofis. Aristoteles merupakan orang pertama di dunia yang dapat membuktikan bahwa bumi bulat. Pembuktian yang dilakukannya dengan jalan melihat gerhana. Sepuluh jenis kata yang dikenal orang saat ini dengan kata benda, kata sifat, kata benda dan sebagainya, merupakan pembagian kata menurut pemikirannya.
Dengan meninggalya Plato pada tahun 347 SM, Aristoteles meninggalkan Athena dan mengembara selama 12 tahun. Dalam jenjang waktu itu ia mendirikan akademi di Assus dan menikah dengan Phytias yang tak lama kemudian meninggal. Ia lalu menikah lagi denga Herpyllis yang kemudian memberikan ia seorang anak laki-laki yang akhirnya ia beri nama Nicomacus seperti ayahnya. Pada tahun-tahun berikutnya ia juga mendirikan akademi di Mytilele. Saat itulah ia sempat menjadi guru Alexander Agung selama tiga tahun.
Di tahun 335 SM, sesudah Alexander naik tahta kerajaan, Aristoteles kembali ke Athena dan mendirikan semacam akademi di Lyceum. Di sinilah selama 12 tahun ia memberikan kuliah, berpikir, mengadakan riset dan experimen serta membuat catatan-catatan dengan tekun dan cermat. Dalam masa kepemimpinannya Alexander Agung tidak meminta nasehat kepada bekas gurunya, tetapi ia berbaik hati menyediakan dana bagi Aristoteles untuk melakukan riset dan experimen. Hal ini mungkin menjadi contoh pertama dalam sejarah seorang ilmuan menerima jumlah dana yang besar dari pemerintah untuk maksud penelitian atau penyelidikan.
Walaupun begitu, hubungan Aristoteles dengan Alexander Agung diliputi oleh berbagai macam polemik. Aristoteles menolak secara prinsipil cara kediktatoran Alexander, apalagi ketika Alexander menghukum mati sepupu Aristoteles dengan tuduhan pengkhianatan. Alexander memandang Aristoteles terlalu demokratis hingga ia memiliki fikiran untuk membunuhnya pula. Tetapi Aristoteles memiliki hubungan yang erat dengannya dan sangat dipercaya oleh orang-orang Athena, sehingga Alexander mengurungkan niatnya. Kemudian Alexander meninggal pada tahun 323 SM dan golongan anti Macedonia memegang tampuk kekuasaan di Athena. Aristoteles didakwa kurang ajar kepada dewa dikarenakan penelitian-penelitian yang ia lakukan. Kerena takut di bunuh orang Yunani yang membenci pengikut Alexander, Aristoteles akhirnya melarikan diri ke Chalcis. Satu tahun setelah pelariannya ke kota itu, tepat pada tahun 322 SM, Aristoteles meninggal pada usia 62 tahun.

PEMIKIRAN
Menurut Aristoteles filsafat ilmu adalah sebab dan asas segala benda. Filsafat ilmu merupakan ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Oleh karena itu, ia menamakan filsafat sebagai Theologi. Filsafat sebagai refleksi dari pemikiran sistematis manusia atas realitas dan sekitarnya, tidak berdiri sendiri dan tidak tumbuh di tempat atau ruang yang kosong. Lingkungan keluarga, sosial alam dan potensi diri akan ikut mempengaruhi seseorang dalam melakukan refleksi filosofis. Oloh karenanya, dalam sejarah pemikiran manusia terdapat tokoh pemikir ataupun filosof yang selalu saja muncul dari zaman ke zaman dengan tema yang berbeda-beda.
  1. Pembagian Filsafat Menurut Aritoteles
    1. Logika
Penemuan Aristoteles yang terbesar dalam bidang logika adalah silogisme (syllogimos). Silogisme maksudnya uraian berkunci, yaitu menarik kesimpulan dari kenyataan yang umum atas hal yang khusus dan dapat digunakan dalam menarik kesimpulan yang baru dan tepat dari dua kebenaran yang telah ada. Sebagai contoh ada dua pernyataan:
»          Setiap manusia pasti akan mati
»          Dia adalah manusia
Maka dapat di tarik kesimpulan bahwa dia pasti akan mati
Menurut Aristoteles, pengetahuan baru dapat dihasilkan melalui dua cara yaitu induksi dan deduksi. Induksi yaitu bertolak dari kasus-kasus yang khusus menghasilkan pengetahuan tentang yang umum. Sedangkan deduksi bertolak dari dua kasus yang tidak disangsikan dan atas dasar itu menyimpulkan kebenaran yang ke tiga. Cara deduksi inilah yang di sebut silogisme. Induksi tergantung pada pengetahuan indrawi senngakan deduksi atau silogisme sama sekali lepas dari pegetahuan indrawi. Itula sebabnya mengapa Aristoteles menganggap deduksi sebagai cara sempurna menuju pengetahuan baru.
  1. Filosofia teoritika
    1. Fisika: yaitu tentang dunia materiil (ilmu alam dan sebagainya).  Kosmos terdiri dari dua wilayah yang sifatnya berbeda. Wilayah sublunar di bawah bulan, maksudnya bumi) dan wilayah yang meliputi bulan, planet dan bintang. Aritoteles beranggapan bahwa jagat raya terbatas, berbentuk bola dan jagat raya tidak mempunyai permulaan dlam waktu dan tidak mempunyai akhir (kekal). Sedangkan bumi dan isinya terdiri dari empat unsur: api, udara, tanah dan air. Sedangkan selain bumi hanya terdiri dari satu unsur yaitu aether. Penggerak pertama adalah yang tidak di gerakkan.
Beberapa pembagian penting untuk memahami pemikiran Aristoteles:
1)        Doktrin tentang substansi dan aksiden, benda dan bentuk
Substansi adalah hal pertama dan fundamental dari setiap benda dan kategori. Substansi merupakan kategori pertama dan fundamental yang membedakannya dengan kategori-kategori lainnya yang merupakan aksidennya saja. Misalkan kita ambil contoh sebuah meja. Meja adalah substansinya sedangkan warna hijaunya, untuk makan, dll adalah aksidentnya saja. Jadi bisa dikatakan substansi adalah apa yang membuat benda itu adalah totalitas benda itu sedangkan aksidentnya adalah apa yang membuat benda itu sebagai benda particular; meja adalah ketotalan dari meja sedangkan warna hijau, untuk makan adalah kepartikularan benda itu.
2)        Konsep gerak
Konsep Gerak termasuk konsep yang penting dalam pemikiran Aristoteles. Gerak ini juga menandakan perubahan dari potensial ke actual. Di sini perubahan itu tidak menjadi hal yang penting; apakah preubahan dari potensial ke actual itu adalah pertumbuhan, pembusukan, perubahan kualitas jumlah dan kualitas, atau pun berubah tempat.
3)        Konsep tetang elemen dan teori mixio
Selain soal gerak, hal penting lain dari Aristoteles yang menjadi pegangan dari pemikiran barat pada kurun waktu yang lama setelahnya adalah dokrin tentang empat elemen yang berasal dari system pemikiran Empedokes dan bagaimana cara menemukan keempat elemen itu dalam prinsip–prinsip yang sangat mendalam. Keempat elemen ini mempunya kualitas-kualitasnya tertentu pula yakni kualitas sentuhan, aktif, harus berpasang-pasangan dalam oposisinya. Aristoteles menunjukan delapan pasangan yang mempunya kualitas haptic yang kontras satu sama lain: panas-dingin, kerng-lembab, berat-ringan, jarang-padat, lembut-keras, kasar-halus, rapuh-tabah. Dan elemen dari material dunia ditandai oleh empat kemungkinan kombinasi dari dua haptic aktif kualitas (prima quialitates): tanah (kering dan dingin), air (dingin dan lembab), udara (lembab dan panas), api (panas dan kering). Segala material alam di dunia ini mengandung paling sedikit dua dari keempat elemen ini.
4)        Gerak natural dan gerak dipaksa
Setiap gerakan digerakan oleh sesuatu yang lainnya. Ini merupakan aksioma yang mendasari Fisika Aristotelian. Gerak sendiri merupakan sesuatu yang sangat menjadi perhatian Aristoteles. Misalnya dalam De Anima  sendiri Aristoteles sudah membicarakan soal gerak. Setiap benda yang bergerak selalu diakibatkan oleh penggerak yang lainnya yang bisa juga sedang bergerak atau juga diam.
  1. Matematika: yaitu tentang barang yang menurut kuantiasnya. Aristoteles berprinsip bahwa ketidakhinggaan hanya ada di dalam konsep saja. Pemikiran ini kemudian menjadi perdebatan pada generasi setelah beliau. Pemikiran Aristoteles yang terbesar dalam matematika adalah tentang logika dan analisis.    Aristoteles berpendapat bahwa logika harus dureapkan pada semua bidang ilmu, termasuk matematika. Analisis diperlukan untuk membangun aksioma-aksioma yang terdapat di dalam matematika. Dia menuliskan gagasan-gagasannya tentang logika ini pada bukunya yang baru di temukan ratusan tahun setelah kematian Aristoteles. Pada buku inilah gagasan tentang silogisme dan pembuktian matematika diperkenalkan.
  2. Metafisika: yaitu berpusat pada persoalan barang dan bentuk. Bentuk dikemukakan sebagai pengganti pengertian dari Dunia Idea Plato yang ditolaknya. Berbeda dengan plato yang memisahkan idea dan kenyataan lahir, Aristoteles beranggapan bahwa bentuk ikut serta memberikan kenyataan pada benda. Benda dan bentuk tak dapat dipisahkan. Barang ialah materi yang tidak mempunyai bangun, melainkan hanya substansi, maka bentuk adalah bangunnya. Sebagai contoh pada pandangan plato, jiwa tidak dapat mati karena merupakan sesuatu yang adikodrati berasal dari dunia ide. Plato berpendapat bahwa jiwa itu bersifat kekal. Sedangkan menurut Aristoteles, jiwa dan tbuh ibarat bentuk dan materi. Jiwa merupaka asas hidup yang menjadikan tubuh memiliki kehidupan. Disadari Aristoteles, bahwa tubuh bisa mati oleh sebab itu, maka jiwanya juga ikut mati.
  3. Filosofia praktika (tentang hidup kesusilaan)
    1. Etika (kesusilaan dalam hidup perorangan) dan Ekonomi (kesusilaan dalam hidup kekeluargaan)
Aristoteles memakai pendekatan biologis untuk menganalisa manusia. Menurutnya, manusia adalah seekor binatang dengan unsur tertentu yang khas. Tidak seperti binatang pada umumnya yang diatur oleh kebiasaan, manusia dapat dengan sadar mengendalikan dorongan-dorongan non-rasionalnya. Memiliki nafsu yang bermacam-macam, salah satu nafsu dari manusia adalah bersosialisasi, baik berupa sekedar bersahabat atau urusan seksual
Namun permasalahannya, pengejaran nafsu yang dapat diartikan kenikmatan, kebanggaan, prestasi, tujuan atau kekuasaan sering tidak terkontrol yang dikarenakan faktor keserakahan manusia juga. Menurut Aristoteles manuis pada awalnya selalu baik, namun dikarenakan faktor-faktor lingkungan dapat merubah sikap seorang manusia.
Piolis adalah istilah Aristoteles untuk mengartikan komunitas sipilyang ia yakini sebagai latar sosial kodrati dari manusia. Adapula kelompok sosial koininia yang meliputi segala macam komunitas yang di mana pada taraf tertentu terjadi interaksi. Sedangkan Oikos adalah jenis komunitas paling dasar dan terbatas untuk pekembangan kodrat manusia atau disbut juga rumah tangga. Kemudian Polis menurutnya juga merupakan kebutuhan untuk mengatasi serangan dari luar dan dibentuk untuk kesejahteraan bersama. Menurutnya Polis yang ideal adalah sebuah komuitas orang-orang yang sama kedudukannya yang mengarah pada kebaikan yang sebaik mungkin.
  1. Politika (kesusilaan dalam hidup kenegaraan)
Sebagai murid Plato, walaupun Aristoteles banyak terpengaruh olehnya, namun tidak semua ajarannya diterima mentah-mentah. Ajarannya dikupas secara praktis. Pengupasan juga dilakukan secar logis dan sistematis berdasarkan metode induksi atas penyelidikan ilmiah dan perbandingan sistem yang ada. Aristoteles mengklasifikasikan sistem-sistem politik seperti di bawah ini:
  • Monarki (kerajaan), diperintah oleh seorang raja untuk kepentingan semua, tapi jika sebaliknya dapat berpotensi tirani
  • Aristokrasi, diperintah beberapa orang untuk kepentingan bersama, jika sebaliknya dapat berpotensi oligarki, memperkaya sekelompok orang saja.
  • Polity, diperintah semua rakyat untuk kesejahteraan umum, jika sebaliknya, mayoritas rakyat memerintah untuk kepentingan si miskin saja dapat menjadi demokrasi.
Menurut Aristoteles, sistem politik terjelek adalah tirani dan demokrasi yang terlalu berlebihan. Baginya tidak ada sistem politik terbaik, maka diperlukan adanya konstitusi. Selain berpikiran pentingnya suatu keadilan dalam suatu negara, Aristoteles juga berpikir bahwa hukum yang dapat dipaksakan diperlukan untuk memupuk persahabatan. Negara terbaik bagi Aristoteles adalah negara di mana tiap warganya sejauh mungkin turut serta dalam kehidupan politik atau negara.
  1. Filosofia poetika/aktiva (pencipta)
Di bidang seni, Aristoteles memuat pandangannya tentang keindahan dalam buku “Poetike”. Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pengetahuan dibangun atas dasar pengamatan dan penglihatan. Menurut Aritoteles, keindahan menyangkut keseimbangan ukuran yakni ukuran material. Ia berpandangan bahwa sebuah karya seni adalah sebuah perwujudan artistik yang merupakan hasil chatarsis disertai dengan estetika. Chatarsis adalah pengungkapan kumpulan perasaan yang dicurahkan ke luar. Kumpulan perasaan itu disertai dengan dorongan normatif. Dorongan normatif yang dimaksud adalah orongan yang akhirnya memberi wujud khusus pada perasaan tersebut. Wujud itu ditiru dari apa yang ada di dalam kenyataan.
  1. Hasil Pemikiran Aristoteles Lainnya
    1. Hule dan Morfe
Pemikiran aristoteles lainnya adalah hule yang merupakan unsur yang menjadi dasar permacam-macaman, dan morfe yang merupakan unsur kesatuan. Tiap-tiap benda yang konkrit terdiri dari hule dan morfe.
  1. Aktus dan Potensia
Potensia adalah dasar suatu kemungkinan, sedangkan aktus adalah dasar kesungguhannya. Sesuatu hal terjadi bisa dikarenakan karena potensinya dan dalam hal tersebut sudah mengandung aktusnya.
  1. Abstraksi
Idea tidaklah merupakan realitas tersendiri, melainkan sifat-sifat yang sama terdapat pada hal-hal yang kongkrit. Oleh karena itu, jika beberapa hal memiliki sifat-sifatnya maka hal tersebut hal yang umum, jika beberapa hal diharuskan untuk memiliki sifat yang lain dari umumnya, maka ia akan tetap tak berubah.

PENUTUP
Filsafat Aristoteles bersifat naturalistis karena sifat empirisnya. Pengertian naturalistis selanjutnya adalah ia percaya bahwa alam semesta terdiri dari sebuah herarki, masing-masing dengan sebuah kodart atau hakikat. Pendangan naturalistisnya mengenai alam semesta tidak tergantung pada kepercayaan-kepercayaan theologis.
Logika Aristoteles adalah suatu sistem berfikir deduktif (deductive reasioning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya obseevasi, experimen dan berfikir induktif (inductive thinking).
Meskipun sebagian besar ilmu pengetahuan yang dikembangkannya terasa lebih merupakan penjelasan dari hal-hal yang masuk akal. Banyak teorinya yang bertahan bahkan hampir selama dua ribu tahun lamanya. Hal ini terjadi karena teori-teori tersebut karena dianggap masuk akal sesuai dengan pemikiran masyarakat pada umumnya, meskipun kemudian ternyata bahwa teori-teori tersebut slah total karena asumsi yang keliru. Sebagai contoh ketika Aristoteles menyetujui adanya perbudakan karena menurutnya hal ini sejalan dengan hukum alam dimana yang lemah akan kalah oleh yang kuat.

DAFTAR PUSTAKA

*) Penyusun
Nama               : Dini Anggraeni Saputri
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan



Anaximander; Biografi dan Pemikiran
05/11/2012
Tak dapat dipungkiri lagi jika perkembangan filsafat memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini tentu saja tak lepas dari para tokoh-tokoh hebat yang memberikan pemikiran-pemikiran luar biasa yang menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat. Mengingat apa yang disampaikan oleh Jujun S. Suriasumantri (1984:1) yang mengatakan bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang berpikir. Maka pemikiran-pemikiran inilah yang menjadi cikal bakal adanya pengetahuan. Dimulai dari manusia yang berpikir. Dan pada prosesnya, pemikiran-pemikiran ini mengalami perkembangan dan perubahan.
Seperti yang kita ketahui jika perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesat dan berpusat pada Yunani. Karena memang disanalah manusia mulai memahami jika akal dan pikiran merupakan hakikatnya sebagai manusia dan mulai mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan ini.
Pada awalnya kehidupan bangsa Yunani dipengaruhi oleh mitos-mitos yang mempercayai jika kedudukan Tuhan terpisah dengan manusia. Hal ini memberikan dampak jika kehidupan sudah diatur sedemikian rupa sehingga mereka mempercayai kekuatan alam. Hingga pada akhirnya muncullah sosok-sosok pemikir yang mulai menggeser arah pemikiran dan kepercayaan pada jaman tersebut. Kepercayaan mulai bergeser pada system yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan potensi dan budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan peikiran-pemikiran untuk menghadapi dan memecahkan berbgai kehidupan/alam dengan akal pikiran (Achmadi, 2007:24).
Pergeseran pola pikir ini terjadi setelah abad ke-6 SM. Muncul pemikir yang menentang konsep bahwa akal tidak diperlukan dalam memahami alam semesta. Pemikiran-pemikiran kritis terhadap hakikat alam semesta pun mulai bermunculan. Sehingga jaman Yunani kuno disebut pula jaman filsafat alam. Hal ini berkaitan dengan perhatian pemikiran yang mempertanyakan keadaan disekitar mereka, tentang alam dan gejalanya, atau fenomena-fenomaena yang terjadi berkaitan dengan alam. Namun pemikiran-pemikiran ini sudah berdasarkan akal pikiran bukan lagi berdasar pada mitos semata.
Achmadi (2007:24) menerangkan bahwa ahli pikir pertama yang muncul  adalah Thales yang  berhasil mengembangkan geometri dan matematika. Yang kemudian berlanjut pada sosok Anaximander, yang kehidupan dan pemikirannya akan dibahas secara mendalam pada makalah ini.
Biografi
Anaximander atau dalam bahasa Yunani disebut pula sebagai Anaximandros, adalah seorang filsuf pada jaman Yunani kuno. Kemunculannya dalam sejarah pemikiran ada setelah Thales. Anaximander lahir di kota Miletus, dekat Soke, Turki. Kota yang sama pula dengan Thales.
Lahir di kota Miletus yang kemudian berkembang menjadi kota para filsuf dan merupakan putra dari Praxiades, Anaximander ternyata juga murid dari Thales, filsuf pertama Yunani. Dalam salah satu karangan kuno juga menyebutkan bahwa Anaximander memiliki kekerabatan dengan Thales, hubungan darah atau keluarga, yaitu Thales merupakan paman Anaximander.
Kita dapat mengupas Anaximander melalui tulisan Aristoteles, Apollodorus, dan juga Diogenes Laertius. Apa yang ditulis Apollodorus mengenai Anaximander ternyata muncul 500 tahun kemudian setelah kemunculan Anaximander sendiri. Sementara Aristoteles menuliskannya 500 tahun kemudian setelah Apollodorus. Ini menunjukkan bahwa Anaximander membawa pengaruh yang kuat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, yang pada perkembangannya banyak dikembangkan oleh filsuf-filsuf lainnya.
Apollodorus, seorang penulis pada jaman Yunani kuno ini, menyebutkan bahwa Anaximander lahir pada tahun 610 SM. Hal ini diperkirakan pada tahun 547 atau 546 SM diadakan olimpiade yang ke-58, dan pada saat itu Anaximander telah berumur 63 tahun. Disebutkan pula bahwa Anaximander meninggal tak lama setelah perayaan Olimpiade tersebut. Sehingga diperkirakan bahwa Anaximander meninggal pada tahun 546 SM. Sebenarnya ini juga menunjukkan walau Anaximander lebih muda 15 tahun dari gurunya, Thales, namun meninggal lebih cepat, yaitu dua tahun sebelum paman sekaligus gurunya tersebut.
Selain itu Diogenes juga pernah menyampaikan bahwa Anaximander mungkin juga telah menggantikan Thales sebagai kepala sekolah filsafat di Miletus.
Tak banyak peninggalan-peninggalan yang menyebutkan tentang kisah hidup Anaximander. Karena dari sekian banyak karya tertulisnya hanya satu fragmen yang mampu bertahan. Terlepas bagaimana kehidupannya, pemikirannyalah yang menjadi luar biasa karena membawa pengaruh yang besar pula terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Pemikiran Tokoh
Anaximander merupakan filsuf alam, yang tentunya banyak dari pemikirannya dipengaruhi oleh perhatian yang cukup besar terhadap alam, lingkungan dan fenomena ataupun gejala yang berkaitan dengan alam. Anaximander dianggap banyak berjasa pada bidang astronomi dan geografi. Walaupun Anaximander merupakan murid Thales, ternyata banyak dari pemikirannya yang berbeda jauh dengan pemikiran gurunya.
Dengan mengupas satu persatu tiap detail pemikiran Anaximander, kita akan memahami upaya manusia dalam memandanag dan memahami alam semesta.
a.         Bidang Astronomi
Sesungguhnya karya berupa tulisan dari Anaximander hanya sedikit yang masih bertahan hingga sekarang. Lebih banyak yang memperkenalkan pemikiran Anaximander adalah Aristoteles dan Apollodorus yang mengupas detail pemikiran-pemikiran Anaximander.
Tulisan yang paling menakjubkan dari Anaximander adalah pemikirannya mengenai alam, posisi bintang, penelitian geometri, peta Yunani maupun peta dunia. Dan karyanya yang terpenting adalah pengenalan prinsip matematika dan ilmiah dalam studi astronomi maupun geografi.
Membahas pemikiran Anaximander tentang bidang astronomi in kita mulai dari yang satu ini bahwa Anaximander percaya bahwa bentuk bumi adalah silinder. Terdengar aneh memang, tapi coba kita pahami mengapa Anaximander berpikir demikian. Seperti yang kita ketahui bahwa Anaximander adalah seorang filsuf alam yang pemikirannya menitikberatkan pada hal yang diamati disekitar mereka (alam, lingkungan, fenomena dan gejala-gejala alam sendiri). Dan mengapa Anaximander berpikir demikian, hal ini dikarenakan pada apa yang dilihat oleh Anaximander dilingkungan sekitarnya, bahkan hal yang terkadang luput dari mata kebanyakan orang biasa. Sesungguhnya ini berkaitan dengan apa yang kita lihat, jika kita mengelililingi seseorang maka kita akan melihat lingkaran, hal ini juga sama ketika kita melihat disekeliling kita, kita pun akan melihat lingkaran. Fenomena inilah yang akhirnya menuntun Anaximander untuk memperkirakan bentuk bumi. Kemudian Anaximander menggunakan argumen simetri untuk mempertegas pendapatnya, yaitu yang menyebutkan bahwa ada lingkaran lain yang sama dengan silinder diantarnya. Sehingga terpikirlah bahwa bentuk bumi yang kita diami ini adalah silinder dengan dua lingkaran di ujungnya.
Walaupun aneh namun inilah titik awal pergolakan pemikiran yang mulai mempertanyakan hakikat alam semesta, yang sebelumnya hanyalah berdasarkan pada mitologi yang tidak rasional.
Selain bentuk bumi, Anaximander juga mengemukakan bahwa matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang bergerak mengelilingi bumi. Jadi matahari yang terlihat di pagi hari adalah matahari yang sama yang tenggelam di sore hari dan terbit lagi di keesokan harinya.
Anaximander juga menambahkan jika bumi kita merupakan pusat tata surya. Oleh karena itu bumi tidak jatuh. Beliau juga menyebutkan adanya konsep keseimbangan dimana bumi berada di pusat keseimbangan di alam semesta ini sehingga tidak akan jatuh. Konsep inilah yang akhirnya menginsprasi adanya konsep gravitasi dan bidang astronomi lainnya.
Padahal seperti yang kita ketahui bahwa kepercayaan bumi ditopang oleh dewa Atlas, salah seorang dewa titan dalam mitologi Yunani amatlah kental. Dengan dobrakan pemikiran dari Anaximander yang mulai mempertanyakan kedudukan bumi di alam semesta ini menjadi titik awal untuk meneliti secara mendalam mengenai alam semesta.
b.        Bidang Geografi
Anaximander juga berkeliling dan menemukan pemukiman yang disebut Apollonia di pesisir Laut Hitam. Satu hal lagi yang luar biasa dari Anaximander, beliau adalah orang pertama yang membuat peta.
Peta itu menujukkan bumi yang berbentuk silinder. Laut Meditearnia berada di tengah dan pada ujung utara maupun selatan terdapat lautan. Jika diuraikan maka peta milik Anaximander berbentuk seperti ini:
Picture 1. Peta bumi menurut Anaximander
Picture 2. Peta dunia menurut Anaximander
Anaximander juga seorang penjelajah yang kritis. Ia menggambarkan dengan cermat apa yang dilaluinya dan menuangkannya dalam sebuah peta. Inilah pertama kalinya peta dibuat. Untuk itu seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Anaximander merupakan orang pertama yang membuat peta. Dan ia juga orang pertama yang meninggalkan karyanya dalam bentuk prosa.
c.         Asal Mula Alam Semesta
Sesungguhnya banyak pemikiran Anaximander yang bisa dibilang tidak masuk akal dalam pemikiran modern. Namun bagaimanapun juga pemikirannya patut dihargai dan justru menjadi cikal bakal pemikiran yang lebih sempurna.
Dalam hal ini Anaximander juga menjelaskan mengenai asal mula alam semesta. Pemikirannya bahwa segala sesuatu muncul dari apeiron atau yang tak terbatas. Aristoteles menuliskan bahwa segalanya memiliki asal atau bahkan ialah asalnya. Tapi ketidakterbatasan tidak memiliki asal. Untuk itu dia memiliki batas. Dan alam semesta ini tercipta dari ketidakterbatasan.
Pemikiran Anaximander yang ditulis oleh Aristoteles mengenai yang tak terbatas ini sebenarnya masih belum jelas apa sesungguhnya yang tak terbatas yang dimaksud oleh Anaximander. Beberapa sumber mengatakan bahwa ini berkaitan dengan pemikiran sebelumnya milik Thales, guru Anaximander sendiri yang menyebutkan jika alam semesta tercipta dari air. Disinilah Anaximander menyatakan ketidaksetujuaannya terhadap pemikiran gurunya. Ia menganggap bahwa tidak mungkin alam semesta ini tercipta dari satu unsur yang dominan. Terlalu sederhana jika menganggap unsur air sebagai cikal bakal alam semesta yang luas ini. Untuk itu Anaximander memilih apeiron sebagai awal alam semesta.
Seperti penjelasan berikut ini, melalui Achmadi (1995:34-35) yang menyatakan bahwa pemikiran Anaximander tentang arche (asas pertama alam semesta) tidak menunjuk pada salah satu unsur yang dapat diamati oleh benda. Seperti yang telah disebutkan diatas mengenai to apeiron. Hal ini dikarenakan apabila ia menunjuk salah satu unsur maka tidak akan ada tempat untuk unsur yang berlawanan karena ia akan bergerak sesuai dengan sifatnya. Penjelasan ini dipertegas dengan pendapat dari Anaximander yang dituliskan dalam artikel milik J.J O’Connor dan E.F Robertson (2008) yang memuat to apeiron (yang tidak terbatas) sebagai prinsip dasar atas segala sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tidak berubah-ubah, dan meliputi segala sesuatu. Maka segala unsur di jagad raya ini berasal dari unsur yang berlawanan. Ada panas dan dingin, kering dan basah, bahkan gelap dan terang.
Berkaitan dengan apeiron, Anaximander juga menjelaskan pendapatnya mengenai terciptanya bintang, bulan, planet maupun matahari. Pada awalnya apeiron berasal dari unsur yang berlawanan yang terus bertumbukan satu sama lain yang pada akhirnya unsur panas membalut unsur dingin. Unsur dingin menjadi cair dan juga beku. Bumi berasal dari yang beku ini, api atau panas yang mebalut dingin berpencar dan teruai menjadi planet, bintang maupun matahari.
Dan bumi pada awalnya terselimuti lautan kemudian ada sebagian yang mengering karena panas matahari berubah menjadi daratan.
Picture 3. Apeiron
taken from www.phylosophy.gr
d.        Asal Mula Kehidupan
Mengenai asal mula kehidupan, Anaximander juga menjelaskan evolusi makhluk hidup yang berasal dari lautan yaitu ikan. Pemikiran ini didasarkan pada bahwa tidak mungkin seorang manusia adalah makhluk pertama yang hidup karena manusia memerlukan pengasuhan pada awal kelahirannya. Oleh karena itu Anaximander mempercayai bahwa makhluk hidup pertama adalah ikan yang kemudian naik ke daratan. Dan kemudian mengalami proses yang pada akhirnya berevolusi menjadi manusia.
Disini Anaximander menjelaskan bahwa bumi awalnya berupa lautan, oleh karena itu makhluk yang hidup disana adalah ikan. Karena panas matahari, sebagain dari bumi mengering dan menjadi daratan. Makhluk hidup ini kemudian berpindah ke daratan dan lambat laun mengalami perubahan hingga menjadi sosok manusia yang sempurna. Tentu saja bagi kita pemikiran ini terasa amat ganjil, namun yang patut kita apresiasi adalah bagaimana ia bisa memikirkan hal demikian. Filsuf alam menitikberatakan pada apa yang ia amati disekitar lingkungannya. Anaximander pun sama, dengan berbagai penjelajahan yang ia lakukan, ia pun menyadari bahwa lautan di bumi ini luas sehingga pastilah dulunya bumi berupa lautan. Dan pengamatannya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia membuatnya menarik kesimpulan bahwa bukan manusia yang menjadi makhluk pertama atau asal dari kehidupan ini, karena ketergantungan manusia terhadap manusia lainnya.
e.         Bidang Meteorologi
Anaximander juga termasuk orang yang kritis menanggapi hal-hal yang berhubungan dengan mitos, pengetahuan kuno, surga bahkan dewa-dewi Yunani. Seperti yang kita ketahui bahwa Yunani amat kental dengan mitologi dewa-dewinya. Namun disini Anaximander mempertanyakan semua hal-hal yang berkaitan dengan kisah-kisah mitologi apalagi yang berkaitan dengan alam.
Seperti halnya pada bidang meteorology. Anaximander menyatakan bahwa petir bukanlah disebabkan oleh Zeus sang raja para dewa yang mengarahkan trisulanya atau tongkat petirnya, tapi karena pneuma atau udara yang memadat.
Selain itu Anaximander juga menjelaskan bahwa hujan berasal dari uap yang dibawa ke atas tepat dibawah matahari. Bukan karena hal-hal yang berhubungan dengan mitologi dan kekuatan dewa. Namun memang ada sebab dan prosesnya, dan semua itu juga terjadi secara natural.
Tulisan Anaximander mengenai cuaca dan bidang meteorology ini merupakan catatan pertama manusia yang menjelaskan fenomena cuaca berdasarkan pemikiran rasinonal manusia bukan dari legenda taupun mitos.
f.         Penemuan Lainnya
Penemuan Anaximander yang lain adalah jam matahari. Jam ini dapat menentukan teangah hari, atau titik bayangan terendah dan juga sebagai arah mata angin.
Semua karya Anaximander ditulis berdasarkan prinsip ilmiah dan rasional, bukan sekedar mitos. Sebagai seorang yang rasionalis, Anaximander menuliskan penelitiannnya berdasarkan penghitungan geometri dan matematika.
Disini juga terlihat jelas perhatian Anaximander terhadap matematika maupun geomatri yang sangat besar. Penelitiannya selalu didasarkan pada konsep perhitungan geometri. Bahkan ada beberapa sumber yang menyatakan jika Anaximander mampu memprediksi gempa maupun gerhana dengan perhitungan geometri tersebut. Karena konsep Anaximander juga, trigonometri berkembang.
Dan mengenai perhitungannya terhadap kedudukan bumi, matahari, bulan, planet dan benda angkasa lainnya Anaximander juga menggunakan perhitungan geometri. Dengan demikian sesungguhnya banyak sekali penemuan dan penelitian dari Anaximander yang patut dikaji dan menjadi titik awal perkembangan ilmu pengetahuan modern.
D.    PENUTUP
Jaman Yunani kuno banyak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf alam yang menitikberatkan penelitiannya pada alam atau benda yang diamati. Hal ini terjadi karena jaman Yunani kuno sebenarnya adalah jaman dimana tumbuhnya kesadaran manusia untuk mempergunakan akalnya dalam memahami alam semesta. Yunani banyak dipengaruhi oleh kisah-kisah mitologi dan dewa-dewi yang menjadikan pemikiran masyarakatnya menganggap bahwa kehidupan ini sudah berjalan dengan segala aturan dari dewa. Namun pada abad ke-6 SM terjadi pergeseran pemikiran yang kemudian mempertanyakan hakikat alam semesta ini dari sudut pandang rasional atau akal.
Hal ini dimulai dari Thales, filsuf pertama yang memberikan pengaruh yang kuat sehingga muncullah filsuf-filsuf yang lain yang mulai kritis dalam menanggapi hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan ini. Termasuk kepada Anaximander yang merupakan murid sekaligus keponakan dari Thales sendiri.
Namun yang menakjubkan adalah banyak dari pemikiran Anaximander yang tidak sejalan dengan pemikiran gurunya, apalagi mengenai pembentukan alam semesta. Anaximander berpendapat bahwa alam semesta berasal dari apeiron (yang tak terbatas dalam bahasa Yunani). Selain pendapatnya mengenai alam semesta, Anaximander juga mengemukakan pendapatnya mengenai kedudukan bumi, matahari, bulan, bintang dan benda luar angkasa lainnya. Selain itu banyak jasanya yang dicurahkan pada bidang astronomi maupun geogarafi.
Dalam hal ini Anaximander dikenal juga orang pertama yang membuat peta. Selain itu Anaximander juga kritis dalam menanggap permasalahan yang berkaitan dengan cuaca atau meteorology dan berani menentang konsep-konsep dalam mitologi dengan menggunakan rasionalitas yang berpegang pada prinsip geometri maupun logika. Dengan demikian apa yang disampaikan oleh Anaximander ini patut untuk kita kaji dalam perspektif yang bijak.
DAFTAR PUSTAKA
Suriasumantri, Jujun S. 1984. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia
Achmadi, Asmoro. 2007. Filsafat Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada
*) Penyusun
Nama               : Apin  Mareta/A
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan


Dasar-dasar Ilmu (2)
05/11/2012
Pada dasarnya kata ilmu sudah sering kita dengar dalam kehidupan kita. Namun, tanpa kita sadari banyak di antara kita yang belum paham dengan makna ilmu itu sendiri. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (Depdikbud 1988), ilmu mempunyai dua pengertian, yaitu:
  1. Ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang (pengetahuan) tersebut, seperti ilmu hukum, ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dan sebagainya.
  2. Ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian, tentang soal duniawi, akhirat, lahir, bathin, dan sebagainya, seperti ilmu akhirat, ilmu akhlak, ilmu bathin, ilmu sihir, dan sebagainya.
Dari pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan tentang segala persoalan baik dunia maupun akhirat yang bersifat sistematis dan mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Aristoteles ilmu berdasarkan tujuannya, dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar yaitu :
  1. Ilmu – ilmu teoritis yang penyelidikannya bertujuan memperoleh pengetahuan tentang kenyataan.
  2. Ilmu – ilmu praktis atau produktif yang penyelidikannya bertujuan menjelaskan perbuatan yang berdasarkan pada pengetahuan.
Aristoteles mencoba memperjelas pengklarifikasian ilmu berdasarkan tujuan yang lebih rinci, yaitu bahwa ilmu teoritis lebih mengedepankan fakta di masyarakat, sedangkan ilmu praktis mengedepankan pengetahuan.

KARAKTERISTIK ILMU
MenurutRandall dan Buchker(1942) mengemukakan beberapa ciri umum ilmu diantaranya :
  1. Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama.
  2. Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidiki adalah manusia.
  3. Ilmu bersifat obyektif, artinya prosedur kerja atau cara penggunaan metode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakan, tidak tergantung pada pemahaman secara pribadi.
Menurut Ernest van den Haag(Harsojo, 1977), mengemukakan ciri-ciri ilmu, yaitu:
  1. Bersifat rasional, karena hasil dari proses berpikir dengan menggunakan akal (rasio).
  2. Bersifat empiris, karena ilmu diperoleh dari dan sekitar pengalaman oleh panca indera.
  3. Bersifat umum, hasil ilmu dapat dipergunakan oleh manusia tanpa terkecuali.
  4. Bersifat akumulatif, hasil ilmu dapat dipergunakan untuk dijadikan objek penelitian selanjutnya.

HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN ILMU
  1. 1.      Perbedaan Filsafat dengan ilmu
Ilmu bersifat analisis dan hanya menggarap salah satu pengetahuan sebagai objek formalnya. Filsafat bersifat pengetahuan sinopsis artinya melihat segala sesuatu dengan menekankan secara keseluruhan, karena keseluruhan memiliki sifat tersendiri yang tidak ada pada bagian – bagiannya.
Ilmu bersifat deskriptif  tentang objeknya agar dapat menemukan fakta – fakta, netral dalam arti tidak memihak pada etnik tertentu. Filsafat tidak hanya menggambarkan sesuatu, melainkan membantu manusia untuk mengambil putusan – putusan tentang tujuan, nilai –nilai, dari tentang apa –apa yang harus diperbuat manusia. Filsafat tidak netral, karena faktor – faktor subjektif memegang peranan yang penting dalam berfilsafat.
Ilmu mengawali kerjanya dengan bertolak dari suatu asumsi yang tidak perlu diuji, sudah diakui dan diyakini kebenarannya. Filsafat bisa merenungkan kembali asumsi –asumsi yang telah ada untuk dikaji ulang tentang kebenaran asumsi.
Ilmu menggunakan eksperimentasi terkontrol sebagai metode yang khas. Verifikasi terhadap teori dilakukan dengan jalan menguji dalam praktik berdasarkan metode –metode ilmu yang empiris. Selain menghasilkan suatu konsep atau teori, filsafat juga menggunakan hasil – hasil ilmu, dilakukan dengan menggunakan akal pikiran yang didasarkan pada semua pengalaman insani,sehingga dengan demikian filsafat dapat menelaah yang tidak dicarikan penyelesaiannya oleh ilmu.
  1. 2.      Persamaan Filsafat dengan Ilmu
Filsafat dan ilmu, keduanya menggunakan metode berpikir reflektif ( refflectife thinking ) dalam menghadapi fakta-fakta dunia dan hidup. Filsafat dan  ilmu.
Ilmu membantu filsafat dalam mengembangkan sejumlah bahan- bahan deskriptif dan faktual serta esensial bagi pemikiran filsafat. Ilmu mengoreksi filsafat dengan jalan menghilangkan sejumlah ide-ide yang bertentangan dengan pengetahuan ilmiah
Filsafat merangkum pengetahuan yang terpotong-potong, yang menjadikan beraneka macam ilmu dan yang berbeda serta menyusun bahan-bahan tersebut kedalam suatu pandangan tentang hidup dan dunia dan menyeluruh dan terpadu.

RUANG LINGKUP FILSAFAT ILMU
Ruang lingkup filsafat ilmu mencakup tiga aspek tinjauan, yaitu Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.
  1. 1.      Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat ilmu tentang apa dan bagai­mana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dua­lisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan ke­yakinan kita masing‑masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.
  2. 2.      Epistemologi ilmumeliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenal pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal (Verstand),akal budi (Vernunft) pengalaman, atau komunikasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal adanya model‑model epistemologik seperti: rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme, feno­menologi dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula bagai­mana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seperti teori ko­herensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.
  3. 3.      Aksiologi llmumeliputi nilal‑nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau ke­nyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik atau pun fisik‑material. Lebih dari itu nilai‑nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.

SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU
  1. 1.      Zaman Pra Yunani Kuno (Zaman Batu)
Pada abad VI SM Yunani muncul melahirkan filsafat ilmu dan mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan. Mulai saat itu orang mencari jawaban rasional tentang problem alam semesta. Segala hal didasarkan pada rasio mereka yang tidak dapat diyakini kebenarannya. Dari sinilah selanjutnya filsafat ilmu dilahirkan.
  1. 2.      Zaman yunani kuno
    1. Zaman keemasan Yunani
Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat ilmu, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu, karena Yunani pada masa itu tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi.
Dari ide – ide dan pendapat yang disampaikan akan memunculkan hasil berupa kesimpulan tentang suatu masalah dan cara – cara penyelesaiannya.
  1. Masa Helinistis Romawi
Pada masa ini muncul beberapa aliran yaitu sebagai berikut:
  • Stoisisme. Menurut paham ini jagad raya ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut logos yang berarti ilmu. Oleh karena itu segala kejadian harus berdasarkan ketetapan yang tidak dapat dihindari.
  • Epikurisme. Paham ini menyatakan bahwa segalanya yang ada di dunia ini terdiri dari atom-atom.
  • Skepisisme. Pada masa ini, mereka berfikir bahwa bidang teoritis atau akal manusia tidak sanggup mencapai kebenaran.
  • Eklektisisme. Paham ini merupakan suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur filsafat ilmu dari aliran-aliran lain tanpa berhasil mencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.
  • Neoplatoisme, yakni paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat ilmu plato.
  1. 3.      Zaman Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan terdapat beberapa tokoh filsafat seperti Plotinus yang mengajukan teori emanasi, Augustinus yang mempunyai ajaran khas, Anselmus yang mengeluarkan istilah credo ut intelligam ( yang dianggap merupakan ciri utama fisafat abad pertengahan ), dan Aquinas yang terkenal dengan 5 dalil tentang adanya Tuhan. Filsafat pada abad pertengahan ini mengalami 2 periode, yaitu:
  1. Periode Patriktis. Pada masa ini mengalami 2 tahap:
  • Permulaan agama Kristen
  • Filsafat ilmu Augustinus; yang terkenal pada masa Patriktis
  1. Periode skolastik; menjadi 3 tahap yakni:
  • Periode awal, ditandai dengan pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat ilmu.
  • Periode puncak, ditandai oleh keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat ilmu arab dan yahudi.
  • Periode akhir, ditandai dengan pemikiran kefilsafatan ilmuan yang berkembang kearah nominalisme.
  1. 4.       Zaman Renaissance
Ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran yang bebas. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Illahi, oleh karena itu disebut zaman renaissance yang berarti terlahir kembali.
  1. 5.      Zaman Modern
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman renaissance.
  1. 6.       Zaman Kontemporer (Abad XX Dan Seterusnya)
Zaman ini sangat dipengaruhi oleh fisikawan termashur yaitu Albert Einstein yang percaya akan kekekalan materi. Dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam. Zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan teknologi-teknologi canggih yang terus berkembang hingga sekarang.

BEBERAPA ALIRAN FILSAFAT ILMU
Sejarah perjalanan perkembangan keyakinan dan pemikiran umat manusia tentang pendidikan telah melahirkan sejumlah filsafat ilmu yang melandasinya. Dari berbagai filsafat ilmu yang ada, terdapat tiga aliran paham yang dirasakan masih dominan pengaruhnya hingga saat ini, yang secara kebetulan ketiganya lahir pada jaman abad pencerahan (renaissance) menjelang zaman modern.
  1. 1.      Nativisme atau Naturalisme, dengan tokohnya antara lain. J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Paham ini berpendirian bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci dan dianugerahi dengan potensi insaniah yang dapat berkembang secara alami. Karena itu, pendidikan pada dasarnya sekedar merupakan suatu proses pemberian kemudahan agar anak berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung pesimistik.
  2. 2.      Empirisme atau Environtalisme, dengan tokohnya antara lain John Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M). Aliran ini berpandangan bahwa manusia lahir hanya membawa bahan dasar yang masih suci namun belum berbentuk apapun, bagaikan papan tulis yang masih bersih belum tertulisi (Tabula Rasa, Locke ) atau sebuah bejana yang masih kosong (Herbart). Atas dasar itu, pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian pribadi peserta didik ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung optimistik.
  3. 3.      Konvergensionisme atau Interaksionisme, dengan tokohnya antara lain William Stern (1871-1939). Pandangan ini pada dasarnya merupakan perpaduan dari kedua pandangan sebelumnya. Menurut pandangan ini, baik pembawaan anak maupun lingkungan merupakan faktor-faktor yang determinan terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik. Oleh karenanya, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian peristiwa interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Pribadi peserta didik akan terbentuk sebagai resultante atau hasil interaksi dari kedua faktor determinan tersebut. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung rasional.


KESIMPULAN
Ilmu berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimanana alam sebenarnya dan bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di alam. Untuk tujuan ini, ilmu menggunakan bukti dan eksperimen, deduksi logis serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individual di dalam suatu masyarakat. Sedangkan filsafat ilmu sendiri merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat , asumsi, dan implikasi dari ilmu,yang termasuk didalamnyaa antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistimologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah  seperti : apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Sejarah perkembangan ilmu bermula dari zaman batu. Pada masa itu ilmu hanya sebatas rasa ingin tahu mengenai alam sekitarnya. Namun periodisasi ilmu pengetahuan secara teoris selalu mengacu pada peradaban Yunani. Zanman Yunani merupakan zaman filsafat, karena pada zaman ini para filsuf menggunakan sifat tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap. Dan di zaman ini banyak bermunculan filsuf terkenal seperti Socrates, Plato dan Aristoteles  yang menjadi acuan bagi para filsuf dunia pada masa itu.



Penyusun:
  1. Adi Wahyudi
  2. Endah Kusumawardani
  3. Lilis Widyaningrum
  4. Ratna Puspitasari
  5. Triani
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Dasar-dasar Ilmu
05/11/2012
Dalam setiap aspek kehidupan dibutuhkan berbagai ilmu untuk menjalani kehidupan tersebut. Termasuk di dalamnya proses pendidikan. Proses pendidikan perguruan tinggi menuntut pemahaman mahasiswa lebih luas, tidak hanya dalam bidangnya saja. Dalam mempelajari hal – hal lain tentunya membutuhkan pendekatana dan ilmu – ilmu tertentu, untuk mendukung proses belajar atau menghadapi dunia yang serba tekhnologi ini.
Proses belajar ini akan menuntun mahasiswa untuk latihan berfikir ilmiah, logis dan kritis. Mengetahui sebab dan akibat dari sebuah fenomena. Hal ini akan dipelajari dalam ilmu filsafat. Ilmu filsafat akan membahas berbagai latar belakang ilmu dan penyikapannya. Sumber dasar dari berbagai cabang filsafat adalah ilmu. Untuk itu dasar – dasar ilmu sangat penting sebelum menjurus lebih dalam mengenai pengetahuan filsafat yang lebih mendalam.
PENGETAHUAN BIASA
Pengetahuan biasa atau dalam filasafat dikatakan dengan istilah “common sense”, dan sering diartikan dengan “good sense”, karena seseorang memiliki sesuatu di mana ia menerima secara baik. Semua orang menyebutkan sesuatu itu merah karena memang itu merah, benda itu panas, karena memang dirasakan panas, dan sebaginya (Burhanuddin, 2003: 6). Pengetahuan diperoleh dari hasil proses usaha manusia untuk tahu.
Dengan common sense, semua orang sampai kepada keyakinan secara umum tentang sesuatu, di mana mereka akan berpendapat sama semuanya. Common sense diperoleh dari pengalaman sehari – hari, seperi air dapat digunakan untuk menyiram bunga, makanan dapat menjadikan kenyang, musim kemarau akan mengakibatkan kekeringan sawah.
PENGERTIAN ILMU
Kata “ilmu” merupakan terjemahan dari kata “science”, yang secara etimologis berasal dari kata latin “scinre”, artinya “to know”. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan obyektif.
Menurut Harold H. Titus, ilmu (science) diartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda – benda atau peristiwa – peristiwa dengan menggunakan metode – metode observasi, yang teliti dan kritis.
Prof. Drs. Harsojo, Guru Besar Universitas Padjajaran menyatakan bahwa ilmu adalah:
“ a. merupakan akumulasi pengetahuan yang disistematiskan
b. suatu pendekatan atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang prinsipnya dapat diamati oleh panca indera manusia.
c. suatu cara menganalisis yang mengizinkan kepada ahli – ahlinya untuk menyatakan sesuatu proposisi dalam bentuk: “jika …. maka ….!”.
Seperti dalam ungkapan Burhanuddin (2003: 10) yang menyatakan bahwa Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari – hari namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode. Sebagai contohnya, ketika manusia melihat suatu objek yang menjadi kebenaran umum dan berusaha untuk mengenalnya dengan berbagai pemikiran dan cara pandang ataupun cara berfikir.
Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif, tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu, diperoleh melalui observasi, eksperimen, klasifikasi dan analisis. Ilmu itu objektif dan mengesampingkan unsur pribadi, pemikiran logika diutamakan, netral dalam arti tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang bersifat kedirian, karena dimulai dengan fakta, ilmu merupakan milik manusia secara komprehensif (Burhanuddin, 2003: 11).
Ilmu merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati pancaindera manusia (Burhanuddin, 2003: 11).
PENGERTIAN PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Prof. Dr. M. J. Langeveld, Guru Besar pada Rijk Universiteit Utrecht menyatakan sebagai berikut:
“Pengetahuan ialah kesatuan subjek yang mengetahui dan obyek yang diketahui. Suatu kesatuan dalam mana objek itu dipandang oleh subyek sebagai diketahuinya”.
Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan menjadi kesatuan berfikir untuk menentukan tentang siapakah si objek itu menurut pemikiran atau si subjek dari hal yang pernah dia ketahui. Sehingga mengetahui siapa dan apa objek tersebut.
Menurut Drs. Sidi Gazalba, pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pengetahuan tahu tersebut merupakan hasil daripada: kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai.
Sedangkan Ilmu pengetahuan, Afanasyef menyatakan bahwa:
“Science is the system  of man’s knowledge of nature society and thought. It reflects the world in concepts, categories and law, the correctness and truth of which are verivied by practical experience”. (Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran. Ia mencerminkan alam dalam konsep – konsep, kategori – kategori dan hukum – hukum yang ketepatannya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis).
Dalam “Ensiklopedia Indonesia”, kita jumpai pengertian sebagai berikut:
“Ilmu pengetahuan, suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing – maisng mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, yang disusun sedemukian rupa menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan; suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan-pemerikasaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode- metode tertentu (induksi, deduksi)”.
KATEGORI ILMU
Menurut Prof. Drs. Harsopo, ilmu – ilmu empiris baik ilmu pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan sosial, berdasarkan tujuannya dapat dibagi dua kategori, yaitu:
  1. Ilmu – ilmu murni
  2. Ilmu – ilmu tereapan (terpakai)
Ilmu muni merupakan ilmu yang dipelajari dan dikembangkan dengan tujuan untuk memajukan ilmu itu sendiri, memperkaya diri dengan mendapatkan pengertina-pengertian yang lebih mendalam dan lebih sistematis mengenal ruang lingkup atau daerah penelitiannya (Burhanuddin, 2003: 11).
Kategori ilmu sebagai ilmu murni misalnya pada bidang bahasa Inggis yaitu sastra Ingris, dikatakan sebagai ilmu bahasa murni, apabila tujuan Bahasa Inggris secara langsung ingin memperoleh pengetahuan yang sistematis tentang kebahasan, unsur-unsur bahasa Inggris, pengetahuan bahasa Inggris secara mendalam, linguistik, literatur dan budaya.
Ilmu terapan merupakan ilmu yang dipelajari secara sadar untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang dihadapi manusia. Misalnya, dalam perguruan tinggi terdapat jurusan pendidikan bahasa Inggris, maka disini merupakan salah satu ilmu terapan, dimana bahasa Inggris dikhususkan dipelajari untuk proses pengajaran. Jadi, dari prinsip-prinsip Sastra Inggris sebagai hasil studi ilmu murni kemudian diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pengajaran bahasa Inggris. Maka yang dibahas adalah Bahasa Inggris dalam konteks pendidikan.

OBYEK DAN SUDUT PANDANG ILMU PENGETAHUAN
  1. Objek atau lapangan ilmu pengetahuan itu (apa yang dipandang)
Pada garis besarnya obyek atau lapangan ilmu pengetahuan iyu ialah alam dan manusia. Perbedaan antara satu ilmu dengan ilmu yang lain adalah objek material atau lapangan ilmu pengetahuan itu. Apabila objek materialnya  sama maka yang membedakannya ialah obyek formalnya atau sudut pandangnya.
  1. Objek Material, yaitu objek/lapangan jika dilihat keseluruhannya. Jadi manusia, minyak tanah, dan sebagainya.
  2. Objek Formal, yaitu objek /lapangan jika dipandang menurut suatu aspek atau sudut tertentu saja, jadi manusia sakit “untuk kedokteran” dan sebagainya.
Materil dan formal dapat dianalogikan seperti materialnya adalah batu bata selanjutnya disebut sekolah, asrama, candi. Merialnya atau bahan dasarnya adalah batu bata, sedangkan bentuk dalam berbagai bentuk dengan bahan dasar batu bata sperti sekolah dan asrama merukan objek formalnya.
  1. Sudut Pandangan
Sesungguhnya manusia itu terbatas, dari berbagai barang-barang itu hanya dapat melihat satu sudut saja. Sebaliknya satu objek dapat dipandang dari berbagai-bagai sudut. Mempelajari objek harus  sampai habis-habisan justru berarti memepelajari dari berbagai-bagai sudut. Misalnya minyak tanah itu dapat dilihat dari sudut susunannya, maka terjadilah ilmu kimia. Dapat juga dilihat daris sudut tempat terdapatnya, maka ini menjadi lapangan geologi. Dapt juga dipandang dari segi ekonomi.

PEMBAGIAN ILMU PENGETAHUAN
Pada zaman Purba Abad pertengahan pembagian ilmu pengetahuan berdasarkan “artis liberalis “ yang terdiri dari:
  1. Trivium atau tiga bagian adalah:
    1. Gramatika, bertujuan agar manusia dapat berbicara yag baik.
    2. Dialektika, bertujuan agar manusia dapat berpikir dengan baik, formal dan logis.
    3. Retorika, bertujuan agar manusia dapat berbicara dengan baik.
    4. Quadrivium, atau empat bagian adalah:
      1. Aritmatika, adalah ilmu hitung.
      2. Geometrika,adalah ilmu ukur.
      3. Musika, adalah ilmu musik.
      4. Astronomia, adalah ilmu perbintangan.
Sedangkan menurut klasik ilmu pengetahuan dibedakan dalam :
  1. Natural sciences ( kelompok ilmu-ilmu alam)
  2. Social sciences ( kelompok ilmu-ilmu sosial )
Dr. C.A Van Peurson membedakan ilmu pengetahuan atas:
  1. Ilmu pengetahuan kemanusiaan.
  2. Ilmu pengetahuan alam.
  3. Ilmu pengetahuan hayat.
  4. Ilmu pengetahuan logik- deduktif
Di dalam Undang- Undang  pokok pendidikan tentang perguruan tinggi Nomor: 22 Tahun 1961 di Indonesia mengklarifikasikan ilmu pengetahuan atas empat kelompok yaitu:
  1. Ilmu agama/ kerohanian, yang meliputi:
    1. Ilmu agama
    2. Ilmu jiwa
    3. Ilmu kebudayaan, yang meliputi:
      1. Ilmu sastra
      2. Ilmu sejarah
      3. Ilmu pendidikan
      4. Ilmu filsafat
    4. Ilmu sosial yang meliputi:
      1. Ilmu hukum
      2. Ilmu ekonomi
      3. Ilmu sosial politik
      4. Ilmu ketatanegaraan dan ketataniagaan
    5. Ilmu Eksakta dan teknik, yang meliputi:
      1. Ilmu hayat
      2. Ilmu kedokteran
      3. Ilmu pasti alam
      4. Ilmu geologi
      5. Ilmu oceanografi
      6. Ilmu teknik
      7. Ilmu geologi
      8. Ilmu oceanografi

SIFAT- SIFAT ILMU PENGETAHUAN
Sejarah membuktikan bahwa dengan metode ilmu akan membawa manusia kepada kemajuan dalam pengetahuannya. Kemajuan dalam pengetahuan yang dihasilkan oleh ilmu dipengaruhi beberapa sifat stau ciri khas yang dimiliki oleh ilmu. Randall mengemukakan beberapa ciri umum yaitu:
  1. Hasil ilmu sifatnya akumulatif dan merupakan milik bersama, artinya hasil daripada ilmu yang telah lalu dapat dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal baru.
  2. Hasil ilmu, kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya mnusia.
  3.  Ilmu itu objektif, artinya prosedur cara penggunaan metode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakannya dan tidak tergantung kepada pemahaman pribadi.

KEGUNAAN ILMU PENGETAHUAN
Manusia belajar dari pengalamannya, dan berasumsi bahwa alam mengikuti hukum-hukum dan aturan-aturannya, ilmu adalah salah satu hasil budaya manusia yang lebih mengutamakan kuantitas yang objektifdan mengesampingkan kualitas yang subjektif, sehingga dengan ilmu manusian tidak akan mementingkan dirinya sendiri. Ilmu menghasilkan teknologi yang memungkinkan manusia dapat bergerak atau bertindak dengan cermat dan tepat karena ilmu dan teknologi merupakan hasil kerja pengalaman, observasi, eksperimen dan verifikasi.
Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dapat mengubah wajah dunia,mengubah cara manusia bekerja dan berfikir.

KESIMPULAN
Setiap aktivitas manusia tidak akan jauh dari pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Alam dan manusia merupakan objek dari ilmu pengetahuan yang saling berkaitan satu sama lain. Ilmu akan diperoleh melalui usaha dan rasa ingin tahu sehingga menjadi tahu, selanjutnya berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang akan memecahkan permasalahan – permasalahan yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh manusia. Dalam hal ini yang berkaitan dengan gejala yang mampu diraba oleh indera manusia.
Ilmu sebagai konsep dasar selalu bersifat objektif, tergantung manusia akan membawa kemana suatu ilmu tersebut.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Salam, Burhanuddin. Pengantar Filsafat. PT Bumi Aksara. Jakarta. 2003
*) Penyusun
  1. Andi Prayitno
  2. Eva Fitriana
  3. Dhian Devitasari
  4. Maya Nurhidayati
  5. Widia Kandi L.
Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu
Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.
Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan



Pengetahuan Filsafat?
24/09/2012
Perkembangan ilmu pengetahuan tidak pernah terlepas dari sejarah peradaban manusia. Ia selalu terkait satu sama lainnya. Tidak terkecuali sejarah filsafat ilmu. Filsafat itu sendiri telah muncul sejak ribuan tahun yang lalu di mana akal manusia masih dihadapkan pada ruang dinamika pemikiran yang sederhana dan permasalahan yang tidak begitu komplek seperti saat ini. Latar belakang perkembangan ilmu dimulai sejak zaman purba.
Ilmuwan terangsang imajinasi untuk menemukan dan mengembangkan penemuan asal. Hal ini didasari karena adanya perhatian, kesempatan dan kemauan serta keterampilan. Menurut Beekman (1973) filosofia adalah melihat segala sesuatu dengan perhatian dan minat, kemudian berarti pula berpikir tentang segala sesuatu yang menyadarinya. Dimulai dengan pertanyaan yang teliti, artinya berdasarkan suatu pemikiran tertentu. Banyak sekali pengertian dari filsafat, namun dapat diambil satu benang merah bahwa filsafat yaitu adanya aktivitas manusia yang tidak dapat diamati. Sehingga muncullah filsafat ilmu yang dilatarbelangi adanya penemuan ilmiah.
Berpikir berarti menyusun silogisme dengan tujuan mendapat kesimpulan yang tepat dengan menghilangkan setiap kontradiksi. Secara epistemologis kegiatan berpikir ilmiah melingkupi suatu rantai berpikir logis yang merupakan pengkajian baik deduktif maupun induktif. Berpikir logis maksudnya dapat menggunakan kemampuan akal budinya secara dialektif, intuitif, taksonomi atau simbolik.  Ilmu tidaklah netral atau bebas nilai atau objektif. Ilmu hakikatnya selalu terkait dengan berbagai kepentingan, nilai dan lainnya, baik pada tataran ontologi, epistemologi maupun aksiologinya.

ONTOLOGIPENGETAHUAN FILSAFAT
Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani, yaitu : Ontos : being, dan Logos Logic Jadi ontology adalah the theory of being qua being ( teori tentang keberadaan sebagai keberadaan ). Atau bisa juga ilmu tentang yang ada. Secara istilah ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada yang merupakan realiti baik berbentuk jasmani atau kongkrit maupun rohani atau abstrak.
Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya, dan membahas juga tentang struktur filsafat.
  1. 1.       Hakikat Pengetahuan Filsafat
Menurut Hatta bahwa pengertian filsafat lebih baik tidak dibicarakan lebih dulu, nanti bila orang telah banyak mempelajari filsafat orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa filsafat itu. ﴾Hatta, Alam Pikiran Yunani, 1966. 1 : 3﴿ Langeveld juga berpendapat seperti itu, dikatakan bahwa setelah orang berfilsafat sendiri, barulah ia maklum apa filsafat itu; makin dalam ia berfilsafat akan semakin mengerti ia apa filsafat itu ﴾Langeveld, Menuju ke Pemikiran Filsifat, 1961 : 9﴿
Dua pendapat di atas benar, akan tetapi tidak salah juga bila mengetahui apa filsafat itu pengertian filsafat yang pertama yaitu mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka. ﴾Poedjawijatna, Pembimbing ke Alam Filsafat, 1974 : 11﴿
Pengertian filsafat selanjutnya bahwa filsafat sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu. ﴾Hasbullah Bakry, Sistematik Filsafat, 1971 : 11﴿
Dari dua pengertian antara Poedjawijatna dan Hasbullah Bakry dapat diambil kesimpulan bahwa filsafat itu pengetahuan yang diperoleh dari berpikir.
Menurut filosof lain mendefinisikan filsafat sebagai pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan. ﴾D. C. Mudler, Pembimbing ke dalam Ilmu Filsafat, 1966 : 10﴿ dan kesimpulan filsafat yang dapat diambil filsafat adalah pengetahuan yang logis dan tidak empiris.
  1. 2.       Struktur Filsafat
Struktur filsafat bisa disebut juga sistematika filsafat. Filsafat terdiri atas tiga cabang besar, yaitu; ontologi, epistemology, dan aksiologi. Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan.
Ontologi;  membicarakan hakikat ﴾segala sesuatu﴿ ini berupa pengetahuan  tentang  hakikat segala sesuatu.
Epistomologi;  cara memperoleh pengetahuan itu
Aksiologi;  membicarakan guna pengetahuan itu
Ontologi mencakup banyak sekali filsafat, mungkin semua filsafat masuk di sini, misalnya logika, metafisika, kosmologi, teologi, antropologi, etika, estetika, filsafat pendidikan, filsafat hukum, dll. Epistemology hanya mencakup satu bidang saja yang disebut epistemology yang membicarakan cara memperoleh pengetahuan filsafat. Sedangkan aksiologi hanya mencakup satu cabang filsafat yaitu guna pengetahuan filsafat inilah kerangka struktur filsafat.

EPISTEMOLOGI PENGETAHUAN FILSAFAT
Epistemologi, (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/ pembicaraan/ ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.
Epistemologi atau Teori Pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, diantaranya; metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatis dan metode dialektis.

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan:
  1. a.       Empirisme
Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
  1. b.      Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
  1. c.       Fenomenalisme
Bapak Fenomenalisme adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karena itu kita tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita, artinya, pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan didasarkan pada pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
  1. d.      Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif.
Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan tambahan bagi pengetahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif.
Hendaknya diingat, intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme – setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk-hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang meliputi sebagian saja-yang diberikan oleh analisis. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang menampak belaka, sebagai lawan dari apa yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan. Mereka mengatakan, barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang menampak kepada kita, dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.
  1. e.      Dialektis
Yaitu tahap logika yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melekukan perdebatan. Dalam teori pengetahuan ini merupakan bentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran tetapi pemikiran itu seperti dalam percakapan, bertolak paling kurang dua kutub.

Obyek Pengetahuan Filsafat
Pada dasarnya setiap ilmu mempunyai dua macam obyek, yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh adalah obyek material ilmu kedokteran. Adapun obyek formalnya adalah metode untuk memahami obyek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif.
Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal juga memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada, baik mencakup ada yang tampak maupun ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedang ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosuf membagi obyek material filsafat atas tiga bagian, yaitu: yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Adapun obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.
Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa filsafat ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif dan dua obyek instrumentatif, yaitu:
Obyek Subtantif, yang terdiri dari dua hal:

FAKTA (KENYATAAN)
Yaitu empiri yang dapat dihayati oleh manusia. Dalam memahami fakta (kenyataan ini ada beberapa aliran filsafat yang memberikan pengertian yang berbeda-beda, diantaranya adalah:
  1. Positivisme
a)      Hanya mengakui penghayatan yang empirik dan sensual
b)      Sesuatu sebagai fakta apabila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan yang sensual lainnya
c)       Data empirik sensual tersebut harus obyektif tidak boleh masuk subyektifitas peneliti
d)      Fakta itu yang faktual ada
  1. Phenomenologi:
a)      Fakta bukan sekedar data empirik sensual, tetapi data yang sudah dimaknai atau diinterpretasikan, sehingga ada subyektifitas peneliti. Tetapi subyektititas disini tidak berarti sesuai selera peneliti, subyektif disini dalam arti tetap selektif sejak dan pengumpulan data, analisis sampai pada kesimpulan. Data selektifnya mungkin berupa ide , moral dan lain-lain.
b)      Orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya dan juga terkait pada konsep-konsep yang dimiliki
c)       Kenyataan itu terkonstruk dalam moral.
  1. Realisme:
Sesuatu itu sebagai nyata apabila ada korespondensi dan koherensi antara empiri dengan skema rasional.
a)      Mataphisik sesuatu sebagai nyata apabila ada koherensi antara empiri dengan yang obyektif universal
b)      Yang nyata itu yang riil exsist dan terkonstruk dalam kebenaran obyektif
c)       Empiri bukan sekedar empiri sensual yang mungkin palsu, yang mungkin memiliki makna lebih dalam yang beragam.
d)      Empiri dalam realisme memang mengenai hal yang nil dan memang secara substantif ada
e)      Dalam realisme metaphisik skema rasional dan paradigma rasional penting
f)       Empiri yang substantif riil baru dinyatakan ada apabila ada koherensi yang obyektif universal
  1. Pragmatis :
Yang ada itu yang berfungsi, sehingga sesuatu itu dianggap ada apabila berfungsi. Sesuatu yang tidak berfungsi keberadaannya dianggap tidak ada.
  1. Rasionalistik :
Yang nyata ada itu yang nyata ada, cocok dengan akal dan dapat dibuktikan secara rasional atas keberadaanya

KEBENARAN
  • Positivisme:
  1. Benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuatu dengan empiri sensual
  2. Kebenaran pisitivistik didasarkan pada diketemukannya frekwensi tinggi atau variansi besar
  3. Bagi positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondensi antara fakta yang satu dengan fakta yang lain
  • Phenomenologi:
  1. Kebenaran dibuktikan berdasarkan diketemukannya yang esensial, pilah dan yang non esensial atau eksemplar dan sesuai dengan skema moral tertentu
  2. Secara esensial dikenal dua teori kebenaran, yaitu teori kebenaran korespondensi dan teori kebenaran koherensi
  3. Bagi phenomenologi, phenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan yang dipercaya.

Realisme Metaphisik : Ia mengakui kebenaran bila yang faktual itu koheren dengan kebenaran obyektif universal
  • Realisme
  1. Sesuatu itu benar apabila didukung teori dan ada faktanya
  2. Realisme hart, menuntut adanya konstruk teori (yang disusun deduktif probabilisti) dan adanya empiri teerkonstruk pula Islam : Sesuatu itu benar apabila yang empirik faktual koheren dengan kebenaran transenden berupa wahyu.
  • Pragamatisme : Mengakui kebenaran apabila faktual berfungsi.
Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori, menurut Michael Williams ada lima teori kebenaran, yaitu:
  1. Kebenaran Preposisi, yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran proposisinya baik proposisi formal maupun proposisi material nya.
  2. Kebenaran Korespondensi, teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada adanya korespondensi antara pernyataan dengan kenyataan (fakta yang satu dengan fakta yang lain). Selanjutnya teori ini kemudian berkembang menjadi teori Kebenaran Struktural Paradigmatik, yaitu teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada upaya mengkonstruk beragam konsep dalam tatanan struktur teori (struktur ilmu.structure of science) tertentu yang kokoh untuk menyederhanakan yang kompleks atau sering
  3. Kebenaran Koherensi atau Konsistensi, yaitu teori kebenaran yang medasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.
  4. Kebenaran Performatif, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu dianggap benar apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan.
  5. Kebenaran Pragmatik, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu benar apabila mempunyai kegunaan praktis. Dengan kata lain sesuatu itu dianggap benar apabila mendatangkan manfaat dan salah apabila tidak mendatangkan manfaat.

AKSIOLOGI PENGETAHUAN FILSAFAT
Aksiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan.
Untuk melihat kegunaan filsafat dapat dilihat pada yiga hal, yaitu:
  1. Filsafat sebagai kumpulan teori
  2. Filsafat sebagai metode pemecahan masalah
  3. Filsafat sebagai pandangan hidup

Kegunaan pengetahuan filsafat:
a)        Kegunaan filsafat bagi akidah
Filsafat dapat berguna untuk memperkuat keimanan. Sebagai seorang muslim tentunya harus memiliki akidah yang kuat. Dengan akidah yang kuat maka keislaman nya akan kuat juga. Untuk memperkuat akidah seorang muslim harus mengamalkan ajaran islam secara ungguh-sungguh. Untuk itu secara moral, seorang muslim harus mempercayai/perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
b)        Kegunaan filsafat bagi hukum islami
Hukum islami adalah hukum yang di jadikan aturan beramal yang berada di dalam fiqih sebagai kumpulan hukum yang dibuat berdasarkan kaidah hukum yang digunakan untuk menetapkan hukum. Adapun kaidah-kaidah hukum dibuat berdasarkan teori-teori filsafat. Jadi, filsafat ebagai metodologi yang berguna bagi pengembangan hukum islami.
c)         Kegunaan filsafat bagi bahasa
Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi, alat untuk mengekpresikan perasaan dan pikiran, serta sebagai alat berfikir ilmiah. Kadang-kadang kerusakan bahasa bisa karena tidak digunakan nya suatu logika/filsafat. Kesalahan dalam berbahasa dapat memunculkan kesalahan dalam berfikir. Untuk itu filsafat mempunyai peranan penting dalam menentukan kualitas bahasa.

Penyusun:
  1. Abdi donas sulaga
  2. Dwi ermayani
  3. Ika mirasari
  4. Santi handayani
  5. Yesi aditia



Pengetahuan Filsafat: Kajian Epistimologi, Ontologi, Aksiologi
24/09/2012 
Landasan Pendidikan marupakan salah satu kajian yang dikembangkan dalam berkaitannya dengan dunia pendidikan. Adapun cakupan landasan pendidkan adalah : landasan hukum, landasan filsafat, landasan sejarah, landasan sosial budaya, landasan psikologi, dan landasan ekonomi. Dalam makalah ini hanya akan dibahas mengenai pengetahuan filsafat, yaitu ontology filsafat, epistimologi filsafat dan aksiologi filsafat.
Filsafat ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai ke akar-akarnya. Sesuatu dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. filsafat membahas segala sesuatu yang ada di alam ini yang sering dikatakan filsafat umum. sementara itu filsafat yang terbatas ialah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat agama, dan sebagainya.
Jadi berfikir filsafat dalam pendidikan adalah berfikir mengakar/menuju akar atau intisari pendidikan. Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila ada pertanyaan-pertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak dijawab oleh ilmu atau cabang ilmu-ilmu. Misalnya: apakah yang dimaksud dengan pengetahuan dan/atau ilmu? Dapatkah kita bergerak ke kiri dan kanan di dalam ruang tetapi tidak terikat oleh waktu? Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sekitar pendidikan dan ilmu pendidikan. Kiranya kegiatan pendidikan bukanlah sekedar gejala sosial yang bersifat rasional semata mengingat kita mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia, lebih-lebih untuk anak-anak kita masing-masing; ilmu pendidikan secara umum tidak begitu maju ketimbang ilmu-ilmu sosial dan biologi tetapi tidak berarti bahwa ilmu pendidikan itu sekedar ilmu atau suatu studi terapan berdasarkan hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu sosial dan atau ilmu perilaku.
Pengetahuan Filsafat
Filsafat ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai ke akar-akarnya. Sesuatu dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. filsafat membahas segala sesuatu yang ada di alam ini yang sering dikatakan filsafat umum. sementara itu filsafat yang terbatas ialah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat agama, dan sebagainya.

Ontology Pengetahuan Filsafat.
Ontology filsafat adalah cabang filsafat yang membahas tentang prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.
  1. Hakikat Pengetahuan Filsafat.
Filsafat dapat dijabarkan dari perkataan “philosophia” kata philos berarti cinta, dan kata “shopos” berarti kebijaksanaan atau pengetahuan yang mendalam. Perkataan ini berasal dari bahasa yunani yang berarti “ cinta akan kebijaksanaan ( love of wisdom ).
Jadi sudut praktis yang sesungguhnya dari barang-barang, mengenai arti dan nilai hidup itu, arti dan nilai manusia itu. Dengan demikian, dapatlah kita berikan definisi atau batasan filsafat itu sebagai berikut :
“Filsafat adalah pengetahuan yang mempelajari sebab-sebab yang pertama atau prinsip-prinsip yang tertinggi dari segala sesuatu yang dicapai oleh akal budi manusia.”
Dari definisi ini jelas yang menjadi objek materialnya ialah segala sesuatu yang dipermasalahkan filsafat. Sedangkan sudut pandangnya ialah mencapai sebab-sebab yang terdalam dari segala sesuatu, ada yang mutlak  ada yaitu penyebab pertama atau causa prima yaitu Allah itu sendiri.

  1. Struktur Filsafat.
Layaknya ilmu pengetahuan pada umumnya filsafat juga memiliki struktur, diantaranya
  1. Logika
Logika adalah cabang filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita. Dengan mempelajari logika diharapkan dapat menerapkan asas bernalar sehingga dapat menarik kesimpulan dengan tepat.
  1. Epistemologi
Epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan sumber pengetahuan, asal pengetahuan, sifat, metode, dan kesahihan pengetahuan. Dengan belajar epistemologi dan filsafat ilmu diharapkan dapat membedakan antara pengetahuan dan ilmu serta mengetahui dan menggunakan metode yang tepat dalam memperoleh suatu ilmu serta mengetahui kebenaran suatu ilmu itu ditinjau dari isinya.
  1. Etika
Etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik buruk. Dengan belajar etika diharapkan dapat membedakan istilah yang sering muncul seperti etika, norma dan moral.
  1. Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan. Dengan belajar estetika diharapkan dapat membedakan antara berbagai teori-teori keindahan, pengertian seni, penggolongan seni, dan nilai seni.
  1. Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dengan belajar metafisika orang justru akan mengenal Tuhannya.

Epistimologi Pengetahuan Filsafat.
Epistemologi adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimilliki.
  1. Objek pengetahuan filsafat.
Filsafat ilmu sebagaimana mestinya dengan bidang-bidang ilmu yang lain juga memiliki objek material dan objek formal tersendiri.
  1. Objek material filsafat ilmu.
Objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.
  1. Objek formal filsafat ilmu.
Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ( esensi ) ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan.
  1. Cara memperoleh pengetahuan filsafat.
Hanya dengan cara dan metode tertentu pengetahuan kefilsafatan dapat diperoleh. Mendapatkan pengetahuan yang benar, lebih-lebih pada taraf kefilsafatan haruslah berlangsung secara bertahap sedikit demi sedikit. Tidak mungkin sekaligus. Maka metode yang paling tepat adalah metode ilmiah yang merupakan gabungan antara analisis dan sintesis yang dipakai secara dialektik berkesinambungan.
  1. Metode Analisis.
Metode ini melakukan pemeriksaan secara konseptual atas istilah-istilah yang kita pergunakan dan pernyataan-pernyataan yang kita buat. Di dalam ilmu pengetahuan alam. setiap saat kita menyaksikan berbagai macam benda. Dan keberadaanya dapat diketahui bahwa setiap benda selalu menempati ruang dan waktu tertentu, berbentuk, berbobot dan berjumlah (volume). Metode analisis mi sering disebut sebagai metode aposteriori karena bertitik tolak dan segala sesuatu atau pengetahuan yang adanya itu timbul sesudah pengalaman, agar sampai kepada suatu pengetahuan yang adanya di atas atau di luar pengalaman sehari-hari.
  1. Metode Sintesis.
Sebaliknya, metode mi dibantu dengan peralatan deduktif yang mencoba menjabarkan sifat-sifat umum yang secara niscaya ada pada segala sesuatu ke dalam hal-hal dan keadaan-keadaan konkret khusus tertentu. Sifat-sifat umum yang mengenai kejiwaan manusia misalnya, dapat dijabarkan ke dalam bermacam-macam jenis dan bentuk tingkah laku.
Dalam studi filsafat, kedua metode di atas lebih dipergunakan secara dialektik. Artinya digunakan secara berkesinambungan dalam suatu rentetan sebab-akibat.

  1. Ukuran kebenaran pengetahuan filsafat.
  2.  menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu®Teori Corespondence  kedaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut.
  3.  Teori ini merupakan suatu usah apengujian (test)®Teori Consistency  atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap relible jika kesan-kesanyang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain.
  4.  Paragmatisme menguji kebenaran dalam praktek®Teori Pragmatisme  yang dikenal apra pendidik sebagai metode project atau medoe problem olving dai dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengmbalikan pribadi manusia di dalamkeseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
  5.  Kebenaran tak cukup hanya diukur dnenga rasion®Kebenaran Religius  dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.
Aksiologi Pengetahuan Filsafat.
Aksiologi filsafat adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam.
  1. Kegunaan pengetahuan filsafat.
  2. Kegunaan filsafat sebagai akidah
Akidah seorang muslim haruslah kuat, dengan kuat akidah akan kuat pula keislamannya secara keseluruhan. Untuk memperkuatnya diperlukan untuk mengamalkan keseluruhan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dan mempertajam pengetahuan islam sendiri. Namun dapatkah filsafat memperkuat pemahaman kita tentang Tuhan ? Kant menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat dipahami melalui akal, Tuhan dapat dipahami melalui suara hati yang disebut moral. Menurut kant akal teoritis tidak melarang kita mempercayai tuhan, kesadaran moral kita memerintahkan untuk mempercayaiNya.
  1. Kegunaan Filsafat bagi Hukum.
Hukum Islami yang dijadikan aturan beramal ada diadalam fiqih sebagai kumpulan hukum yang dibuat berdasarkan kaidah-kaidah hukum yang digunakan untuk menetapkan hukum tersebut. Ternyata kaidah-kaidah pembuatan hukum (ushul fiqih) itu dibuat berdasarkan teori-teori filsafat. Jadi memang benar filsafat sebagai metodologi berguna bagi pengembangan hukum dalam hal ini hukum Islami.
  1. Kegunaan Filsafat bagi Bahasa.
Bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. Tatkala bahasa berfungsi sebagai alat berfikir ilmiah, muncul problem yang serius dan ini diselesaikan antara lain dengan bantuan filsafat. Bahasa sering tidak mampu membebaskan diri dari gangguan pemakainya, kerusakan bahasa tersebut biasanya disebabkan oleh tidak digunakannya kaidah logika, logika itu filsafat. Kekeliruan dalam berbahasa melahirkan kekeliruan dalam berfikir. Untuk itu filsafat sangat berperan dalam menentukan kualitas bahasa. Tanpa peran serta filsafat (logika) kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki.
  1. Cara filsafat menyeleseikan masalah.
Kegunaan filsafat ialah sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia. Sesuai sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Mendalam berarti mencari asal masalah dan universal berarti melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya agar dapat diselesaikan secara efektif.
  1. Cara orang umum menilai.
Kali ini dengan topik dan cara orang umum menilai dan netralisasi filsafat. Terdapat tiga cara orang menilai yaitu menilai berdasarkan ketidaktahuan, menilai dengan pendapat sebagai ukuran dan menilai dengan menggunakan pendapat pakar sebagai alat ukur. Cara yang terbaik adalah yang ketiga yaitu mempelajari secara luas dan mendalam, lantas mengemukakan pendapat berdasarkan pendapat pakar.
Mengenai netralitas filsafat dijelaskan bahwa terdapat kemungkinan netralnya filsafat yaitu pada logika. Untuk membuktikannya adalah dengan menganggap logika esensinya sama dengan matematika. Jika matematika netral, logika juga netral.

Penutup
Dan uraian tersebut di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa apabila dilihat dan sisi obyeknya, maka filsafat ilmu merupakan cabang dan filsafat yang secara khusus membahas proses keilmuan manusia. Dengan bahasa lain dapat dikatakan bahwa obyek substantif dalam filsafat ilmu tersebut di atas pada dasarnya merupakan obyek material, sedangkan obyek instrumentatif adalah obyek formal.
Filsafat adalah usaha untuk memahami atau mengerti dunia dalam hal makna dan nilai-nilai. Pengertian filsafat disederhanakan sebagai proses dan produk, yang mencakup pengertian filsafat sebagai jenis pengetahuan, ilmu, konsep dan para filsuf pada zaman dahulu, teori, sistem tertentu yang merupakan hasil dan proses berfilsafat dan yang mempunyai ciri-ciri tertentu, dan filsafat sebagai problema yang dihadapi manusia.
Filsafat berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula dan sifat dasar alam semesta tempat manusia hidup serta apa yang menjadi tujuan hidupnya. Dengan belajar filsafat, tidak menyebabkan kita untuk berhenti belajar, karena dalam filsafat tidak akan pernah akan dapat mengatakan selesai belajar.

Referensi
Drs. Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.
Prof. Dr. Amsal Bahtiar, M.A. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta : PT. RAJAGRAFINDO PERSADA.
Drs. H. Burhanudin Salam. 2000. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. Jakarta : PT. RINEKA CIPTA.

Penyusun:
Agus Widodo Andriatmoko
Dewi Utami
Iis Fitriana
Ninik Eka Suryani
Sri Parwati

Pengetahuan Sains; tinjauan epistimologi, ontologi, aksiologi
Natural science atau ilmu pengetahuan alam merupakan salah satu istilah yang mengindikasi pada rumpun pengetahuan dimana objek yang dipelajari adalah benda-benda alam atau kehidupan alam sekitar dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dan dimana pun. Contohnya seperti hubungan antar makhluk hidup yang dipelajari dalam biologi, larutan elektrolit yang dibahas dalam pelajaran kimia, ataupun hukum gravitasi, Newton, Archimedes, atau Asas Black yang dijelaskan dalam ilmu fisika.
Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. “Real Science is both product and process, inseparably joint” (Agus. S. 2003: 11)
Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Sains merupakan ilmu yang tidak lepas dari aktifitas kehidupan kita sehari-hari. Tentunya kita sudah terbiasa dengan fenomena-fenomena alam disekitar kita, tetapi tidak sedikit dari kita yang belum memahami bagaimana proses dari fenomena tersebut, bagaimana hukum atau teori yang telah dikemukakan oleh para ilmuwan, dan apakah hakikat dari ilmu sains itu, bagaimana cara sains menyelesaikan masalah, dan apa sajakah manfaat sains dalam kehidupan kita. Hal tersebut akan dibahas lebih luas dan mendalam dalam makalah ini.
  1. A.   ONTOLOGI SAINS
    1. 1.    Hakikat Sains
Pengetahuan sains adalah pengetahuan yang objeknya rasional dan empiris. Yang dimaksud dengan masalah rasional adalah menguji kebenaran hipotesis dengan akal. Apabila bisa diterima dari segi kerasionalannya atau dengan kata lain masuk akal maka hipotesis itu sah. Maksud dari masalah rasional yaitu adanya hubungan sebab akibat. Pada dasarnya cara kerja sain adalah kerja mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain, (Fred N. Kerlinger, 1973). Sedangkan yang dimaksud dengan masalah empiris adalah dengan menguji hipotesis dengan prosedur metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah adalah logico-hypotetico-verificatif (buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis dan ajukan bukti empirisnya).
  1. 2.    Struktur Sains
Secara garis besar sains dibagi menjadi dua cabang yakni sains kealaman dan sains sosial, tetapi dalam struktur sains juga terdapat ilmu yang mendukung dan dijadikan sebagai pelengkap atau humaniora.
1)   Sains Kealaman
Dalam sains kealaman meliputi Astronomi, Fisika, Kimia, Ilmu Bumi, dan Ilmu Hayat.
2) Sains Sosial
Sedangkan dalam sains sosial meliputi Sosiologi, Antropologi, Psikologi, Ekonomi dan Politik.
3) Humaniora sebagai pelengkap
Humaniora meliputi Seni, Hukum, Filsafat, Bahasa, Agama dan Sejarah.
B. EPISTIMOLOGI SAINS
1. Objek Pengetahuan Sains
Objek pengetahuan sains ialah semua objek yang diteliti oleh sains. Semua objek tersebut bersifat empiris. Objek kajian sains meliputi objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia, (Jujun S. Suriasumantri, 1994). Yang dimaksud pengalaman di sini ialah pengalaman indera. Objek yang dapat diteliti oleh sains seperti fenomena-fenomena alam sekitar, manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan.
2. Cara Memperoleh Pengetahuan Sains
Cara memperoleh pengetahuan sains adalah lewat akal. Karena akal dianggap mampu dan setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama yakni logika alami yang ada pada akal setiap manusia.
Berkembangnya sains didorong oleh berkembangnya paham Humanisme yang telah lahir pada zaman Yunani Kuno. Arti dari paham ini adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Kemudian humanisme melahirkan rasionalisme. Rasionalisme yaitu paham yang mengatakan bahwa akal adalah pencari dan pengukur pengetahuan. Empirisme yaitu paham yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris. Sedangkan, Positivisme ialah paham yang mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris dan terukur. Metode ilmiah mengatakan bahwa untuk memperoleh suatu kebenaran maka harus  dilakukan langkah berikut : logico-hypothetico-verificartif. Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis (berdasarkan logika itu), kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris. Metode Ilmiah secara teknis dan rinci dijelaskan dalam satu bidang ilmu yang disebut Metode Riset yang menghasilkan Model-model Penelitian.
3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains
Ukuran kebenaran sains adalah sebuah teori dianggap benar jika dapat ditemukan bukti empiris. Jika jika teori itu selalu didukung bukti empiris, maka teori itu naik tingkat keberadaannya menjadi hukum atau aksioma. Mayoritas, menganggap bahwa hipotesis bersifat kemungkinan, antara yang benar dan yang salah sama besar. Padahal di dalam sains, hipotesis adalah pernyataan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti empirisnya. Hipotesis dianggap benar jika sudah ada keterangan logis, belum atau tidak adanya bukti empiris tidak menyebabkan hipotesis tersebut salah. Dari hal tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa kelogisan suatu hipotesis lebih penting dari pada bukti empirisnya.
C. AKSIOLOGI SAINS
1. Kegunaan Ilmu Sains
Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya pengetahuan sains memiliki nilai guna yang membatu hubungan kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Paling sedikit ada tiga kegunaan teori sains antara lain sebagai alat eksplanasi, sebagai alat peramal dan sebagai alat pengontrol.
a.) Teori Sebagai Alat Eksplanasi
Sains merupakan suatu sistem eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya dalam mempelajari masa lampau, menjalani masa sekarang, serta mempersiapkan untuk masa depan, (T. Jacob, 1993). Menurut teori sains pendidikan, anak-anak yang orang tuanya cerai atau sering disebut broken home, pada umumnya akan berkembang menjadi anak yang nakal. Penyebabnya ialah karena anak-anak itu tidak mendapat pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya. Padahal pendidikan dari kedua orang tua amat penting dalam pertumbuhan anak menuju dewasa.
b.) Teori Sebagai Alat Peramal
Ketika membuat eksplanasi, biasanya para ilmuwan telah mengetahui faktor yang menyebabkan timbulnya suatu gejala. Dari faktor tersebut para ilmuwan dapat membuat sebuah ramalan atau prediksi. Sebagai contoh, jika banyak kasus perceraian antara hubungan rumah tangga, maka dapat diramalkan bahwa kenakalan remaja akan meningkat, meningkatnya aksi anarkis remaja seperti pada kasus geng motor.
c.) Teori Sebagai Alat Pengontrol
Eksplanasi merupakan bahan untuk membuat ramalan atau prediksi dan alat pengontrol. Perbedaan antara prediksi dengan alat pengontrol adalah prediksi lebih cenderung bersifat pasif, karena ketika timbul gejala tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya akan terjadi keadaan atau kondisi tertentu pula. Sedangkan alat pengontrol lebih bersifat aktif terhadap sesuatu keadaan, contohnya kita membuat tindakan efektif yang mampu meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari adanya suatu gejala tersebut.
Kita mengambil contoh seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni jika banyak kasus perceraian maka timbul prediksi kenakalan remaja akan meningkat. Dalam kasus ini kenakalan remaja disebabkan oleh minimnya perhatian orang tua terhadap perkembangan emosional anak mereka, sehingga mereka mencari sendiri guru yang mampu mengajari mereka bagaimana cara bertahan hidup. Untuk mencegah meningkatnya kenakalan remaja yang disebabkan oleh perceraian orang tua mereka, maka harus diadakannya tindakan yang preventif dari kerabat dekat mereka seperti kakek atau nenek, paman atau bibi yang menggantikan peran orang tua mereka. Tindakan inilah yang disebut dengan ilmu sains sebagai alat pengontrol.
2.    Cara Sains Menyelesaikan Masalah
Dalam menyelesaikan masalah ada beberapa langkah di dalam sains yaitu pertama, dengan mengidentifikasi masalah. Dalam mengindentifikasi masalah ini biasanya dilakukan sebuah penelitian untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dan mengetahui secara lebih mendetail pada gejala yang timbul di tengah kehidupan masyarakat. Kedua, dengan mencari teori tentang sebab-akibat yang diambil dari sebuah literatur. Hal ini bertujuan untuk mengetahui beberapa teori yang menjelaskan penyebab dari gejala yang timbul. Ketiga, dengan membaca kembali literatur. Setelah mengetahui penyebab dari gejala yang timbul maka kita harus membaca kembali literartur untuk mengetahui tindakan apa yang paling tepat untuk mengatasi gejala-gejala tersebut.
3.    Netralitas Sains
Netral biasanya diartikan tidak memihak. Dengan kata lain sains disebut netral artinya adalah sains tidak memihak pada kebaikan dan tidak juga pada kejahatan selain itu sains juga tidak memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram, sopan maupun tidak sopan. Sains hanya memberikan nilai benar atau salah. Pengertian tersebut menyebabkan bahwa sains itu netral atau sering diganti dengan istilah sains bebas nilai (value free) bukan terikat nilai (value bound).
Sains dianggap netral memiliki keuntungan dan juga kerugian sebagai berikut, apabila sains sebaiknya netral maka dampak positif yang diberikan adalah perkembangan sains akan cepat terjadi. Hal ini disebabkan karena tidak adanya halangan dalam penelitian ketika memilih objek yang hendak diteliti, cara meneliti dan ketika menggunakan hasil penelitian. Di sisi lain, sebagian orang yang menganggap sains tidak netral, akan membatasi penelitian dalam memilih objek penelitian, cara meneliti ataupun menggunakan produk penelitian.
Suatu contoh ketika kita akan meneliti anatomi dan cara kerja jantung manusia, orang yang beranggapan bahwa sains tidak netral akan mengambil jantung hewan yang paling mirip anatominya dengan jantung manusia, akan meneliti jantung tersebut dengan cara tidak menyakiti hewan penelitiannya, dan menggunakan hasil dari penelitian tersebut hanya untuk kebaikan. Sedangkan, orang yang beraliran sains itu netral, kemungkinan akan mengambil jantung dari seorang tunawisma, tanpa mempedulikan objek penelitiannya merasa menderita atau tidak, serta menggunakan hasil dari penelitian tersebut secara bebas.
Paham sains netral sebenarnya telah melawan atau menyimpang dari maksud penciptaan sains, yang semula sains digunakan untuk membantu manusia dalam menghadapi masalah tetapi ini malah menambah masalah baru. Berdasarkan uraian sederhana sebelumnya, dapat disimpilkan bahwa  yang paling bijaksana adalah kita memihak pada pemahaman bahwa sains tidaklah netral. Sains adalah bagian dari kehidupan, sementara kehidupan secara keseluruhan tidaklah netral.
Oleh:
Desy Novita Ratnasari; Dwi Hartanto; Indawati; Mulas Agus Riani; Sri Susanti.


Pengetahuan Sains; tinjauan epistimologi, ontologi, aksiologi
Natural science atau ilmu pengetahuan alam merupakan salah satu istilah yang mengindikasi pada rumpun pengetahuan dimana objek yang dipelajari adalah benda-benda alam atau kehidupan alam sekitar dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dan dimana pun. Contohnya seperti hubungan antar makhluk hidup yang dipelajari dalam biologi, larutan elektrolit yang dibahas dalam pelajaran kimia, ataupun hukum gravitasi, Newton, Archimedes, atau Asas Black yang dijelaskan dalam ilmu fisika.
Sains (science) diambil dari kata latin scientia yang arti harfiahnya adalah pengetahuan. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu. Sains merupakan produk dan proses yang tidak dapat dipisahkan. “Real Science is both product and process, inseparably joint” (Agus. S. 2003: 11)
Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam. Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhimya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Sains ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.
Sains merupakan ilmu yang tidak lepas dari aktifitas kehidupan kita sehari-hari. Tentunya kita sudah terbiasa dengan fenomena-fenomena alam disekitar kita, tetapi tidak sedikit dari kita yang belum memahami bagaimana proses dari fenomena tersebut, bagaimana hukum atau teori yang telah dikemukakan oleh para ilmuwan, dan apakah hakikat dari ilmu sains itu, bagaimana cara sains menyelesaikan masalah, dan apa sajakah manfaat sains dalam kehidupan kita. Hal tersebut akan dibahas lebih luas dan mendalam dalam makalah ini.
  1. A.   ONTOLOGI SAINS
    1. 1.    Hakikat Sains
Pengetahuan sains adalah pengetahuan yang objeknya rasional dan empiris. Yang dimaksud dengan masalah rasional adalah menguji kebenaran hipotesis dengan akal. Apabila bisa diterima dari segi kerasionalannya atau dengan kata lain masuk akal maka hipotesis itu sah. Maksud dari masalah rasional yaitu adanya hubungan sebab akibat. Pada dasarnya cara kerja sain adalah kerja mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain, (Fred N. Kerlinger, 1973). Sedangkan yang dimaksud dengan masalah empiris adalah dengan menguji hipotesis dengan prosedur metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah adalah logico-hypotetico-verificatif (buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis dan ajukan bukti empirisnya).
  1. 2.    Struktur Sains
Secara garis besar sains dibagi menjadi dua cabang yakni sains kealaman dan sains sosial, tetapi dalam struktur sains juga terdapat ilmu yang mendukung dan dijadikan sebagai pelengkap atau humaniora.
1)   Sains Kealaman
Dalam sains kealaman meliputi Astronomi, Fisika, Kimia, Ilmu Bumi, dan Ilmu Hayat.
2) Sains Sosial
Sedangkan dalam sains sosial meliputi Sosiologi, Antropologi, Psikologi, Ekonomi dan Politik.
3) Humaniora sebagai pelengkap
Humaniora meliputi Seni, Hukum, Filsafat, Bahasa, Agama dan Sejarah.
B. EPISTIMOLOGI SAINS
1. Objek Pengetahuan Sains
Objek pengetahuan sains ialah semua objek yang diteliti oleh sains. Semua objek tersebut bersifat empiris. Objek kajian sains meliputi objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia, (Jujun S. Suriasumantri, 1994). Yang dimaksud pengalaman di sini ialah pengalaman indera. Objek yang dapat diteliti oleh sains seperti fenomena-fenomena alam sekitar, manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan.
2. Cara Memperoleh Pengetahuan Sains
Cara memperoleh pengetahuan sains adalah lewat akal. Karena akal dianggap mampu dan setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama yakni logika alami yang ada pada akal setiap manusia.
Berkembangnya sains didorong oleh berkembangnya paham Humanisme yang telah lahir pada zaman Yunani Kuno. Arti dari paham ini adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Kemudian humanisme melahirkan rasionalisme. Rasionalisme yaitu paham yang mengatakan bahwa akal adalah pencari dan pengukur pengetahuan. Empirisme yaitu paham yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris. Sedangkan, Positivisme ialah paham yang mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris dan terukur. Metode ilmiah mengatakan bahwa untuk memperoleh suatu kebenaran maka harus  dilakukan langkah berikut : logico-hypothetico-verificartif. Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis (berdasarkan logika itu), kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris. Metode Ilmiah secara teknis dan rinci dijelaskan dalam satu bidang ilmu yang disebut Metode Riset yang menghasilkan Model-model Penelitian.
3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains
Ukuran kebenaran sains adalah sebuah teori dianggap benar jika dapat ditemukan bukti empiris. Jika jika teori itu selalu didukung bukti empiris, maka teori itu naik tingkat keberadaannya menjadi hukum atau aksioma. Mayoritas, menganggap bahwa hipotesis bersifat kemungkinan, antara yang benar dan yang salah sama besar. Padahal di dalam sains, hipotesis adalah pernyataan yang sudah benar secara logika, tetapi belum ada bukti empirisnya. Hipotesis dianggap benar jika sudah ada keterangan logis, belum atau tidak adanya bukti empiris tidak menyebabkan hipotesis tersebut salah. Dari hal tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa kelogisan suatu hipotesis lebih penting dari pada bukti empirisnya.
C. AKSIOLOGI SAINS
1. Kegunaan Ilmu Sains
Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya pengetahuan sains memiliki nilai guna yang membatu hubungan kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Paling sedikit ada tiga kegunaan teori sains antara lain sebagai alat eksplanasi, sebagai alat peramal dan sebagai alat pengontrol.
a.) Teori Sebagai Alat Eksplanasi
Sains merupakan suatu sistem eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya dalam mempelajari masa lampau, menjalani masa sekarang, serta mempersiapkan untuk masa depan, (T. Jacob, 1993). Menurut teori sains pendidikan, anak-anak yang orang tuanya cerai atau sering disebut broken home, pada umumnya akan berkembang menjadi anak yang nakal. Penyebabnya ialah karena anak-anak itu tidak mendapat pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya. Padahal pendidikan dari kedua orang tua amat penting dalam pertumbuhan anak menuju dewasa.
b.) Teori Sebagai Alat Peramal
Ketika membuat eksplanasi, biasanya para ilmuwan telah mengetahui faktor yang menyebabkan timbulnya suatu gejala. Dari faktor tersebut para ilmuwan dapat membuat sebuah ramalan atau prediksi. Sebagai contoh, jika banyak kasus perceraian antara hubungan rumah tangga, maka dapat diramalkan bahwa kenakalan remaja akan meningkat, meningkatnya aksi anarkis remaja seperti pada kasus geng motor.
c.) Teori Sebagai Alat Pengontrol
Eksplanasi merupakan bahan untuk membuat ramalan atau prediksi dan alat pengontrol. Perbedaan antara prediksi dengan alat pengontrol adalah prediksi lebih cenderung bersifat pasif, karena ketika timbul gejala tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya akan terjadi keadaan atau kondisi tertentu pula. Sedangkan alat pengontrol lebih bersifat aktif terhadap sesuatu keadaan, contohnya kita membuat tindakan efektif yang mampu meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari adanya suatu gejala tersebut.
Kita mengambil contoh seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni jika banyak kasus perceraian maka timbul prediksi kenakalan remaja akan meningkat. Dalam kasus ini kenakalan remaja disebabkan oleh minimnya perhatian orang tua terhadap perkembangan emosional anak mereka, sehingga mereka mencari sendiri guru yang mampu mengajari mereka bagaimana cara bertahan hidup. Untuk mencegah meningkatnya kenakalan remaja yang disebabkan oleh perceraian orang tua mereka, maka harus diadakannya tindakan yang preventif dari kerabat dekat mereka seperti kakek atau nenek, paman atau bibi yang menggantikan peran orang tua mereka. Tindakan inilah yang disebut dengan ilmu sains sebagai alat pengontrol.
2.    Cara Sains Menyelesaikan Masalah
Dalam menyelesaikan masalah ada beberapa langkah di dalam sains yaitu pertama, dengan mengidentifikasi masalah. Dalam mengindentifikasi masalah ini biasanya dilakukan sebuah penelitian untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dan mengetahui secara lebih mendetail pada gejala yang timbul di tengah kehidupan masyarakat. Kedua, dengan mencari teori tentang sebab-akibat yang diambil dari sebuah literatur. Hal ini bertujuan untuk mengetahui beberapa teori yang menjelaskan penyebab dari gejala yang timbul. Ketiga, dengan membaca kembali literatur. Setelah mengetahui penyebab dari gejala yang timbul maka kita harus membaca kembali literartur untuk mengetahui tindakan apa yang paling tepat untuk mengatasi gejala-gejala tersebut.
3.    Netralitas Sains
Netral biasanya diartikan tidak memihak. Dengan kata lain sains disebut netral artinya adalah sains tidak memihak pada kebaikan dan tidak juga pada kejahatan selain itu sains juga tidak memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram, sopan maupun tidak sopan. Sains hanya memberikan nilai benar atau salah. Pengertian tersebut menyebabkan bahwa sains itu netral atau sering diganti dengan istilah sains bebas nilai (value free) bukan terikat nilai (value bound).
Sains dianggap netral memiliki keuntungan dan juga kerugian sebagai berikut, apabila sains sebaiknya netral maka dampak positif yang diberikan adalah perkembangan sains akan cepat terjadi. Hal ini disebabkan karena tidak adanya halangan dalam penelitian ketika memilih objek yang hendak diteliti, cara meneliti dan ketika menggunakan hasil penelitian. Di sisi lain, sebagian orang yang menganggap sains tidak netral, akan membatasi penelitian dalam memilih objek penelitian, cara meneliti ataupun menggunakan produk penelitian.
Suatu contoh ketika kita akan meneliti anatomi dan cara kerja jantung manusia, orang yang beranggapan bahwa sains tidak netral akan mengambil jantung hewan yang paling mirip anatominya dengan jantung manusia, akan meneliti jantung tersebut dengan cara tidak menyakiti hewan penelitiannya, dan menggunakan hasil dari penelitian tersebut hanya untuk kebaikan. Sedangkan, orang yang beraliran sains itu netral, kemungkinan akan mengambil jantung dari seorang tunawisma, tanpa mempedulikan objek penelitiannya merasa menderita atau tidak, serta menggunakan hasil dari penelitian tersebut secara bebas.
Paham sains netral sebenarnya telah melawan atau menyimpang dari maksud penciptaan sains, yang semula sains digunakan untuk membantu manusia dalam menghadapi masalah tetapi ini malah menambah masalah baru. Berdasarkan uraian sederhana sebelumnya, dapat disimpilkan bahwa  yang paling bijaksana adalah kita memihak pada pemahaman bahwa sains tidaklah netral. Sains adalah bagian dari kehidupan, sementara kehidupan secara keseluruhan tidaklah netral.
Oleh:
Desy Novita Ratnasari; Dwi Hartanto; Indawati; Mulas Agus Riani; Sri Susanti


Iilmu sebagai Aktivitas Penelitian dan Metode Ilmiah
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosophia. Philoo yaitu cinta dalam arti yang luas. Sedangkan Sophia yaitu kebijakan, pengetahuan yang mendalam dan ketrampilan. Filsafat dapat digunakan untuk mempelajari seluruh fenomena kehidupan manusia secara kritis.  Filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang mencari hakekat dari berbagai fenomena kehidupan manusia. Filsafat meliputi pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan (realitas). Filsafat disebut  sebagai Mother of Science atau sumber dari segala pengetahuan. Mengapa dikatakan demikian, karena di dalam filsafat mencangkup berbagai ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, dimana filsafat dibagi menjadi dua bagian yaitu Filsafat Praktis dan Filsafat Teoristis. Filsafat Praktis meliputi norma- norma, urusan rumah tangga dan social politik.  Sedangkan Filsafat Teoristis meliputi ilmu pengetahuan alam, ilmu eksakta dan matematika serta ilmu ketuhanan dan metafisika. Filsafat harus melalui sebuah proses pemikiran, karena filsafat adalah sebuah upaya manusia untuk memahami sesuatu secara sistematis dan kritis. Jadi secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan unutk memperoleh pengetahuan secara ilmiah.
Ilmu kehidupan itu sendiri tak lepas dari masalah atau problematika yang dihadapi oleh manusia. Walaupun sebenarnya, manusia dilahirkan tidak sedikit pun mempunyai masalah. Keadaanya masih suci bagaikan kertas putih yang belum bertuliskan tinta sedikitpun. Namun demikian, masalah adalah kawan sejati bagi kehidupan manusia. Biasanya masalah itu datang disebabkan oleh berbagai hal, misalnya manusia diperbudak oleh hawa nafsunya yang serakah. Tidak pernah merasa cukup dengan apa yang diperoleh, senantiasa mengukur kesuksesan dengan ukuran harta benda. Apabila menghadapi hidup dengan mengikuti hawa nafsunya, maka manusia akan mendapat banyak masalah. Bukan hanya untuk dirinya, bahkan untuk orang lain. Masalah juga datang karena kebodohan. Karena manusia malas sehingga tidak memiliki motivasi  belajar, bertanya dan menimba pengalaman, Ia akan memelihara kebodohan. Orang yang bodoh akan kesulitan menghadapi kebutuhannya sendiri, selalu menunggu uluran tangan dari orang lain, mudah diperdaya orang yang pintar tetapi licik.

  1. A.      Manusia dan Masalahnya Dalam Kehidupan
1.1     Memahami Masalah Menggunakan Ilmu
Apakah masalah itu? Masalah dapat diartikan sebagai suatu yang harus dipecahkan atau dicarikan jalan keluarnya. Selain itu, masalah juga berarti suatu kesenjangan (gap) antara keharusan dan kenyataan. Sesuai dengan perkataan John Locke bahwa “manusia terlahir bagaikan selembar kertas putih yang belum terkena tinta sedikitpun”. Hal ini menyatakan bahwa, manusia pertama kali dilahirkan di dunia belum mempunyai masalah sedikitpun. Tetapi seiring dengan pertumbuhan manusia, masalah demi masalah akan muncul sesuai dengan tingkatannya. Jika seorang manusia memiliki masalah artinya dia sedang hidup. Masalah disini bertujuan untuk mengukur kemampuan manusia dalam pencapaian hidupnya. Sehingga kehidupan manusia selanjutnya menjadi lebih baik. Maka dari itu, manusia dituntut untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuannya, mengasah kecerdasannya sehingga memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang datang menghadapinya.
Ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan pengalaman dan pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara harmonis dalam suatu bangunan teratur. Orang dapat mengambil hikmah dan manfaat dari ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan disusun dari pengalaman- pengalaman dan pengetahuan- pengetahuan yang sudah diuji kebenarannya. Kesulitan manusia dalam menghadapi masalah pada khususnya bersumber dari dua sebab. Pertama, orang kurang tahu caranya  memecahkan masalah itu (kekurangan formal/ metodologik). Kedua, orang kekurangan fakta- fakta yang berhubungan dengan masalah itu (kekurangan materil). Maka dari itu, manusia akan mendapatkan ilmu- ilmu baru dari masalah yang dihadapinya untuk menghadapi masalah selanjutnya di masa depan yang pastinya akan lebih sulit dari sebelumnya.

1.2     Pentingnya Ilmu Dalam Kehidupan Manusia
Di dalam Ilmu pengetahuan terdapat unsur pengalaman- pengalaman dan pengetahuan- pengetahuan yang telah diuji kebenarannya. Orang yang mempunyai banyak pengalaman, umumnya dapat memecahkan masalah lebih mudah daripada orang yang sedikit pengalamannya. Pengalaman memang merupakan pengetahuan yang sangat berharga bagi hidup manusia sehari- hari, terutama yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatannya, baik dalam lapangan social, politik, ekonomi dll. Pengalaman orang pada umumnya sangat terbatas,  baik jenis maupun banyaknya. Sungguh pun begitu, orang dapat mengisi kekurangannya, dapat memperluas cakrawala pengalamannya dengan pengalaman- pengalaman orang lain sehingga pengetahuannya menjadi luas.
Pengetahuan manusia dalam memecahkan masalah muncul karena manusia ingin terbebas dari beban masalahnya. Hanya saja, tidak semua masalah diselesaikan atau dipecahkan dengan pendekatan ilmiah. Manusia setiap hari melakukan berbagai pengamatan terhadap peristiwa yang dihadapinya, tetapi ada yang hanya menyaksikan tingkah laku orang lain atau yang bertindak sebagai subjek dari masalah yang sedang diteliti orang lain. Sebenarnya, setiap masalah itu perlu pemecahan tetapi cara memecahkannya berbeda- beda, dilihat dari tingkat kesulitannya. Sebagai manusia yang setiap hari menghadapi masalah, tentu akan berfikir dengan cara apa dan bagaimana menyelesaikannya. Sementara itu, setiap masalah yang muncul tergolong baru  dan belum ada pengalaman dalam persoalan yang sama. Mencari akar masalah itu merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan oleh manusia. Apabila akar masalah tidak ditemukan, itu berarti antara teori dan realitas sudah berhubungan antara satu dengan lainnya. Yakni adanya konsistensi akurat diantara keduanya. Misal dalam pernyataan berikut: “ jika langit mendung biasanya akan turun hujan; hari ini keadaan langit mendung maka hari ini akan turun hujan. Belum selesai berkata demikian, tiba- tiba turun hujan. Itu berarti antara pernyataan dan kenyataan  sudah konsisten.

1.3     Nilai Ilmu yang Terkandung Dalam Setiap Masalah
Bagi orang yang menghadapi masalah dengan kriteria cukup berat, sedangkan pengalamannya sangat minim, tentu sangat berat untuk mencari solusinya. Seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Seseorang akan mudah putus asa dan merasa dirinya tidak sanggup lagi hidup dengan selalu dihantui  masalah. Akibatnya banyak hal negatif yang terjadi di kehidupan ini jika orang tidak mampu mengatasi masalah hidup. Contohnya, orang akan bunuh diri untuk terbebas dari beban masalahnya atau menjadi stress (gila) karena tekanan batin. Tetapi, jika orang berpengalaman dalam menghadapi masalah, mencari solusinya pun akan lebih mudah. Dalam hal lain, jika seeorang banyak pengalamannya dalam peristiwa yang sama, kemudian menghadapi masalah dalam peristiwa yang sama pula sehingga tampak seperti orang yang tidak bosan ditipu orang lain. Hal itu dapat dikatakan sebagai orang yang bodoh atau kecerdasannya selalu datang belakangan setelah mengalami kejadian yang menyakitkan.
Setiap masalah pasti ada ilmu dan hikmah yang dapat kita ambil. Allah memberikan masalah kepada manusia, itu berarti Allah sayang kepada umatnya. Dengan memahami penyebab dari masalah baru, kita telah mengetahui dan merasakan hikmahnya. Sehingga ada nilai ilmu pembelajaran yang penting guna menjalani kehidupan selanjutnya. Berfikir juga merupakan elemen penting yang menunjang pemahaman manusia terhadap masalah, agar dapat menemukan solusi dalam memecahkan masalah. Dengan ilmu itu, kita akan jadikan sebuah pengalaman untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Ilmu masalah dapat juga digunakan sebagai bahan intropeksi diri agar kita dapat  mengenali sifat, karakter diri kita sehingga mampu mengontrol emosi dan perbuatan dalam berkehidupan.

  1. B.       METODE ILMIAH DALAM PENELITIAN
1.1.  Ilmu sebagai metode ilmiah
Dalam mewujudkan suatu ilmu, harus ada prosedur-prosedur tertentu yang harus dilalui. Prosedur-prosedur itu yang disebut metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada.Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan, analisis, deskripsi, penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai.

1.2.  Ilmu sebagai aktifitas penelitian
Ilmu sebagai aktifitas penelitian merupakan bagian dari kesatuan proses ilmiah yang dialami manusia. rangkaian aktifitas tersebut bersifat rasional, kognitif, dan teologi.
Aktivitas rasional berarti aktivitas yang mengaktifkan daya fikir / penalaran logis dari kemampuan perfikir manusia. sedangkan aktivitas kognitif ini berpusat pada konsep-konsep pengetahuan yang belum pernah dialami oleh manusia. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, penerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal.
dan ilmu sebagai aktivitas teologis berarti ilmu ada sebagai perwujudan dari tujuan-tujuan tertentu. Yang mana para tokoh mencari ilmu untuk meraih tujuan-tujuan mereka.

1.3.  Tahap – tahap penelitian
Penelitian yang menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dilaksanakan dengan tahapan-tahapan berikut :
  1. a.      Tahap orientasi.
Dalam tahap ini, peneliti akan mengumpulkan data secara umum. Orientasi bertujuan untuk mengetahui pemetaan masalah yang akan diteliti sehingga jelas dan terarah. Hal ini dilakukan dengan wawancara dan observasi secara umum dan terbuka untuk memperoleh informasi yang luas tentang objek penelitian.
  1. b.      Tahap eksplorasi.
Tahap ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang lebih spesifik. Observasi dilakukan pada hal-hal yang berhubungan dengan fokus penelitian. Wawancara dilakukan lebih terstruktur dengan mendalam sehingga informasi mendalam dan bermakna bisa diperoleh. Oleh karena itu, diperlukan informasi yang berkepentingan dan mempunyai pengetahuan yang cukup banyak tentang masalah penelitian itu sendiri. Demikian pula, sampel-sampel kualitatif cenderung lebih menjadi purposif daripada acak. Sampel-sampel dalam kajian kualitatif dapat berubah. Seorang informan mengamati suatu kelompok partisipasi yang berbeda, memahami suatu kebudayaan, dan menangkap beberapa segi yang harus diselidiki dan dikaji secara individu (Mathcwe, 1992:47).
  1. c.       Tahap membercheck.
Dalam kegiatan wawancara dan pengamatan, data yang terkumpul dicatat dan dibuat dalam bentuk laporan. Hasilnya dikemukakan untuk dicek kebenarannya. Maksudnya setelah seluruh data yang diinginkan berhasil dikumpulkan, kemudian dilakukan pengecekan dengan benar untuk mencapai keabsahan serta relevansi data dengan permasalahan yang diajukan sebelumnya. Agar hasil penelitiannya sahih (benar), membercheck dilakukan setelah wawancara.
Oleh:
Bandhung Panatas Y.; Erna Yuni Nur Istiana; Lisa Vonnyhumira; Oki Dwi Mahardini; Tri Inda Royani; Nike Dwi C.


Etika Keilmuan
Seperti yang telah kita ketahui bahwa ilmu pengetahuan bukanlah pengetahuan yang datang  dengan sendirinya seperti barang yang sudah jadi, karena ilmu pengetahuan memiliki suatu cara pemikiran yang khusus dengan pendekatan yang khas sehingga menghasilkan pengetahuan yang dapat dibagi, diuji dan dipertanggungjawabkan secara terbuka. Dan dalam dunia keilmuan juga mempunyai etika tersendiri untuk memperolehnya.
Setiap aspek kehidupan memiliki etika yang harus ditaati, demikian pula dalam kehidupan ilmiah memiliki etika yang biasa disebut dengan nama ”etika keilmuan” yang mencakup tentang nilai-nilai yang baik maupun yang buruk, dan mengenai hak serta kewajiban bagi seorang ilmuwan atau mahasiswa. Oleh karena itu kami menyusun makalah ini agar kita mampu memahami tentang etika keilmuan dan menerapkannya dalam kehidupan sosial terutama bagi kita sebagai seorang mahasiswa yang diharuskan mampu memahami dan menerapkan suatu ilmu dengan tepat.
  1. 1.      Etika Keilmuwan
Istilah etika keilmuwan mengantarkan kita pada kontemplasi mendalam, baik mengenai hakekat, proses pembentukan, lembaga yang memproduksi ilmu lingkungan yang kondusif dalam pengembangan ilmu, maupun moralitas dalam memperoleh dan mendayagunakan ilmu tersebut. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.
  1. A.    Etika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga (2005:309), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta tentang hak dan kewajiban moral. Moral yang dimaksudkan di sini adalah akhlak, yakni budi pekerti atau kelakuan makhluk hidup. itu dengan kata lain disebutkan bahwa etika itu membahas tentang perilaku menuju kehidupan yang baik, yang di dalamnya ada aspek kebenaran, tanggung jawab, peran, dan sebagainya.
Dapat diketahui bahwa persoalan etika tidak terlepas dari pengetahuan tentang manusia sebagai makhluk hidup yang sempurna. Jika kembali kepada kata muasalnya, etika berasal dari bahasa Yunani; ethos, yang artinya kebiasaan, perbuatan atau tingkah laku manusia tetapi bukan adat, melainkan adab
  1. B.     Moral
Kata moral identik dengan  suatu tindakan manusia yang bercorak khusus, yaitu didasarkan kepada pengertian mengenai baik-buruk. Berbicara tentang moral seseorang sama dengan membicarakan tentang kepribadian seseorang yang dimaksud. Karena itu, sesungguhnya moral telah membuat posisi manusia berbeda atau lebih sempurna daripada makhluk Tuhan lainnya.
KBBI membuat dua pandangan tentang pengertian moral. Pertama, sebagai ajaran tentang baik-buruk yang diterima akibat perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya oleh manusia. Kedua, kondisi mental yang mebuat orang tetap berani, bergairah, berdisiplin, dan sebagainya, yang berpangkal pada isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan (KBBI, 2005:6-7).
  1. C.    Norma
Norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat kelompok warga di dalam masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan berterima. Norma juga dapat disebutkan sebagai ukuran atau kaidah yang menjadi tolok ukur untuk menilai atau memperbandingkan sesuatu .Misalnya, setiap masyarakat harus menaati suatu tata tertib yang berlaku.
  1. D.    Kesusilaan
Kesusilaan atau susila merupakan bagian kecil dari norma sehingga kita mengenal nama norma susila, yaitu aturan yang menata tindakan manusia dalam pergaulan sosial sehari-hari, seperti pergaulan antara pria dan wanita. Kesusilaan dapat pula menjadi bagian dari adab dan sopan santun.
Di samping empat hal di atas, tinjauan filsafat juga mesti memiliki estetika, yakni mengenai keindahan dan implementasinya dalam kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.
  1. 2.       Problem etika ilmu pengetahuan
Problem adalah suatu masalah, kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain problematika merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatau yang diharapkan dengan baik, agar tercapai tujuan dengan hasil yang maksimal
Disini Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom, tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan. Tanggung jawab etis, merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem, bertanggungjawab pada kepentingan umum, kepentingan pada generasi mendatang, dan bersifat universal. karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkannya.  Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan “menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan, tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, yang sekaligus akan memperkokoh eksistensi manusia.
Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu dicegah perkembangannya, karena sudah kodratnya manusia ingin lebih baik, lebih nyaman, lebih lama dalam menikmati hidupnya. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-teknik  yang semakin kompleks. Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk teknologi – pada masa sekarang tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan manusia, tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi keinginan manusia. Sehingga seolah-olah sekarang ini teknologilah yang menguasai manusia bukan sebaliknya.
Selain daripada itu, meskipun ilmu pengetahuan dengan penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan, tetapi jelas karena sudah menyangkut relasi antar manusia yang bersifat nyata, dan bukan sekedar perbincangan teoritik harus dikendalikan secara moral. Sebab ilmu pengetahuan dan penerapannya yang berupa teknologi  apabila tidak tepat dalam mewujudkan nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan, pengurangan kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak teknologi, kerisauan sosial yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas, penggunaan obat bius yang tak terkendali, pelacuran dan sebagainya. Terjadi pula fenomena depersonalisasi, dehumanisasi, karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk spiritual. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial-politik, karena menguasai ilmu pengetahuan (teknologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan teknologi. Semuanya mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan, antara industriawan selaku produsen dengan konsumen.
Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya, kedua mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan dipelajari. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas, asalkan manusia sendiri yang menyadari keterbatasannya. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah manusia secara mutlak, namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia.
Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya, sebab ilmu pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat rumit ini. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan.
Kemajuan ilmu pengetahuan, dengan demikian, memerlukan visi moral yang tepat. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang diinginkannya, namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Pada dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret, bagaimana keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Moralitas sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret. Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai “kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif, secara nyata sesuai dengan daerah yang ditanganinya.
Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan, ilmu dan etika saling bertautan. Tidak ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan, “apakah sesuatu itu baik atau jahat”. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan, menjelma menjadi “Bagaimana” dari etika. Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang memperbincangkan bagaimana teknik yang mengelola kelakuan manusia. Dengan demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari perorangan, mengenai yang halal dan yang haram. Tetapi berkembag menjadi sesuatu etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang dibangkitkannya sendiri.
Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas, maka etika hanya menyebut peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah, melainkan secara kritis mengajukan pertanyaan, bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil teknologi moderen dan rekayasanya. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Tidak lagi sekedar memberikan isyarat dan pedoman umum, melainkan langsung melibatkan diri dalam peristiwa aktual dan faktual manusia, sehingga terjadi hubungan timbal balik dengan apa yang sebenarnya terjadi.
  1. 3.      Ilmu: Bebas Nilai dan Tidak Bebas Nilai
Ilmu pengetahuan yang dikatakan bebas nilai adalah pada pandangan bahwa ilmu itu berkembang tanpa merujuk pada suatu hukum atau sistem tertentu. Beda dengan teknologi. Karena teknologi lahir atas dasar penciptaan manusia, ia terikat oleh suatu aturan atau sistem, terikat juga dengan selera pasar dan perundang-undangan. Namun, bagaimana mengetahui tentang teknologi, tak diikat oleh undang-undang apa pun. Allah swt. sendiri berfirman untuk memberikan kebebasan bagi hamba-Nya menjelajahi seluruh jagat raya, di bumi dan di langit, yang semua itu hanya bisa dilakukan dengan ilmu.
Akan tetapi, jika kita mengacu kepada pengertian yang ditulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dikatakan ilmu adalah:
“Pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di dalam bidang (pengetahuan) tersebut.” (KBBI, 2005:423)
Dengan pengertian yang diberikan oleh KBBI tercermin bahwa sebuah ilmu mesti memiliki sistemik dan sistematis sehingga terkesan ada hal yang mengingkatnya sebagai suatu nilai.
  1. 4.      Sikap Ilmiah yang Harus Dimiliki Ilmuwan
Sikap dan perilaku sangat penting dalam kehidupan. Setiap tingkah laku, dan perilaku seseorang akan menjadi tolok ukur tentang kepribadian seseorang tersebut. Oleh karena itu, seorang ilmuwan mesti memiliki sikap ilmiah yang mencerminkan dirinya sebagai ilmuwan. Sikap dimaksud bisa berupa rendah diri, tidak sombong atau angkuh, dan selalu menghargai orang lain. Karenanya, seorang yang memiliki ilmu dan sikap yang baik cenderung dikaitkan dengan padi atau kepada seseorang yang memiliki ilmu akan diminta untuk memiliki “ilmu padi” semakin merunduk semakin berisi.
Sikap ilmiah diharapkan dimiliki oleh seorang ilmuwan sebab sesuai dengan pengertiannya bahwa ilmuwan adalah orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu. Ilmuwan dapat pula dikatakan kepada orang yang berkecimpung dalam bidang ilmu pengetahuan.
Kaitannya dalam pembahasan ini, sikap ilmiah dimaksudkan bagi seorang ilmuwan adalah memiliki dan memahami etika, moral, norma, dan kesusialaan.
Diederich mengidentifikasikan 20 komponen sikap ilmiah sebagai berikut :
a. Selalu meragukan sesuatu.
b. Percaya akan kemungkinan penyelesaian masalah.
c. Selalu menginginkan adanya verifikasi eksprimental.
d. Tekun.
e. Suka pada sesuatu yang baru.
f. Mudah mengubah pendapat atau opini.
g. Loyal terrhadap kebenaran.
h. Objektif
i. Enggan mempercayai takhyul.
j. Menyukai penjelasan ilmiah.
k. Selalu berusaha melengkapi penegathuan yang dimilikinya.
l. Dapat membedakan antara hipotesis dan solusi.
m. Menyadari perlunya asumsi.
n. Pendapatnya bersifat fundamental.
o. Menghargai struktur teoritis
p. Menghargai kuantifikasi
q. Dapat menerima penegrtian kebolehjadian dan,
r. Dapat menerima pengertian generalisasi
  1. 5.      Kesimpulan
Ada beberapa sikap yang mesti dimiliki seorang ilmuwan, yakni etika, moral, norma, kesusilaan, dan estetika. Sikap-sikap ini akan mencerminkan kepribadian seorang ilmuwan. Jika sikap-sikap di atas tidak dimiliki, kendati seseorang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi, “derajatnya” akan dipandang rendah oleh masyarakat. Hal ini senada dengan firman Allah swt dalam Q.S. Al-Mujadalah: 11. “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang berilmu pengetahuan bertingkat-tingkat.



Pengetahuan Mistik; Tinjauan epistimologi, ontologi, dan aksiologi
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia, yang terdiri atas dua kata: philos (cinta) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Filsafat disebut sebagai Mother of Science atau induk dari segala ilmu pengetahuan. Dikatakan demikian karena filsafat sendiri memiliki arti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, dimana filsafat dibagi menjadi dua bagian yakni filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis yang mencakup ilmu pengetahuan alam, ilmu eksakta dan matematika serta ilmu tentang ketuhanan dan metafisika sedangkan filsafat praktis mencakup norma-norma, urusan rumah tangga dan sosial politik. Filsafat merupakan sebuah proses dan bukan merupakan sebuah produk, sebab filsafat berarti upaya manusia untuk memahami sesuatu secara sistematis, radikal dan kritis. Jadi secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah.
Pengetahuan sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu pengetahuan filsafat, pengetahuan sains, dan pengetahuan mistik. Dikalangan masyarakat, mistik  dijadikan media untuk menyelesaikan masalah karena didalam mistik itu sendiri ada muatan-muatan kekuatan (magis)  yang ampuh untuk dijadikan jalan keluar. Kadang kala ketentraman jiwa tidak bisa hanya dicapai dengan materi saja, karena banyaknya problem yang dihadapi manusia, sehingga menyebabkan manusia mempunyai Qolbu yang tidak sehat, dengan jalan mistiklah manusia dapat menemukan ketentraman didalam hidupnya melalui pendekatan kepada Tuhan.  Bagaimanapun mistik tidak lepas dari nilai karena pada kenyataannya mistik itu sendiri dapat digunakan dengan hal-hal yang menyimpang dari agama dan norma-norma sosial,  untuk mengetahui mistik itu menyimpang atau tidak kita dapat membedakan mistik dalam magis putih dan hitam.


PENGETAHUAN MISTIK

  1. 1.      Ontologi Pengetahuan Mistik
    1. a.      Hakikat Pengetahuan Mistik
Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinning), tersembunyi (verborgen), gelap (donker), atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Mistik mempunyai arti:
  1. Subsistem yang ada dihampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan, tasawuf, suluk
  2. Hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia biasa
Berdasarkan arti tersebut mistik sebagai sebuah paham yaitu paham mistik atau mistisisme, merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali bagi penganutnya.
Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional, ini pengertian yang umum. Adapun pengertian mistik bila dikaitkan dengan agama ialah pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang Tuhan yang diperoleh dengan cara meditasi atau latihan spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera dan rasio (A.S. Hornby, A Leaner’s Dictonery Of Current English, 1957:828)
Pengetahuan Mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, pengetahuan ini kadang-kadang memiliki bukti empiris tapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris.

  1. b.      Struktur Pengetahuan Mistik
Dilihat dari segi sifatnya, mistik dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
  1.  Mistik Biasa yaitu  mistik tanpa kekuatan tertentu.  Dalam Islam mistik yang ini adalah tasawuf.
  2. Mistik Magis adalah mistik yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya untuk  mencapai tujuan tertentu.  Mistik magis ini dapat dibagi menjadi dua yaitu Mistik magis putih dan Mistik magis hitam.
Dalam prakteknya Mistik magis putih dan hitam, memiliki kegiatan yang relatif sama, nyaris hanya nilai filsafatnya saja berbeda.  Kesamaan itu terlihat dari Mistik magis putih menggunakan wirid, doa’ dan Mistik magis hitam menggunakan mantra, jampi yang keduanya pada segi prakteknya sama.
Mistik magis putih dalam islam contohnya ialah mukjizat, karomah, ilmu hikmah. Mistik magis putih selalu berhubungan dan bersandar pada Tuhan, sehingga dukungan Illahi sangat menentukan. Sedangkan Mistik magis hitam contohnya ialah santet dan sejenisnya yang menginduk kepada sihir.  Mistik magis hitam selalu dekat, bersandar dan bergantung pada kekuatan setan dan roh jahat. Istilah Mistik magis putih dan Mistik magis hitam, digunakan untuk sekedar membedakan kriterianya.  Orang menganggap Mistik magis putih adalah mistik magis yang berasal dari agama langit (Yahudi, Nasrani dan Islam), sedangkan Mistik magis hitam berasal dari dua agama itu.

  1. 2.      Epistimologi Pengetahuan Mistik
    1. a.      Objek Pengetahuan Mistik
Objek pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak supra rasional/ supralogis, seperti alam gaib termasuk Tuhan, Malaikat, Surga, Neraka, Jin dan lain-lain. Termasuk objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supra natural (supra rasional), seperti Kebal, Debus, Pelet, Penggunaan Jin, Santet dan lain-lain.

  1. b.      Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik
Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistis adalah latihan yang disebut dengan riyadhah, dari situ manusia dapat memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan. Pengetahuan mistik itu tidak diperoleh melalui indera dan tindakan juga dengan menggunakan akal rasional. Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa, ada yang mengatakan melalui intuisi, Al-Ghozali mengatakan melalui dhamir atau qalbu.

  1. c.       Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik
Kebenaran mistik dapat diukur dengan berbagai macam ukuran. Bila pengetahuan itu berasal dari tuhan, maka ukurannya adalah teks Tuhan yang menyebutkan demikian. Tatkala tuhan mengatakan dalam Kitab Suci bahwa Surga dan Neraka itu ada, maka teks itulah yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar. Ada kalanya ukuran kebenaran pengetahuan mistik itu kepercayaan. Jadi, suatu dianggap benar karena kita mempercayainya. Kita percaya bahwa jin dapat disuruh oleh kita untuk melakukan pekerjaan, ya kepercayaan itulah yang menjadi kepercayaannya. Ada kalanya kebenaran suatu teori dalam pengetahuan mistik diukur dengan bukti empiris. Dalam hal ini bukti empiris itulah ukuran kebenarannya

  1. 3.      Aksiologi Pengetahuan Mistik
    1. a.      Kegunaan Pengetahuan Mistik.
Pengetahuan mistik itu amat subjektif, yang paling tahu penggunaannya ialah pemiliknya. Dikalangan sufi (pengetahuan mistik biasa) dapat menentramkan jiwa mereka. Pengetahuan mereka seiring dapat menyelesaikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sain dan filsafat.
Jenis mistik lain seperti kekebalan, pelet, debus dan lain-lain diperlukan atau berguna bagi seseorang sesuai dengan kondisi tertentu, terlepas dari benar atau tidak penggunaannya. Kebal misalnya dapat digunakan dalam pertahanan diri, debus dapat digunakan sebagai pertahanan diri dan juga untuk pertunjukan hiburan. Jenis ini dapat meningkatkan harga diri. Sementara mistik magis hitam, dikatakan hitam, antara penggunaanya untuk kejahatan.

  1. b.      Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah
Cara mistik menyelesaikan masalah tentunya dilihat dari macam mistiknya kalau mistik biasa prosesnya dengan pendekatan terhadap Tuhan untuk mendapatkan ketentraman didalam hidupnya, dan mistik magis didalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekuatan rohaniah yang biasanya muncul dari kalangan orang suci, yang selalu mengolah spiritualnya.   Berbagai kekuatan luar dan kondisi alam pun tunduk di bawah tekanan  pancarannya. Dan akhirnya para tokoh dapat merumuskan berbagai formulasi kekuatan rohaniah yang terkandung dalam Kitab suci. Dengan selalu memuji Tuhan dalam suatu bahasa tertentu dan ia memiliki magis tertentu bila dipraktekkan. Kekuatan alampun akhirnya tunduk dibawah sinar ilahi melalui huruf-huruf dan nama indah-Nya. Dengan kalam ilahi inilah jiwa-jiwa ilahi dapat digunakan manusia untuk menyelesaikan masalahnya.
Oleh: Alfri Royada; Erma Erwanti; Ida Siswati; Kus Hervida; Nur Kholis; Susilowati


Pengetahuan Sains; Tinjauan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi
Filsafat ilmu merupakan salah satu mata pelajaran yang dibutuhkan oleh mahasiswa karena dalam mata peajaran tersebut mahasiswa tidak hanya belajar mengenai bagaimana seorang guru harus bersikap terhadap anak didiknya namun bagaimana seorang guru harus bersikap dalam kemasyarakatan yang memiliki suatu sikap dan fikiran yang berbeda satu dengan lainnya. oleh karena itu filsafat ilmu dijadikan “Mother of  Science”  dengan demikian makalah ini kami buat untuk memenuhi kebutuhan dari mahasiswa mengenai filsafat ilmu yang berkaitan dengan pengetahuan sains.
Menyadari pentingnya peran dari filsafat ilmu dalam konteks pengetahuan sains maka makalah ini menyebutkan beberapa hal tentang hakikat dalam pengetahuan sains, ontologi sains, dan epistimologi sains sehinggga diharapkan dapat menembah pengetahuan dan pemikiran-pemikiran yang lebih baik dari sebelumnya tidak hanya para mahasiswa namun juga masyarakat umumnya.
  1. A.                Ontologi Sains
Poedjawijatna  mendifinisikan filsafat sebagai jenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya  bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka, sedangkan Bakry mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis  pengetahuan  yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
  1. 1.           Hakikat pengetahuan Sains
Pertama , maslah rasioanal . Dalam sains , pernyataan atau hipotesis yang dibuat haruslah berdasarkan rasio. Misalnya hipotesis yang dibuat adalah “makan telur ayam berpengaruh positif terhadap kesehatan “. Hal ini berdasrkan rasio : untuk sehat diperlukan gizi, telur ayam banyak mengandung nilai gizi , karena itu , logis bila semakin banyak makan telur  ayam akan semakin sehat.
Hipotesis ini belum diuji kebenarannya. Kebenarannya barulah dugaan. Tetapi hipotesis itu telah mencukupi syarat dari segi kerasionalanya. Kata “rasional “ disini menunjukan adanya hubungan pengaruh atau hubungan sebab akibat.
Kedua , masalah empiris. Hipotesis yang dibuat tadi diuji ( kebenaranya ) mengikuti prosedur metode ilmiah. Untuk  menguji hipotesis ini digunakan metode eksperimen. Misalnya pada contoh hipotesis diatas, pengujianya adalah dengan cara mengambil satu kelompok sebagai sampel, yang diberi makan telur ayam secara teratur selama enam bulan, sebagai kelompok eksperimen. Demikian juga, mengambil satu kelompok  yang lain, yang tidak boleh makan telur  ayam selama enam bulan sebagai kelompok kontrol. Setelah enam bulan , kesehatan kedua kelompok diamati. Hasilnya , kelompok yang teratur makan telur ayam rata-rata lebih sehat.
Setelah terbukti ( sebaiknya eksperimen dilakukan berkali-kali ), maka hipotesis yang dibuat tadi berubah menjadi teori. Teori “ makan telur ayam berpengaruh terhadap kesehatan “ adalah teori yang rasional – empiris. Teori seperti ini disebut sebagai teori ilmiah (scientific theory).
Cara kerja dalam memperoleh teori tadi adalah cara kerja  metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah adalah : logico – hypotheticom – verificatif ( buktikan bahwa itu logis – tarik hipotesis – ajukan bukti empiris ) .
Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab akibat, atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar  sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab . Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional.
  1. 2.           Struktur Pengetahuan Sains
Ahmad Tafsir, membagi sains menjadi dua, yaitu sains kealaman dan sains sosial. Dalam makalh ini hanya ditulis beberapa ilmu.
  1. Sains Kealaman
  • Astronomi
  • Fisika : mekanika, bunyi, cahaya, dan optik, fisika nuklir
  • Kimia : kimia organik, an organik , kimia teknik
  • Ilmu bumi : paleontologi, geofisika, mineralogi, geografi
  • Ilmu hayat : biofisika, botani zoologi
  1. Sains Sosial
  • Sosiologi : sosiologi pendidikan , sosiologi komunikasi
  • Antropologi : antropologi budaya, antroplogi politik, antropologi ekonomi
  • Psikologi : psikologi pendidikan, psikologi anak , psikologi abnormal
  • Ekonomi : ekonomi makro, ekonomi lingkungan
  • Politik : politik dalam negeri, politik hukum, politik internasional

  1. B.                 EPISTIMOLOGI SAINS
  • Pengertian Epistimologi
Epistimologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan . Epistimologi menjelaskan pertanyaan- pertanyaan seperti : bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan ? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Lalu benar itu sendiri apa ? Kriterianya apa saja.

  1. 1.                Objek Pengetahuan Sains
Objek pengetahuan sains (yaitu objek-objek yang diteliti sains ) ialah semua objek yang empiris. Jujun S. Suriasumantri (filsafat ilmu : Sebuah pengantar populer,  1994 : 105 ) menyatakan bahwa objek kajian sains hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud pengalaman disini ialah pengalaman indera.

  1. a.                Indera
Indera digunakan untuk berhubungan dengan dunia fisik atau lingkungan  disekitar kita. Indera ada bermacam-macam ;  yang paling pokok ada lima (panca indera), yakni indera penglihatan(mata) yang memungkinkan kita mengetahui warna, bentuk, dan ukuran suatu benda ; indera pendengaran (telinga ) yang membuat kita membedakan macam-macam suara ; indera penciuman (hidung ) untuk membedakan bermacam-macam bau-bauan ; indera perasa (lidah) yang membuat kita bisa membedakan makanan enak dan tidak enak ; dan indera peraba (kulit ) yang memungkinkan  kita mengetahui suhu lingkungan dan kontur suatu benda.
Pengetahuan lewat indera disebut juga pengalaman, sifatnya empiris dan terukur. Kecenderungan yang berlebih kepada alat indera sebagai sumber pengetahuan yang utama, bahkan satu-satunya sumber pengetahuan, menghasilkan aliran yang disebut empirisme, mengenai kebenaran pengetahuan jenis ini, seorang empiris sejati mengatakan indera adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, dan pengetahuan inderawi adalah satu-satunya pengetahuan yang benar.
Tetapi mengandalkan pengetahuan semat-mata kepada indera jelas tidak mencukupi. Dalam banyak kasus, penangkapan indera seringkali tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Misalnya pensil dimasukan yang dimasukan ke dalam air terlihat bengko padahal sebelumny lurus. Benda yang  jauh terlihat kecil , padahal ukuran sebenarnya lebih besar. Bunyi yang terlalu lemah atau terlalu keras tidak bisa lita dengar. Belum lagi kalau alat indera kita bermasala , sedang sakit  atau sudah rusak, maka kian sulitlah kita mengandalkan indera untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.

  1. b.                Akal
Akal atau rasio merupakan fungsi dari organ yang secara fisik bertempat di dalam kepala yakni otak. Akal mampu menambal kekurangan yang ada pada indera. Akal lah yang bisa memastikan bahwa pensil dalam air itu tetap lurus, dan bentuk bulan tetap bulat walaupun tampaknya sabit. Keunggulan akal yang paling utama adalah kemampuanya menangkap esensi atau hakikat dari sesuatu , tanpa terikatpada fakta-fakta khusus. akal bisa mengetahui hakikat umum dari kucing, tanpa harus mengkaitkanya dengan kucing tertentu yang ada dirumah tetangganya, kucing hitam, kucing garong, atau kucing-kucingan.

  1. c.                 Hati dan Intuisi
Organ fisik yang berkaitan dengan fungsi hati atau intuisi tidak diketahui dengan pasti; ada yang menyebut jantung, ada juga yang menyebut otak bagian kanan. Pada praktiknya, intuisi muncul berupa pengetahuan yang tiba-tiba saja hadir dalam kesadaran, tanpa melaui proses penalaran yang  jelas ,non-analitis, dan tidak selalu logis. Intuisi bisa muncul kapan saja tanpa kita rencanakan , baik saat santai maupun tegang, ketika diam maupun bergerak. Kadang ia datang saat kita tengah jalan- jalan di trotoar, saat kita sedang mandi, bangun tidur, saat main catur, atau saat kita menikmati pemandangan alam.

  1. d.                Logika
Logika adalah cara berfikir atau penalaran menuju kesimpulan yang  benar. Aristoteles memperkenalkan dua bentuklogika yang sekarang kita kenal dengan istilah deduksi dan induksi. Logika deduksi, dikenal juga dengan nama silogisme, adalah menarik kesimpulan.  Dari pernyataan umum atas hal yang khusus. Contoh  terkenal dari silogisme adalah :
  • Semua manusia akan mati (pernyataan umum, premis mayor )
  • Isnur manusia (pernyatan antara ,premis minor)
  • Isnur akan mati (kesimpulan , Konklusi)
Logika induksi adalah kebalikan dari deduksi, yaitu menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus menju pernyataan umum. Contoh :
  • Isnur adalah manusia, dan ia pasti akan mati(pernyataan khusus)
  • Muhamad , Asep, dll adalah manusia, dan semuanya mati (pernyataan antara)
  • Semua manusia akan mati (kesimpulan )
Objek-objek yang dapat diteliti oleh sains banyak sekali : alam, tetumbuhan , hewan, dan manusia, serta kejadian-kejaadian sekitar alam, tetumbuhan, hewan dan manusia itu ; semuanya dapat diteliti oleh sains.

  1. 2.                Cara Memperoleh Pengetahuan Sains
Memperoleh sains didorong oleh paham Humanisme. Humanisme adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Humanisme telah muncul pada zaman Yunani lama (kuno).
Rasionalisme ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuanya diukur dengan akal pula.
Empirisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris. Positivisme  mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis ,ada bukti empirisnya, yang terukur. “terukur” inilah sumbangan penting positivisme. Metode ilmiah mengatakan , untuk memperoleh yang benar dilakukan langkah berikut : logico-hypothetico-verificatif. Maksudnya , mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris.

  1. 3.                Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains
Ada teori sains ekonomi : bila penawaran sedikit , permintaan banyak , maka harga akan naik. Teori ini sangat kuat, karena kuatnya  maka ia ditingkatkan menjadi hukum , disebut hukum penawaran dan permintaan. Jika teori itu selalu didukung bukti empiris, maka teori itu naik tingkat keberadaannya menjadi hukum atau aksioma.
Hipotesis (dalam Sains) ialah pernyataan yang sudah benar secara logika , tetapi belum ada bukti empirisnya.

  • Teori –teori kebenaran :
  1. a.      Korespondesi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta atau kenyataan. Contoh pernyataan “bentuk air selalu sesuai dengan ruang yang ditempatinya”, adalah benar karena kenyataannya demikian. “Kota Jakarta ada di pulau Jawa “ adalah benar karena sesuai dengan fakta (bisa dilihat di peta ). Korespondesi memakai  logika induksi.
  1. b.      Koherensi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila konsisten dengan pernyataan  sebelumnya yang dianggap benar. Contoh pernyataan “Asep akan mati “ sesuai (koheren ) dengan pernyataan sebelumnya bahwa “semua manusia akan mati” dan “Asep adalah manusia”. Terlihat disini, logika yang dipakai dalam koherensi adalah logika deduksi.
  1. c.       Pragmatik
Sebuah pernyataan dikatakan benar jika berguna (fungsional ) dalam situasi praktis. Kebenaran pragmatik dapat menjadi titik pertemuan antara koherensi dan korespondesi. Jika ada dua teori keilmuan yang sudah memenuhi kriteria dua teori diatas , maka yang diambil adalah teori yang lebih mudah dipraktekan. Agama dan seni bisa cocok jika diukur dengan teori kebenaran ini. Agama ,dengan satu peryataannya misalnya “Tuhan ada”, adalah benar secara pragmatik ( adanya Tuhan berguna untuk menopang nilai-nilai hidup manusia dan menjadikanya teratur ), lepas dari apakah Tuhan ada itu sesuai dengan fakta atau tidak, konsisten dengan pernyataan sebelumnya atau tidak.
D.AKSIOLOGI  SAINS
Menurut bahasa Yunani , aksiologi berasal dari kata Axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Jadi , aksiologi adalah teori tentang nilai. Berikut ini dijelaskan beberapa definisi aksiologi.
Menurut Suriasumantri (1990:234) aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang  diperoleh.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia(1995:19) aksiologi adalah ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.

Menurut Wibisono (dalam Surajiyo, 2009:152) aksiologi adalah nilai-nilai sebagai tolak ukur kebenaran, etika dan moral sebagai dasar normatif penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu. Aksiologi adalah ilmu  yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat,  dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkanya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dijalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan dijalan yang tidak benar. Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan  oleh masyarakat  dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana.

  1. 1.           Kegunaan Pengetahuan Sains

  1. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak, dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran dan kesucian.
  2. Nilai sebagai kata benda konkret. Contohnya, ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai. Ia sering dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai , seperti nilainya atau nilai dia.
  3. Nilai juga dipakai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai atau dinilai.

Dari definisi aksiologi diatas ,terlihat dengan jelas bahwa permasalahan utama  adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika.
Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika dimana makna etika memiliki dua arti yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia ddan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan perbuatan , tingkah laku, atau yang lainya.
Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung  pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolok ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapatindividu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya , nilai menjadi subjektif ,apabila subjek berperan dalam memberi penilaian , kesadaran manusia menjadi tolok ukur penilaian . dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka , senang atau tidak senang.
Kemudian bagaimana dengan nilai dalam ilmu pengetahuan. Perkembangan  dan kemajuan ilmu pengetahuan telah menciptakan berbagai bentuk kemudahan bagi manusia. Namun apakah hal itu selalu demikian? Bahwa ilmu pengetahuan dan teknologinya merupakan berkah dan penyelamat bagi manusia, terbebas dari kutuk yang membawa malapetaka dan kesengsaraan? Memang mempelajari teknologi seperti bom atom , manusia bisa memanfaatkan  wujudnya sebagai sumber energi bagi keselamatan umat manusia, tetapi dipihak lain hal ini bisa juga berakibat sebaliknya, yakni membawa manusia pada penciptaan bom atom yang menimbulkan malapetaka. Menghadapi hal yang demikian , ilmu pengetahuan yang pada esensinya mempelajari alam sebagaimana adanya, mulai dipertanyakan untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Berkenaan dengan nilai guna ilmu, tak dapat dibantah lagi bahwa ilmu itu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manisia, dengan ilmu seseorang dapat mengubah wajah dunia.
Berkaitan dengan hal ini, menurut Francis Bacon seperti yang dikutip oleh Jujun.S.Sumantri yaitu bahwa “pengetahuan adalah kekuasaan “ apakah kekuasaan itu merupakan berkat atau justru malapetaka bagi umat manusia. Memang kalaupun terjadi malapetaka yang disebabkan  oleh ilmu, bahwa kita kita tidak bisa mengatakan bahwa itu merupakan kesalahan ilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya, lagipula ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak mengenal baik buruk melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakanya.
Yang dimaksud teknik disini adalah penerapan ilmu  dalm berbagai pemecahan masalah yang terjadi tujuan ialah bukan saja untuk mempelajari dan memahami berbagai faktor yang berkaitan dengan masalah-masalah manusia, tetapi juga untuk mengontrol dan mengarahkanya. Hal ini berakhirnya babak awal ketersinggungan ilmu dengan moral. Pada  masa selanjutnya , ilmu kembali dikaitkan dengan masalah moral yang berbeda. Yaitu berkaitan dengan penggunaan pengetahuan ilmiah. Maksudnya terdapat beberapa penggunaan teknologi yang justru merusak kehidupan manusia itu sendiri. Dalam menghadapi masalah ini, para ilmuwaan terbagi menjadi dua pandangan. Kelompok pertama memandang bahwa ilmu harus bersifat netral dan terbebas dari berbagai masalah yang dihadapi pengguna. Yang dimaksud teknik disini adalah penerapan ilmu dalam berbagai pemecahan masalah. Yang menjadi tujuan ialah bukan masalah-masalah manusia , tetapi juga untuk mengontrol. Dalam hal ini tugas ilmuwan adalah meneliti dan menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain  akan menggunakan  pengetahuan tersebut atau tidak , atau digunakan untuk tujuan yang baik atau tidak.

Kelompok lainya memandang  bahwa netralitas ilmu hanya pada proses penemuan ilmu saja. Dan tidak pada hal penggunaanya . Bahkan pada pemilihan bahan penelitian , seorang ilmuawan harus berlandaskan pada nilai-nilai moral. Kelompok ini mendasarkan pandangannya pada beberapa hal, yakni :
  1. Sejarah telah membuktikan bahwa ilmu dapat digunakan sebagai alat penghancur peradapan , hal ini dibuktikan dengan  banyaknya perang yang menggunakan teknologi-teknologi keilmuwan.
  2. Ilmu telah berkembang dengan pesat dan para ilmuwan lebih mengetahui akibat-akibat yang mungkin terjadi serta pemecahan -pemecahanya , bila terjadi penyalahgunaan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas , maka kelompok kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat manusia.
Berbicara masalah ilmu dan moral memang sudah sangat tidak asing lagi, keduanya memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Ilmu bisa menjadi malapetaka kemanusiaan jika seseorang yang memanfaatkan nya “tidak bermoral “ atau paling tidakmengindahkan nilai-nilai moral yang ada. Tapi sebaliknya ilmu akan menjadi rahmat bagi kehidupan manusia secara benar dan tepat , tentunya tetap mengindahkan  aspek moral. Dengan demikian kekuasaan ilmu ini mengharuskan seseorang ilmuwan yang memiliki landasan moral yang kuat, ia harus tetap memegang ideologi dalam mengembangkan dan memanfaatkan keilmuwannya. Tanpa landasan dan pemahaman terhadap nilai-nilai moral, maka seorang ilmuwan bisa menjadi “monster” yang setiap saat bisa menerkam manusia, artinya bencana kemanusiaan bisa setiap saat terjadi. Kejahatan yang dilakukan  oleh orang  yang berilmu itu jauh lebih jahat dan membahayakan dibandingkan kejahatan orang  yang tidak berilmu (bodoh). Kita berharap semoga hal ini bisa disadari oleh para ilmuwan , pihak pemerintah,  dan pendidik agar dalam proses transformasi ilmu pengetahuan tetap mengindahkan aspek moral. Karena ketangguhan suatu bangsa bukan hanya ditentukan oleh ketangguhan  ilmu pengetahuan tapi juga oleh ketangguhan moral warga. Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata yunani yaitu : axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai.
  1. 2.           Cara sains Menyelesaikan Masalah
Yaitu  pertama ,ia mengidentifikasi masalah. Kedua ,ia mencari teori tentang sebab-sebab masalah tersebut. Ketiga ,ia kembali membaca literature lagi.

  1. 3.           Netralitas Sains
Menurut John Sinclair , dalam lingkup kajian filsafat  nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial, agama.
Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah polemik baru karena kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut sebagai  Netralitas pengetahuan (value free) . Sebaliknya ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value baound. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai
  1. A.     Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
  1. Pengetahuan sains adalah pengetahuan yang bersifat rasional empiris.
  2. Sruktur sains dibagi menjadi sains kealaman dan sains sosial.
  3. Filsafat adalah pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu sedalam-dalamnya sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentan g bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
  4. Filsafat terdiri atas tiga cabang besar, yaitu : Ontologi, epistimologi, dan Aksiologi.
  5.  Sains merupakan ilmu yang bersifat rasional empiris yakni sesuai logika dan teori sesuai dengan kenyataan, sedangkan filsafat adalah ilmu yang hanya logis tapi tidak empiris.
Disusun oleh:
AINI AROFAH                                1088203
DEVY EKASARI                              1088203
ERMA ALMITASARI                      1088203
IKA HANDARINI                            1088203
NUR FITRIANI                                   108803061
SUPRAPTO                                         1088203


Bahasa sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
Setiap masyarakat atau individu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, agar komunikasi yang dilakukan berjalan dengan lancar. Maka diperlukan pemahaman bahasa dan harus menguasai bahasa tersebut. Hal itu melatarbelakangi disusunnya makalah sederhana ini, dengan tujuan untuk mengetahui apakah arti bahasa, posisi bahsa sebagai sarana berfikir ilmiah, serta kelebihan dan kekurangan bahasa. Dengan tujuan agar kita dapat lebih memahami bahasa dan menghindari terjadinya kerapuhan bahasa yang disebabkan karena arus globalisasi. Banyak orang yang menyalahi aturan bahasa Indonesia serta banyak pula yang terpengaruh akan adanya globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga mereka beranggapan bahwa bahasa Indonesia bukanlah bahasa yang bisa dikatakan bahasa gaul dan juga terlalu formal. Situasi semacam itu yang dapat menyebabkan bahasa menjadi punah.
Tanpa bahasa, manusia tak ada bedanya dengan anjing atau monyet.
Ungkapan novelis Inggris Aldous Huxley (1894-1963) di atas menyuratkan bahwa bahasa (verbal) teramat signifikan bagi manusia. Bahasa, sebagaimana akal atau pikiran, itulah yang mencirikan manusia dan membedakannya dari makhluk-makhluk lain.
Penulis akan mengawali pembahasan ini dengan mendedahkan apa yang dimaksud dengan berpikir ilmiah. Arkian, barulah penulis secara berturut-turut membincangkan hal-ihwal pengertian dan fungsi bahasa, posisi bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah, struktur bahasa dan kosakata, ciri-ciri bahasa ilmiah, serta kelebihan dan kelemahan bahasa.
A. Definisi Bahasa
Bahasa adalah sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana komunikasi serta sebagai sarana integrasi dan adaptasi.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi bahasa menurut para ahli:
 BILL ADAMS
Ø
Bahasa adalah sebuah sistem pengembangan psikologi individu dalam sebuah konteks inter-subjektif.
 WITTGENSTEIN
Ø
Bahasa merupakan bentuk pemikiran yang dapat dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur yang logis.
 FERDINAND DE SAUSSURE
Ø
Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain.
 PLATO
Ø
Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut.
 BLOCH
Ø & TRAGER
Bahasa adalah sebuah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama.
 CARROL
Ø
Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia.
 SUDARYONO
Ø
Bahasa adalah sarana komunikasi yang efektif walaupun tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan bahasa sebagai sarana komunikasi menjadi salah satu sumber terjadinya kesalahpahaman.
 Mc. CARTHY
Ø
Bahasa adalah praktik yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir.
 WILLIAM A. HAVILAND
Ø
Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu.
Bila dilihat dari beberapa definisi dan pengertian mengenai bahasa menurut beberapa ahli diatas, kita bisa melihat bahwa terdapat perbedaan definisi tentang bahasa dimana definisi dari setiap ahli tergantung dengan apa yang ingin ditekankan oleh setiap tersebut. Namun meskipun terdapat perbedaan, nampaknya disepakati bersama bahwa bahasa adalah alat komunikasi. Dan sebagai alat komunikasi , bahasa mempunyai fungsi-fungsi dan ragam-ragam tertentu.
Pengertian dan Fungsi Bahasa
Banyak definisi tentang bahasa, tetapi di sini penulis hanya akan mengemukakan tiga definisi yang selaras dengan diskusi ini. Jujun Suparjan Suriasumantri menyebut bahasa sebagai serangkaian bunyi dan lambang yang membentuk makna. Lebih lengkapnya, bahasa adalah “a systematic means of communicating ideas of feeling by the use of conventionalized signs, sounds, gestures, or marks having understood meanings”. Dalam KBBI, diterakan bahwa bahasa ialah “sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri”. Definisi-definisi bahasa tersebut menekankan bunyi, lambang, sistematika, komunikasi, dan alat.
Alhasil, bahasa memiliki tujuh ciri sebagai berikut:
1. Sistematis, yang berarti bahasa mempunyai pola atau aturan.
2. Arbitrer (manasuka). Artinya, kata sebagai simbol berhubungan secara tidak logis dengan apa yang disimbolkannya.
3. Ucapan/vokal. Bahasa berupa bunyi.
4. Bahasa itu simbol. Kata sebagai simbol mengacu pada objeknya.
5. Bahasa, selain mengacu pada suatu objek, juga mengacu pada dirinya sendiri. Artinya, bahasa dapat dipakai untuk menganalisis bahasa itu sendiri.
6. Manusiawi, yakni bahasa hanya dimiliki oleh manusia.
7. Bahasa itu komunikasi. Fungsi terpenting dari bahasa adalah menjadi alat komunikasi dan interaksi.
Fungsi-fungsi bahasa dikelompokkan jadi ekspresif, konatif, dan representasional. Dengan fungsi ekspresifnya, bahasa terarah pada si pembicara; dalam fungsi konatif, bahasa terarah pada lawan bicara; dan dengan fungsi representasional, bahasa terarah pada objek lain di luar si pembicara dan lawan bicara. Fungsi-fungsi bahasa juga dibedakan jadi simbolik, emotif dan afektif. Fungsi simbolik menonjol dalam komunikasi ilmiah, sedangkan fungsi afektif menonjol dalam komunikasi estetik.
B. Posisi Bahasa Sebagai Sarana Berfikir Ilmiah
Sebelum membahas tentang posisi bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah, kita harus terlebih dahulu mengetahui definisi dari beberapa istilah yang berhubungan dengan sarana berfikir ilmiah di bawah ini:
Berpikir Ilmiah
Berpikir merupakan kegiatan [akal] untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Berpikir ilmiah adalah kegiatan [akal] yang menggabungkan induksi dan deduksi. Induksi adalah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat umum ditarik dari pernyataan-pernyataan atau kasus-kasus yang bersifat khusus; sedangkan, deduksi ialah cara berpikir yang di dalamnya kesimpulan yang bersifat khusus ditarik dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum.
Induksi berkaitan dengan empirisme, yakni paham yang memandang rasio sebagai sumber kebenaran. Sementara itu, deduksi berkarib dengan rasionalisme, yaitu paham yang memandang fakta yang ditangkap oleh pengalaman manusia sebagai sumber kebenaran.
Sarana Berpikir Ilmiah
Berpikir ilmiah dan kegiatan-kegiatan ilmiah bertujuan memperoleh pengetahuan yang benar atau pengetahuan ilmiah. Untuk mencapai tujuan tersebut, kita manusia jelas memerlukan sarana atau alat berpikir ilmiah. Aktivitas keilmuan tidak akan maksimal tanpa sarana berpikir ilmiah tersebut.
Sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi langkah-langkah (metode) ilmiah, atau membantu langkah-langkah ilmiah, untuk mendapatkan kebenaran. Dengan perkataan lain, sarana berpikir ilmiah memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah dengan baik, teratur dan cermat. Oleh karena itu, agar ilmuwan dapat bekerja dengan baik, dia mesti menguasai sarana berpikir ilmiah.
Struktur Bahasa dan Kosakata
Tata bahasa ialah kumpulan kaidah tentang struktur gramatikal bahasa. Lebih lanjut, Charlton Laird memberikan tata bahasa sebagai alat dalam mempergunakan aspek logis dan kreatif dari pikiran untuk mengungkapkan makna dan emosi dengan memakai aturan-aturan tertentu.
Selain struktur atau tata bahasa, yang penting pula dikuasai oleh ilmuwan adalah kosakata dan maknanya. Sebab, yang disampaikan oleh pembicara atau penulis kepada lawan bicaranya atau pembacanya sejatinya ialah makna (informasi, pengetahuan).
Tata bahasa, kosakata dan makna inilah yang kerap menimbulkan persoalan dalam kegiatan ilmiah lantaran kelemahan inheren bahasa. Seandainya para ilmuwan tidak cukup menguasai tata bahasa, kosakata dan makna, persoalan-persoalan dalam kegiatan ilmiah akan semakin sulit.
Ciri-ciri Bahasa Ilmiah
Dalam komunikasi ilmiah, tentu yang dipakai adalah bahasa ilmiah, lisan maupun tulisan. Bahasa ilmiah berbeda dengan bahasa sastra, bahasa agama, bahasa percakapan sehari-hari, dan ragam bahasa lainnya. Bahasa sastra sarat dengan keindahan atau estetika. Sementara itu, bahasa agama merupakan bahasa kitab suci yang preskriptif dan deskriptif.
Bahasa ilmiah memiliki ciri-ciri tersendiri, yaitu informatif, reproduktif atau intersubjektif. Informatif berarti bahwa bahasa ilmiah mengungkapan informasi atau pengetahuan. Informasi atau pengetahuan ini dinyatakan secara eksplisit dan jelas untuk menghindari kesalahpahaman.
Maksud ciri reproduktif adalah bahwa pembicara atau penulis menyampaikan informasi yang sama dengan informasi yang diterima oleh pendengar atau pembacanya.
Slamet Iman Santoso mengimbuhkan bahwa bahasa ilmiah itu bersifat deskriptif (descriptive language). Artinya, bahasa ilmiah menjelaskan fakta dan pemikiran; dan pernyataan-pernyataan dalam bahasa ilmiah bisa diuji benar-salahnya.
C. Kelebihan dan Kekurangan Bahasa
 Kelebihan Bahasa
v
1. Bahasa sebagai system, artinya bahasa berfungsi apabila unsur-unsurnya atau komponen-komponennya tersusun dengan pola.
2. Bahasa itu bermakna, artinya bahwa bahasa adalah sistem lambang yang berwujud bunyi. Maka yang dilambangkan itu adalah suatu pengertian, konsep, ide, atau pikiran.
3. Bahasa itu unik, artinya setiap bahasa mempunyai cirri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Misalnya salah satu keunikan bahasa Indonesia adalah tekanan kata tidak bersifat morfemis tetapi sintaksis.
4. Bahasa itu dinamis, artinya bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat.
5. Bahasa itu bervariasi, artinya bahasa digunakan oleh sekelompok orang yang termasuk dalam masyarakat bahasa.
 Kekurangan Bahasav
Pertama, bahasa mempunyai multifungsi (ekspresif, konatif, representasional, informatif, deskriptif, simbolik, emotif, afektif) yang dalam praktiknya sukar untuk dipisah-pisahkan.
Kedua, kata-kata mengandung makna atau arti yang tidak seluruhnya jelas dan eksak. Misalnya, kata “cinta” dipakai dalam lingkup yang luas dalam hubungan antara ibu-anak, ayah-anak, suami-istri, kakek-nenek, sepasang kekasih, sesama manusia, masyarakat-negara. Banyaknya makna yang termuat dalam kata “cinta” menyulitkan kita untuk membuat bahasa yang tepat dan menyeluruh. Sebaliknya, beberapa kata yang merujuk pada sebuah makna—bahasa bersifat majemuk atau plural.
Ketiga, bahasa acap kali bersifat sirkular (berputar-putar). Jujun mencontohkan kata “pengelolaan” yang didefinisikan sebagai “kegiatan yang dilakukan dalam sebuah organisasi”, sedangkan kata “organisasi” didefinisikan sebagai “suatu bentuk kerja sama yang merupakan wadah dari kegiatan pengelolaan”.
D. KESIMPULAN
Bahasa membantu ilmuwan berpikir ilmiah, yaitu berpikir induktif dan deduktif. Dengan perkataan lain, bahasa menjadi alat baginya untuk menarik kesimpulan-kesimpulan induktif maupun deduktif. Bahasa memungkinkan ilmuwan melaksanakan silogisme dan menarik kesimpulan atau pengetahuan ilmiah.
Di akhir makalah ini, jelaslah bagi kita bahwa bahasa menjadikan manusia sebagai makhluk yang lebih maju ketimbang makhluk-makhluk lainnya. Jelaslah pula bahwa, di satu sisi, bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang sangat bermanfaat bagi aktivitas-aktivitas ilmiah. Di sisi lain, bahasa tidak alpa dari kelemahan-kelemahannya yang merintangi pencapaian tujuan dari aktivitas-aktivitas ilmiah. Kelemahan-kelemahan bahasa ini barangkali akan ditutupi oleh kelebihan-kelebihan dari dua sarana berpikir ilmiah lainnya, yaitu matematika dan statistika.
Disusun oleh :
1. DESY ASISKA (10.88203.006)
2. MEYLA ARUM KUSUMAWARDANI (10.88203.020)
3. MIFTAKHUL RAHMI HANDAYANI (10.88203.021)
4. ODDIE KESUMAJAYA (10.88203.027)
5. VINA SETYARINI (10.88203.034)
Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian dan Metode Ilmiah
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan. Filsafat ilmu adalah keinginan yang mendalam untuk mendapatkan kebijakan dalam bidang keilmuan yang dialami.
Sebagai kalangan akademisi kita selalu berhubungan dengan aktivitas penelitian dan metode ilmiah. Dalam kedua hal tersebut membutuhkan ilmu. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pemahaman mengenai hal tersebut, kami selaku tim penyusun memutuskan untuk menulis makalah dengan judul “Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian & Metode Ilmiah”. Selain hal diatas ilmu juga dibutuhkan manusia dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di dalam kehidupan. Maka penting sekali materi ini untuk kita bahas secara mendalam.

Makna Ganda Ilmu
Dari segi maknanya, pengertian ilmu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal, yaitu pengetahuan, aktivitas dan metode. Di antara para filsuf dari berbagai aliran terdapat pemahaman umum bahwa ilmu adalah suatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan. The Foundations of Science (Sheldon J. Lachman.1969) memberikan batasan tentang ilmu yaitu: “Science refers primarily to those systematically organized bodies of accumulated knowledge concerning the universe which have been derived exclusively through tecniques of objective observation. The content of science, then, consist of organized bodies of data”.(Ilmu menunjukkan kumpulan-kumpulan yang disusun secara sistematis dari pengetahuan yang dihimpun tentang alam semesta yang melulu diperoleh melalui teknik-teknik pengamatan yang obyektif. Dengan demikian, maka isi ilmu terdiri dari kumpulan-kumpulan teratur dari data).
Pengetahuan yang sesungguhnya hanyalah hasil atau produk dari suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia dengan kata lain aktivitas. Charles Singer merumuskan bahwa ilmu itu adalah proses yang membuat pengetahuan. Pemahaman ilmu sebagai proses atau rangkaian aktivitas juga dikemukakan oleh John Warfield yang menegaskan demikian:“But science is also viewed as a process. The process orientation is most relevant to a concern for inquiry, since inquiry is a major part of science as a process” (Social System : Planning, Policy and Complexity, 1976). (Tetapi, ilmu juga dipandang sebagai suatu proses.  Pandangan proses ini paling bertalian dengan sutau perhatian terhadap penyelidikan, karena penyelidikan adalah suatu bagian besar dari ilmu sebagai suatu proses).Oleh karena ilmu dapat dipandang sebagai suatu bentuk aktivitas manusia, maka dari makna ini orang dapat melangkah lebih lanjut untuk sampai pada metode dari aktivitas itu. Menurut Harold H. Titus dalam bukunya Living Issues in Philosophy; An Introductory Textbook, 1964, banyak orang telah mempergunakan istilah ilmu untuk menyebut suatu metode guna memperoleh pengetahuan yang obyektif dan dapat diperiksa kebenarannya (a method of obtaining knowledge that is objective and verifiable).
Demikianlah makna ganda dari pengertian ilmu. Tetapi, pengertian ilmu sebagai pengetahuan, aktivitas, atau metode itu bila ditinjau lebih mendalam sesungguhnya tidak saling bertentangan. Bahkan sebaliknya, ketiga hal itu merupakan kesatuan logis yang mesti ada secara berurutan. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis.
Ilmu dapat dipahami dari 3 sudut, yakni ilmu dapat dihampiri dari arah aktivitas para ilmuwan atau dibahas mulai dari segi metode atau dimengerti sebagai pengetahuan yang merupakan hasil yang sudah sistematis. Pemahaman yang lengkap akan tercapai kalau ketiga segi itu diberi perhatian yang seimbang
Pemahaman yang tertib tentang ilmu akan menghasilkan tiga ciri pokok yaitu sebagai rangkaian kegiatan manusia atau proses, sebagai tata tertib tindakan pikiran atau prosedur, dan sebagai keseluruhan hasil yang dicapai atau produk. Berdasarkan ketiga kategori proses, prosedur, dan produk yang semuanya bersifat dinamis (tidak ada yang statis), ilmu dapat dipahami sebagai aktivitas penelitian, metode kerja, dan hasil pengetahuan. Dengan demikian, pengertian ilmu selengkapnya berarti aktivitas penelitian, metode ilmiah, dan pengetahuan sistematis.
Ketiga pengertian ilmu itu saling bertautan logis dan berpangkal pada satu kenyataan yang sama bahwa ilmu hanya terdapat dalam masyarakat manusia. Dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan ,  makna ganda daripada ilmu yakni : ilmu merupakan rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan.
Ilmu sebagai Aktivitas Penelitian
Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal saja, melainkan sutau rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional, kognitif, dan teleologis.
Aktivitas rasional berarti kegiatan yang mempergunakan kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitas berdasarkan perasaan atau naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis dari pengamatan empiris.
Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan intelektualnya, manusia melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional yang selanjutnya melahirkan ilmu. Menurut Bernard Barber pemikiran rasional atau rasionalitas manusia merupakan sumber utama dari ilmu. Dikatakannya bahwa “the germ of science in human society lies in man’s aboriginal and unceasing attempt to understand and control the world in which he live by the use of rational thought and activity”. (benih ilmu dalam masyarakat manusia terletak di dalam usaha manusia yang tak henti-hentinya dan asli pembawaannya untuk memahami dan menguasai dunia tempat ia hidup dengan menggunakan pemikiran dan aktivitas rasional).
Ciri penentu yang kedua dari kegiatan yang merupakan ilmu ialah sifat kognitif, bertalian dengan hal mengetahui dan pengetahuan. Filsuf Polandia Ladislav Tondl menyatakan bahwa science terutama berarti conscious and organized cognitive activity (aktivitas kioginitf yang teratur dan sadar). Dijelaskannya lebih lanjut demikian :
“Tujuan-tujuan terpenting ilmu bertalian dengan apa yang telah dicirikan sebagai fungsi pengetahuan atau kognitif dari ilmu, dengan fungsi itu ilmu memusatkan perhatian terkuat pada pemahaman kaidah-kaidah yang tak diketahui sebelumnya dan baru atau pada penyempurnaan keadaan pengetahuan dewasa ini mengenai kaidah-kaidah demikian itu”. Jadi pada dasarnya ilmu adalah proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, pencerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal.
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masing-masing ilmuwan.
Rangkaian aktivitas pemikiran yang rasional dan kognitif untuk menghasilkan pengetahuan, mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, dan melakukan peramalan, pengendalian, atau penerapan itu dilaksanakan oleh seseorang yang digolongkan sebagai ilmuwan. Setiap ilmuwan sejati bertugas melakukan penelitian dan mengembangkan ilmu. Hal ini ditegaskan dalam The International Encyclopedia of Higher Education yang mendefinisikan ilmuwan sebagai seseorang yang melakukan penelitian ilmiah dan penelitian ilmiah diartikan sebagai penelitian yang dilaksanakan untuk memajukan pengetahuan.
Ilmu Sebagai Metode Ilmiah
Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan itu seringkali dipakai istilah metode ilmiah (scientific method).
Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada. Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan, analisis, deskripsi, penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai.
Oleh karena ilmu merupakan suatu aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah pemikiran yang logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat erat dengan logika. Dengan demkikian, prosedur-prosedur yang tergolong metode logis termasuk pula dalam ruang lingkup metode ilmiah. Ini misalnya ialah deduksi, abstraksi, penalaran analogis, analisis logis.
Selanjutnya, metode ilmiah meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib. Dalam kepustakaan metodologi ilmu tidak ada kesatuan pendapat mengenai jumlah, bentuk, dan urutan langkah yang pasti.
Sheldon J. Lachman mengurai metode ilmiah menjadi 6 langkah yang berikut : 1) Perumusan pangkal-pangkal duga yang khusus atau pernyataan-pernyataan yang khusus untuk penyelidikan. 2) Perancangan penyelidikan itu 3) Pengumpulan data. 4) Penggolongan data. 5) Pengembangan generalisasi-generalisasi. 6) Pemeriksaan kebenaran terhadap hasil-hasil, yaitu terhadap data dan generalisasi-genralisasi.
George Abell merumuskan metode ilmiah sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu yang mencakup 3 langkah berikut: 1) Pengamatan gejala-gejala atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan. 2) Perumusan pangkal-pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala ini, dan yang bersesuaian dengan kumpulan pengetahuan yang ada. 3) Pengujian pangkal-pangkal duga ini dengan mencatat apakah mereka secara memadai meramalkan dan melukiskan gejala-gejala baru atau hasil-hasil dari percobaan-percobaan yang baru.
Metode ilmiah lain dikemukakan oleh J. Eigelberner yang mencakup 5 langkah sebagai berikut: 1) Analisis masalah untuk menetapkan apa yang dicari, dan penyusunan pangkal-pangkal duga yang dapat dipakai untuk memberi bentuk dan arah pada telaah penelitian. 2) Pengumpulan fakta-fakta yang bersangkutan. 3) Penggolongan dan pengaturan data agar supaya menemukan kesamaan-kesamaan, uruttan-urutan, dan hubungan-hubungan yang ada. 4) Perumusan kesimpulan-kesimpulan dengan memakai proses-proses penyimpulan yang logis dan penalaran. 5) Pengujian dan pemeriksaan kebenaran kesimpulan-kesimpulan itu.
Walaupun pendapat para ahli mengenai metode ilmiah dirumuskan secara berbeda-beda, ada 4 – 5 langkah yang merupakan pola umum yang senantiasa dilaksanakan dalam penelitian. Langkah-langkah baku itu ialah penentuan masalah, perumusan hipotesis atau pangkal duga bila dianggap perlu, pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan pengujian atau verifikasi hasil.
Tata langkah tersebut di muka melibatkan berbagai konsep dalam metode ilmiah. Konsep adalah ide umum yang mewakili sesuatu himpunan hal yang biasanya dibedakan dari pencerapan atau persepsi mengenai suatu hal khusus satu per satu. Konsep merupakan alat yang penting untuk pemikiran utama dalam penelitian ilmiah.
Pengertian metode tidak pula sama dengan tehnik. Metode ilmiah adalah berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian ilmiah. Pola dan tata langkah prosedural itu dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan tehnis yang lebih terinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan tehnik. Jadi, tehnik adalah sesuatu cara operasional tehnis yang seringkali bercorak rutin, mekanis, atau spesialistis untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian.
Dari hal-hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, kegiatan penelaahan atau proses penelitian yang merupakan ilmu itu mengandung prosedur, yakni serangkaian cara dan langkah tertentu yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam istilah dunia keilmuan dikenal sebagai metode atau sering disebut metode ilmiah. Metode merupakan ciri penentu yang kedua dan dengan demikian ilmu dapat pula dibahas, dipahami, dan dijelaskan sebagai metode
Manusia dan Masalahnya dalam Kehidupan
Masalah diartikan  sebagai suatu yang harus dipecahkan atau dicarikan jalan   keluarnya.  Sepanjang hidupnya, seorang manusia pasti pernah berhadapan dengan yang namanya “masalah”, apakah berupa adanya kesenjangan atau adanya sesuatu yang harus dicarikan jalan keluarnya. Masalah memang menjadi bagian dari hidup manusia. Jika seorang manusia memiliki masalah artinya dia sedang hidup. Dengan adanya masalah kepribadian seseorang justru akan semakin berkembang melalui usaha belajar.
Prayitno (2003) menyebutkan bahwa sesuatu dirasakan sebagai masalah atau tidak bergantung kepada jawaban tiga pertanyaan berikut: 1) Apakah sesuatu itu tidak disukai adanya? 2) Apakah sesuatu itu ingin ditiadakan keberadaannya? 3) Apakah sesuatu itu (berpotensi) menimbulkan kesulitan dan atau kerugian?
Jika jawabannya adalah “YA” maka jelas sesuatu itu adalah masalah dan masalah manusia sesungguhnya amat beragam, baik dilihat segi jenis, ukuran dan sifat maupun ruang lingkupnya. Ada masalah yang tergolong berat-ringan, besar-kecil, personal-umum, sederhana-kompleks, disadari tidak disadari, dan sebagainya.
Dalam mempersepsi dan memaknai tentang suatu masalah setiap orang akan berbeda-beda. Bagi seseorang, sesuatu itu bisa saja dianggap masalah, sementara bagi orang lain bukan masalah, atau sebaliknya. Demikian juga, bagi seseorang sesuatu itu merupakan masalah kecil atau ringan, tetapi dipersepsi dan dimaknainya sebagai suatu masalah yang berat dan besar atau justru sebaliknya.
Terkait dengan masalah-masalah psikologis yang dihadapi individu, pada umumnya individu yang bersangkutan kurang atau bahkan sama sekali tidak menyadarinya Misalkan, orang yang sombong kadang-kadang tidak menyadari kesombongannya, demikian juga orang yang malas kadang-kadang tidak menyadari kemalasannya, sehingga cenderung untuk membiarkannya dan menjadi semakin kronis. Berbeda dengan masalah yang bersifat fisik, jika seseorang mendapatkan masalah fisik, misalnya dia mengalami sakit perut, orang itu dengan mudah menyadari bahwa dirinya mempunyai masalah dengan perutnya, sehingga dia berupaya untuk segera menghilangkannya dengan cara membeli obat atau datang ke dokter, misalnya.
Secara garis besarnya, masalah-masalah yang dihadapi individu bersumber dari dua faktor, yaitu faktor dari dalam diri individu sendiri dan faktor lingkungan. Ketika kehidupan masih relatif sederhana, masalah-masalah yang muncul pun cenderung bersifat sederhana, namun sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia yang serba modern seperti sekarang ini, masalah-masalah yang muncul pun tampaknya semakin kompleks, termasuk di dalamnya masalah yang berkaitan dengan psikologis.
Bagaimana mengatasi masalah? Upaya untuk mengatasi masalah-masalah atau mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi dapat dilakukan melalui berbagai cara, baik yang dilakukan sendiri maupun melaui bantuan orang lain. Bantuan orang lain biasanya diperlukan manakala masalah yang dihadapinya dianggap terlalu berat dan sudah tidak mungkin lagi ditanggulangi oleh dirinya sendiri. Meski menggunakan jasa bantuan orang lain, keputusan dan aktivitas penyelesaian masalah sebenarnya terletak pada individu yang bersangkutan.
Beberapa tips untuk menyelesaikan masalah: 1) Bersikap realistis dan objek terhadap sesuatu yang dianggap masalah sehingga bisa melihat masalah secara proporsional. 2) Jika Anda banyak menghadapi, urutkan masalah-masalah tersebut berdasarkan skala prioritas penanganannya. Masalah-masalah yang dipandang ringan dan dapat diatasi sendiri secara cepat, segeralah selesaikan, kemudian coret dari daftar urutan masalah Anda. Jika menghadapi satu atau beberapa masalah yang dianggap berat, maka pikirkanlah apakah masih mungkin diselesaikan sendiri atau perlu bantuan pihak lain. 3) Jika Anda menganggap masalah itu masih bisa ditanggulangi sendiri, gunakanlah cara-cara rasional dan logis (ilmiah) untuk menyelesaikannya. Permasalahan yang diselesaikan melalui cara-cara irrasional mungkin hanya akan menghasilkan kegagalan dan semakin memperparah keadaan. 4) Jika Anda memandang perlu bantuan pihak lain, carilah orang yang tepat dan dapat dipercaya. Kesalahan dalam menentukan pihak orang lain untuk dilibatkan dalam masalah Anda, mungkin malah semakin menambah beban masalah Anda.5) Belajarlah kepada orang-orang yang telah berhasil menyelesaikan masalah-masalah yang serupa dengan masalah Anda dan temukan kunci suksesnya dalam menyelesaikan masalah. 6) Kesabaran dan kesungguhan Anda dalam menyelesaikan setiap masalah menjadi penting, karena mungkin apa yang Anda usahakan tidak langsung dapat menghasilkan penyelesaian secara cepat. Dengan kata lain, upaya penyelesaian masalah tidak seperti makan cabe rawit, begitu dimakan terasa pedasnya di lidah, dalam hal ini perlu waktu dan proses. 7) Tentunya Anda harus tetap berdoa memohon pertolongan yang Maha Kuasa, sebagai kekuatan spiritual Anda, dan yakinkan dalam diri Anda bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan tuhan tidak akan memberikan masalah kepada seseorang diluar kemampuannya.
Singkatnya, bahwa dalam menyelesaikan suatu masalah dibutuhkan kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual. (Akhmad Sudrajat, 2008. Manusia dan masalahnya)
Metode Ilmiah dalam Penelitian
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut, pertama, Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran). Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti. Selain itu, proses ini juga dapat melibatkan proses penentuan (definisi) dan pengamatan; pengamatan yang dimaksud seringkali memerlukan pengukuran dan/atau perhitungan yang cermat. suatu teori ilmiah. Kedua, Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran). Hipotesis ilmiah mencoba mengutarakan jawaban sementara dari masalah yang akan diteliti. Ketiga, Prediksi (prediksi logis dari hipotesis). Hasil yang diramalkan oleh prediksi tersebut haruslah belum diketahui kebenarannya (apakah benar-benar akan terjadi atau tidak). Hanya dengan demikianlah maka terjadinya hasil tersebut menambah probabilitas bahwa hipotesis yang dibuat sebelumnya adalah benar. Keempat, Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas). Hasil eksperimen tidak pernah dapat membenarkan suatu hipotesis, melainkan meningkatkan probabilitas kebenaran hipotesis tersebut. Hasil eksperimen secara mutlak bisa menyalahkan suatu hipotesis bila hasil eksperimen tersebut bertentangan dengan prediksi dari hipotesis.
Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.  Hakekat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian.
Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.
Proses penelitian adalah sebagai berikut: 1) Masalah penelitian  mencakup: penemuan  masalah dan pemecahan masalah terhadap identifikasi bidang permasalahan, pemilihan atau pemilihan pokok masalah dan perumusan masalah kajian teoritis menyusun kerangka teoritis yang menjadi dasar untuk menjawab masalah atau pertanyaan penelitian. 2) Pengujian fakta (data) mencakup: pemilihan, pengumpulan dan analisis fakta yang terkait dengan masalah yang diteliti data: sekumpulan fakta yang diperoleh melalui pengamatan (observasi) atau survei. kesimpulan merupakan hasil penelitian yang memberi feed back pada masalah atau pertanyaan penelitian.
Penutup
Dari paparan di atas dapat kami simpulkan bahwa ilmu itu merupakan  suatu  rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan. Ilmu sangat dibutuhkan dalam aktivitas penelitian dan metode penelitian, selain itu ilmu juga suatu  hal yang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam kehidupan manusia. Pada intinya  ilmu digunakan dalam berbagai aktivitas penelitian dan metode ilmiah, selanjutnya hasil dari penelitian dan metode ilmiah tersebut digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam kehidupan. Dan dalam  menyelesaikan suatu  masalah dibutuhkan kecerdasan intelektual, emosional, sosial dan spiritual.
Penyusun
  • Arien Maharani Kuncoro;
  • Ety Kusumaningsih;
  • Intan Sevianawati;
  • Nurngaini;
  • Umul Asminingrum;
  • Viviana Eka Heri Stianta

Metode Pembelajaran “Magic Ball”

  1. Kegiatan ini lebih diarahkan diluar ruangan (outdoor)
  2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
  3. Dibagi dalam beberapa kelompok. Idealnya sekitar 5-7 orang. Tiap kelompok mempunyai nama masing-masing misalnya nama pahlawan. Contohnya kelompok Pattimura, kelompok soekarno, dan lain-lain. Tiap kelompok membuat bebrapa pertanyaan yang berhubungan dengan nama kelompoknya.
  4. Guru memberi sebuah bola plastik atau kertas yang dibuat seperti bola pada salah satu kelompok.
  5. Kelompok yang mendapat bola memperkenalkan diri selanjutnya bola dilempar lagi pada kelompok lain.
  6. Kelompok yang mendapatkan bola serta dapat pertanyaan dari kelompok pelempar bola. Waktu berfikir 5 menit kemudian menjawab pertanyaan dari kelompok tadi. Sebelum dijawab kelompok harus memperkenalkan diri.
  7. Setelah menjawab bola kembali dilempar pada kelompok lain. Langkah selanjutnya sama seperti langkah nomor 6.
  8. Setelah emua kelompok mendapat kesempatan melempar, memberi pertanyaan, dan menjawab guru menyampaikan kesimpulan.
  9. Evaluasi.
  10. Penutup
Oleh: Anggit


Metode Pembelajaran “Who Knows”
  1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
  2. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 6-10 orang.
  3. Guru menyuruh tiap kelompok untuk membuat yel-yel dalam waktu 5 menit.
  4. Guru membuat soal-soal untuk dijawab perkelompok. Soal terdiri dari 2 bagian yaitu soal kuota (untuk masing-masing kelompok) dan soal rebutan.
  5. Jawaban tiap kelompok diberi skor 4 jika menjawab benar dan jika menjawab salah skor dikurangi 1.
  6. Jika kelompok menjawab benar, kelompok akan meneriakkan yel-yel. Tapi jika salah kelompok lain akan meneriakkan “hhuuuuu…” pada kelompok yang menjawab salah.
  7. Guru mengumumkan pemenang berupa kelompok yang mendapat skor tertinggi dan skor terendah. Bagi kelompok pemenang diharuskan meneriakkan yel-yek dan bagi yang kalah mendapat teriakan “huuu” dari kelompok lainnya.
  8. Guru menarik kesimpulan.
  9. Evaluasi
Oleh: Anggit

Metode Pembelajaran “Time Line”
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
  1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
  2. Kelas dibagi dalam beberapa kelompok tiap kelompok 4-5 orang.
  3. Tiap kelompok diberi sepaket kartu yang telah disiapkan oleh guru. Kartu seukuran kartu domino, sepaket berisi 6 kartu. Sepaket kartu merupakan kronologis dari suatu peristiwa sejarah yang ditulis intinya saja.
  4. Kelompok diberi instruksi untuk menyusun kartu berdasarkan kronologis dan menganalisanya. Penyusunan dengan cara diurutkan.
  5. Hasil analisa selanjutnya dipresentasikan didepan kelas.
  6. Guru menarik kesimpulan.
  7. Evaluasi
Oleh: Anggit